BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Candi Plaosan tak lagi diposisikan sekadar sebagai peninggalan masa lalu. Pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan mulai merancang masa depan situs ke-8 ini sebagai ruang hidup budaya yang relevan dengan zaman, berkelanjutan secara ekonomi, dan terbuka bagi kolaborasi lintas sektor.
Hal tersebut ditandai dengan peresmian pengembangan Situs Candi Plaosan Tahap I oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, Rabu (21/1/2026), di kawasan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Peresmian dilakukan dengan pengguntingan pita, didampingi Kepala Museum dan Cagar Budaya (MCB) atau Indonesian Heritage Agency (IHA), Indira Esti Nurjadin.
Tahap awal pengembangan difokuskan pada penataan infrastruktur dasar pelayanan publik, meliputi pembangunan pintu masuk kawasan (entrance), area parkir bus, mobil, dan sepeda motor, serta fasilitas toilet. Penataan ini menjadi fondasi penting sebelum kawasan dikembangkan lebih jauh sebagai destinasi budaya bangsa.
“Cagar budaya seperti Candi Plaosan tidak boleh berhenti sebagai artefak masa lalu. Ia harus hidup, berkelanjutan, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat hari ini dan masa depan,” ujar Fadli Zon dalam sambutannya.
Reimajinasi Warisan, Bukan Sekadar Renovasi
Fadli Zon menekankan bahwa penataan Candi Plaosan bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan bagian dari upaya reimajinasi warisan budaya. Menurutnya, lanskap yang tertata akan memperkuat makna budaya dan meningkatkan pengalaman pengunjung tanpa mengorbankan prinsip pelestarian.
Ia juga menyoroti pentingnya pemanfaatan teknologi dalam pemugaran cagar budaya. Sebagai perbandingan, pemugaran satu candi perwara di Kompleks Prambanan membutuhkan waktu hingga 11 bulan, sementara jumlah perwara mencapai ratusan.
“Jika menggunakan pendekatan konvensional, pemugaran bisa memakan waktu puluhan tahun. Karena itu, teknologi harus menjadi bagian dari solusi,” katanya.
Baca Juga:
Menguak Misteri Sentuhan Yunani Kuno di Relief Candi Pawon
Tak Banyak yang Tahu, Candi Barong dan Dawangsari Ternyata Simbol Toleransi Sejak Zaman Kuno!
Branding “Harmony in Diversity”
Kepala MCB, Indira Esti Nurjadin, menjelaskan bahwa pengembangan Candi Plaosan berpijak pada narasi dan branding “Harmony in Diversity”. Candi Plaosan dinilai merepresentasikan nilai harmoni dalam keragamannya. Baik dari sisi agama, pengetahuan, teknologi, hingga kearifan lingkungan, yang relevan dengan konteks Indonesia masa kini.
“Pengembangan ini dirancang untuk mengoptimalkan potensi pemanfaatan Candi Plaosan sebagai ruang edukasi spiritual, budaya, dan interaksi publik,” ujar Indira.
Dalam rencana jangka menengah dan panjang, penataan kawasan akan mencakup area inti candi (mandapa), zona religius untuk yoga dan meditasi, area publik untuk kegiatan budaya dan sosial, ruang santai dan swafoto, penataan pinggiran sungai, hingga zona pendukung seperti kantor pengelola dan pintu keluar kawasan.
Kolaborasi Publik-Swasta
Pengembangan Candi Plaosan juga menjadi contoh konkret kolaborasi publik dan swasta. Pada Desember 2025, MCB menerima hibah dari Djarum Foundation untuk pemugaran lima candi perwara Plaosan.
Fadli Zon mengapresiasi keterlibatan sektor non-pemerintah dalam pelestarian budaya dan mendorong agar kemitraan serupa terus diperluas, termasuk pelibatan komunitas dan pelajar.
“Memajukan kebudayaan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Perlu keterlibatan swasta, filantropi, komunitas, bahkan siswa SMK dalam proses pemugaran dan edukasi,” ujarnya.
Dorong Ekonomi dan Identitas Daerah
Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, menilai pengembangan Candi Plaosan berpotensi besar menggerakkan sektor pariwisata dan ekonomi lokal. Ia optimis terhadap Plaosan yang dapat menjadi ikon budaya Indonesia di tingkat global.
“Candi Plaosan memiliki keunikan akulturasi Hindu dan Buddha yang tidak dimiliki situs lain. Ini kekuatan besar untuk Klaten dan Indonesia,” katanya.
Dengan pengembangan bertahap dan pendekatan berkelanjutan, Candi Plaosan diarahkan menjadi lebih dari sekadar destinasi wisata yang melibatkan ruang dialog antara masa lalu, masa kini, dan masa depan kebudayaan Indonesia.
(Magang UIN Sunan Gunung Djati Bandung/Robby Nuzula Ramadhan)











