Cermati Akulturasi Islam dan Budaya Melayu Melalui Tradisi “Tepung Tawar”

Foto - Web -

Bagikan

JAKARTA, TM.id : “Tepung tawar” merupakan bukti jejak akulturasi sejarah islam dan kebudayaan Melayu di Langkat, Sumatera Utara.

“Salah satu tradisi khas Melayu yang sampai kini masih terjaga adalah tradisi ‘tepung tawar’,” terang Pengamat budaya dari Sumatera Utara Mahyar Diani, melansir Antara, Kamis (22/12/2022).

Menurutnya, setelah islam menyebar di Tanah Melayu, corak kebudayaan orang Melayu yang dahulu bersifat Hindu-Buddha berubah menuju kebudayaan islam (Junaidi 2014:2).

“Islam dan budaya Melayu adalah jejak sejarah akulturasi yang damai dan indah,” kata alumnus Magister Ilmu Antropologi Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut.

Pengaruh islam terhadap kebudayaan Melayu dapat ditemukan dalam tradisi, pemikiran, dan kesusastraan Melayu hingga akhirnya islam dijadikan asas utama kebudayaan Melayu.

Salah satu warisan budaya Melayu yang secara jelas memperlihatkan perpaduan islam dan kebudayaan Melayu adalah “tepung tawar”.

Bagi masyarakat Melayu Langkat, katanya, tradisi “tepung tawar” adalah bagian penting dalam rangkaian proses upacara adat.

Tradisi itu merupakan prosesi dan simbolik (artefak) yang diwariskan pendahulu kemudian diturunkan ke generasi berikutnya hingga sampai saat ini.

Bagi masyarakat Melayu, sambung dia, terlibat aktif dalam setiap upacara yang mengandung nilai tradisi adat seperti syukuran, pernikahan, dan khitanan termasuk tradisi “tepung tawar” adalah kebiasaan yang sudah menjadi adat.

Berdasarkan penuturan salah seorang tokoh masyarakat Kabupaten Langkat, Ibnu Hajar (81) atau yang biasa disapa Atuk/Atok Olong Benu, tradisi “tepung tawar” biasa dilakukan di berbagai upacara adat atau perayaan penting, misalnya pernikahan, khitan, syukuran, akikah, dan sejenisnya.

Untuk melaksanakan tradisi “tepung tawar”, paparnya, ada beberapa rangkaian yang harus diperhatikan, yaitu perlengkapan ramuan penabur, ramuan ‘rinjisan’, dan “pedupaan”.

Setiap bahan diambil dari jenis-jenis tumbuhan tertentu yang mempunyai arti serta diiringi selawat nabi dan rebana marhaban saat proses “tepung tawar” berlangsung.

“Para tetua (leluhur) terdahulu memaknai tradisi ‘tepung tawar’ sebagai perpaduan nilai religius dan nilai budaya yang diyakini sebagai ‘sesuatu yang suci’ (memiliki makna khusus kebahagiaan, keselamatan, kebaikan, kekuatan), dan ‘adi-kodrati’,” jelas dia.

Ia menambahkan tradisi “tepung tawar” tidak lagi dimaknai sebagai sesuatu yang berkaitan dengan nilai religius atau perantara hubungan manusia dengan sang pencipta, namun dilihat sebagai nilai “warisan harta budaya” yang berharga.

“Kini ‘tepung tawar’ dimaknai sebagai tradisi budaya Melayu lama yang harus dijaga dan dilestarikan sebagai simbol kejayaan warisan Melayu,” ucap dia.

(Budis)

Baca berita lainnya di Google News!
Berita Terkait
Berita Terkini
Fuchsia warna apa
Dibalik Kerudung Warna Fuchsia untuk Berbagai Acara
Hotman Paris Menduga Ada Campur Tangan Oknum Aparat
Hotman Paris Menduga Ada Campur Tangan Oknum Aparat Untuk Amankan Tiga Tersangka DPO Pembunuh Vina
samurai bond
Mengenal Samurai Bond, Jurus Menkeu Sri Mulyani Tarik Utang Baru!
Oppo A60
Oppo A60 Resmi Hadir di Indonesia, Disebut Tahan Banting!
rahmady effendi
Kekayaan Dianggap Tak Wajar, Intip Nilai Garasi Rahmady Effendy
Berita Lainnya

1

Daftar Pajak Isuzu Panther, Semua Tipe Lengkap!

2

PT Tekindo Buka Fakta Terkait Putusan MA Soal Lahan di Maluku Utara

3

Tips Mengobati Gigitan Tomcat, Jangan Salah Kaprah!

4

Makna Lagu 'Tak Cukup Satu Kata' Single Terbaru Rizwan Fadilah

5

Sejarah Manhwa: Dari Politik Manga ke Romansa
Headline
Timnas Indonesia Kualifikasi Piala Dunia
Timnas Indonesia Bisa Lolos Putaran Ketiga Kualifikasi Piala Dunia, Asal?
Teror Bobotoh Terus Bayangi Bali United
Teror Bobotoh Terus Bayangi Bali United, Teco Tak Peduli
Skuat Jerman Euro 2024
Jerman Rilis 30 Nama Skuat Euro 2024, Pemain Veteran Jadi Tumpuan
David Copperfield
Pesulap David Copperfield Dituduh Lakukan Pelecehan Terhadap 16 Wanita