BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Pasangan asal Bandung, Baba dan Bubu Ara, kerap menjadi sorotan di media sosial berkat konten edukatif mereka di TikTok dan Instagram.
Salah satu topik yang menarik perhatian adalah cara mereka mengajarkan putri mereka, Ara, yang masih berusia dini, tentang kriteria memilih pasangan yang tepat.
Pendekatan unik ini menuai beragam tanggapan dari netizen. Baba dan Bubu Ara dikenal dengan pola asuh yang mereka sebut “Vesparenting”.
Metode ini melibatkan diskusi mendalam atau “deep talk” antara Baba dan Ara saat berkeliling menggunakan motor Vespa. Topik yang dibahas beragam, mulai dari nilai-nilai kehidupan hingga konsep ekonomi, termasuk kriteria memilih pasangan.
Mengajarkan Kriteria Pasangan Sejak Dini
Dalam sebuah podcast Densu, Baba dan Bubu Ara menjelaskan alasan di balik pendekatan mereka. “Biarkan dia mencari sendiri dengan kriteria yang sudah kita tanamkan.
Harus yang agamanya bagus, adabnya bagus dulu. Kita jelaskan bahwa mencari pasangan nanti harus yang usahanya bagus, pintar, dan beragama. Insyaallah, urusan materi akan mengikuti usahanya,” ujar mereka.
Mereka berharap, dengan menanamkan nilai-nilai ini sejak dini, Ara akan tumbuh menjadi pribadi yang kritis dan bijak dalam mengambil keputusan, termasuk dalam memilih pasangan di masa depan.
“Jadi, saat dia SD, dia sudah mengerti dan tidak akan ikut-ikutan temannya,” tambah mereka.
Dampak Positif dan Negatif
Mengajarkan konsep memilih pasangan sejak dini, seperti yang dilakukan Baba dan Bubu Ara, memiliki dampak positif dan negatif.
Di satu sisi, hal ini dapat membangun kesadaran anak tentang hubungan yang sehat, melatih pola pikir kritis, dan membantu mereka memahami pentingnya nilai-nilai dalam memilih pasangan.
Namun, di sisi lain, jika tidak disampaikan dengan cara yang sesuai, anak bisa merasa terbebani dengan konsep yang belum relevan untuk usianya.
Hal ini berpotensi membuat anak kehilangan fokus pada tahap perkembangannya atau memiliki standar yang terlalu kaku dalam memilih pasangan di masa depan.
Tanggapan Netizen
Tanggapan netizen terhadap pendekatan Baba dan Bubu Ara sangat beragam. Sebagian besar mengapresiasi metode komunikasi terbuka yang mereka terapkan, menganggapnya sebagai upaya positif dalam membekali anak dengan pemahaman sejak dini tentang hubungan interpersonal.
“Salut sama Baba dan Bubu Ara, mereka mengajarkan nilai-nilai penting sejak dini. Ini bisa jadi bekal buat Ara di masa depan,” tulis salah satu netizen.
Namun, tidak sedikit yang mengkritik pendekatan tersebut. Beberapa netizen menilai topik memilih pasangan kurang sesuai untuk anak seusia Ara dan mempertanyakan relevansinya pada tahap perkembangan anak pra-sekolah.
“Menurut saya, ini terlalu dini. Anak seusia Ara seharusnya fokus bermain dan belajar hal-hal dasar dulu,” komentar netizen lain.
Selain itu, ada juga yang menuduh keluarga ini mencari perhatian atau validasi melalui konten yang mereka bagikan. Beberapa netizen bahkan mempercayai fitnah yang beredar meskipun tidak berdasar.
BACA JUGA
Viral Ayah Seniman Buat Dekorasi Lamaran & Pernikahan Anak
Gibran Kembali Disorot Usai Video Lawasnya Naik Sepeda Anak Viral
Pola Asuh yang Menarik Perhatian
Terlepas dari pro dan kontra, pola asuh Baba dan Bubu Ara telah berhasil menarik perhatian banyak orang. Pendekatan “Vesparenting” mereka menunjukkan bahwa komunikasi terbuka dan pengenalan nilai-nilai sejak dini dapat menjadi cara efektif dalam mendidik anak.
Namun, penting untuk memastikan bahwa topik yang dibahas sesuai dengan usia dan perkembangan emosional anak.
Dengan terus membagikan perjalanan parenting mereka, Baba dan Bubu Ara tidak hanya memberikan inspirasi, tetapi juga memicu diskusi tentang cara terbaik dalam mendidik anak di era modern.
(Magang UKRI-Ajeng/Aak)