Desa Wisata Tinalah: Menyatu dengan Alam, Menelusuri Jejak Sejarah di Kaki Menoreh

Desa Wisata Tinalah
Desa Wisata Tinalah (Foto: Pemdes Tinalah).
-

Tidak ada video disisipkan.

BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Kabut pagi perlahan turun di kaki Pegunungan Menoreh ketika langkah pertama menjejak Desa Wisata Tinalah. Udara sejuk menyentuh kulit, suara sungai mengalir pelan, dan hijaunya pepohonan seolah mengajak siapa pun untuk berhenti sejenak, menarik napas lebih dalam, lalu melepaskan penat yang selama ini tertahan. Di sinilah alam, budaya, edukasi, dan sejarah berpadu tanpa dibuat-buat, hadir apa adanya.

Terletak di Samigaluh, Kulon Progo, sekitar satu setengah jam perjalanan dari pusat Kota Yogyakarta ke arah barat laut, Desa Tinalah menawarkan pengalaman liburan yang berbeda. Bukan sekadar datang untuk berfoto, tetapi benar-benar “turun dari layar” dan kembali menyatu dengan alam. Jalan desa yang berkelok, rumah-rumah warga yang sederhana, serta sapaan ramah penduduk menjadi sambutan hangat sejak awal kedatangan.

Sungai Tinalah mengalir jernih di tengah desa, menjadi nadi kehidupan sekaligus ruang bermain alami bagi wisatawan. Di tepian sungai inilah tenda-tenda sering berdiri. Camping di Tinalah bukan hanya soal bermalam di alam terbuka, tetapi juga tentang mendengar suara air dan serangga malam, berbagi cerita di sekitar api unggun, dan bangun pagi dengan cahaya matahari yang menembus sela dedaunan. Banyak pengunjung menyebut momen ini sebagai cara paling jujur untuk menyembuhkan lelah dari rutinitas kota.

Siang hari, aliran Sungai Tinalah mengajak wisatawan untuk lebih dekat. Menyusuri sungai, bermain air, atau tubing menjadi aktivitas favorit, terutama bagi keluarga dan rombongan. Arusnya tenang, airnya dingin dan bersih cukup untuk memberi sensasi segar tanpa rasa khawatir. Tawa anak-anak dan gemericik air berpadu menciptakan suasana yang sulit ditemukan di tempat lain.

Namun Tinalah bukan hanya tentang alam. Desa ini juga menyimpan jejak penting sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Di kawasan Pegunungan Menoreh, tokoh-tokoh besar seperti Ki Hajar Dewantara dan Mohammad Hatta pernah menjadikan wilayah ini sebagai tempat persembunyian. Melalui jalur edukasi sejarah, wisatawan diajak menelusuri kisah-kisah tersebut, belajar bahwa sunyinya desa ini pernah menjadi saksi denyut perjuangan bangsa.

Baca Juga:

Desa Wisata Cangkuang, Permata Tenang di Garut yang Tawarkan Wisata Sejarah dan Tradisi Lokal

Aktivitas edukatif lain pun tumbuh berdampingan dengan kehidupan desa. Wisatawan dapat mengenal pertanian organik, melihat proses kerajinan lokal, hingga mencoba kegiatan outbound seperti flying fox dan tracking alam. Desa Tinalah kerap menjadi tujuan studi wisata bagi pelajar, komunitas, hingga kegiatan outing kantor yang ingin belajar sambil berpetualang.

Bagi yang ingin tinggal lebih lama, homestay di rumah-rumah warga menawarkan pengalaman yang hangat dan personal. Malam hari diisi dengan obrolan ringan, secangkir wedang uwuh, atau hidangan khas desa seperti sayur lompong dan gudeg daun pepaya yang dimasak langsung oleh ibu-ibu setempat. Rasa masakannya sederhana, namun penuh cerita dan keakraban.

Sebagai bagian dari gerakan pariwisata budaya Yogyakarta dan Gerakan Sambanggo, sebuah ajakan untuk menyambangi kawasan pegunungan dan menggerakkan ekonomi kreatif lokal Desa Wisata Tinalah tumbuh dengan semangat kebersamaan. Pariwisata di sini bukan tentang keramaian, melainkan tentang perjumpaan: dengan alam yang lestari, sejarah yang membumi, dan kehidupan desa yang tulus.

Di Tinalah, liburan bukan hanya soal pergi jauh, tetapi tentang pulang sejenak ke kesederhanaan, tempat jiwa diajak beristirahat, dan pikiran kembali segar sebelum melangkah lagi.

Baca berita lainnya di Google News dan Whatsapp Channel
Berita Terkait
Berita Terkini
IMG-20260724-WA0004
PLN UP3 Majalaya Dukung Gerakan Jum'at ASRI, Perkuat Semangat Gotong Royong Jelang HUT ke-81 RI
bank bjb Imbau Nasabah Untuk Tetap Waspadai Modus Penipuan Digital, Pastikan Berkomunikasi Melalui Kanal Resmi
bank bjb Imbau Nasabah Untuk Tetap Waspadai Modus Penipuan Digital, Pastikan Berkomunikasi Melalui Kanal Resmi
WhatsApp Image 2026-07-22 at 11.48
Swiss-Belresort Dago Heritage Bandung Hadirkan HANA Japanese Pop Up Kitchen, Pengalaman Bersantap Omakase Eksklusif
IMG-20260721-WA0006
DPRD Kota Bekasi Minta Dinkes Perketat Pengawasan Puskesmas Usai Dua Kasus Pelayanan Kesehatan
IMG-20260721-WA0003
PLN UP3 Majalaya Perkuat Keandalan Listrik Jelang Piala Presiden 2026, Wujud Komitmen Melayani Negeri pada HUT ke-81 RI
Berita Lainnya

1

Tips Mengobati Luka Melepuh Akibat Gigitan Tomcat, Jangan Digaruk!

2

Woodyland Eatery Kafe Baru di Bandung Mengusung Tema Magical Forest Rest!

3

Cegah Zoonosis, Pemkot Bandung Gelar Vaksinasi Hingga Sterilisasi Hewan Peliharaan Gratis di Kelurahan Ciumbuleuit

4

Sejumlah Ruko di Pasar Soreang Ambruk, Petugas Lakukan Evakuasi

5

Headline
IMG-20260724-WA0010
Ketua DPRD Bekasi Ingatkan WTP Bukan Akhir, Pengawasan Internal Harus Diperkuat
IMG-20260724-WA0009
Topananda: Bekasi Butuh Program Pemuda yang Berkelanjutan, Bukan Sekadar Seremonial
IMG-20260723-WA0002
DPRD Kota Bekasi Percepat Pembahasan Raperda Pencegahan Penyimpangan Seksual
IMG-20260723-WA0001
Abdul Muin Serap Aspirasi Warga, Banjir hingga Kesempatan Kerja Jadi Perhatian