BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Petenis berusia 27 tahun, Aryna Sabalenka, menutup musim 2025 dengan status prestisius sebagai petenis peringkat 1 dunia di sektor putri. Konsistensinya sepanjang tahun, meski dibayangi pasang surut di laga-laga besar, membuatnya tetap tampil dominan di panggung WTA.
Musim ini, Sabalenka nyaris mencetak sejarah dengan mendekati gelar di Australian Open, French Open, dan Wimbledon. Namun, keberhasilan utamanya akhirnya datang di US Open, ketika ia mengalahkan petenis tuan rumah Amanda Anisimova di partai final. Kemenangan itu menjadi gelar Grand Slam keempat dalam kariernya, sekaligus menegaskan statusnya sebagai kekuatan utama tenis wanita modern.
Di balik musim gemilang tersebut, Sabalenka mengaku perjalanan menuju puncak tidak mudah. Runner-up di WTA Finals 2025, ia gagal memenangkan beberapa final penting dan menyebut hal itu sebagai pelajaran terbesar musim ini. Dalam wawancara dengan ESPN Brazil, Sabalenka menuturkan bahwa kesadaran akan ketidakpastian final menjadi kunci perubahan mentalnya.
“Saya belajar bahwa mencapai final tidak berarti pasti memenangkan turnamen. Ketika saya berada di final pada awal musim, saya selalu berpikir semua berjalan sesuai rencana dan saya akan menang. Tapi ekspektasi itu justru menjadi tekanan,” ujarnya, dikutip Sabtu (29/11/2025).
Musim ini, ia tercatat lima kali kalah di final sebelum akhirnya menembus kebuntuan di New York. Menurut Sabalenka, ia berhasil mengubah pendekatannya di final US Open.
“Saya belajar menghadapi final dengan rasa lapar namun tanpa kepastian. Fokus mencari solusi setiap kali berada di situasi sulit. Itulah mengapa saya akhirnya mengangkat trofi US Open,” lanjutnya.
Baca Juga:
Aryna Sabalenka Tumbangkan Cori Gauff, Lolos ke Semifinal WTA Finals 2025Juarai
WTA Finals, Elena Rybakina Kantongi Hadiah Rp87,2 miliar
Memasuki musim 2026, Sabalenka kembali menjadi salah satu kandidat kuat juara di keempat turnamen Grand Slam. Statistiknya berbicara, yaitu dalam tiga musim terakhir, ia hanya sekali gagal mencapai semifinal Grand Slam, dan bahkan saat itu ia tetap mampu menembus perempat final.
-Australian Open → berupaya membalas kekalahan dari Madison Keys di final musim lalu.
-French Open → mencari gelar perdananya di Roland Garros.
-Wimbledon → kembali berburu mahkota turnamen grass-court yang belum pernah ia menangkan.
-US Open → berpeluang mencetak hattrick setelah juara pada 2024 dan 2025.
Meski sulit membayangkan Sabalenka memenangkan keempat Grand Slam sekaligus, dua atau tiga gelar bukanlah mustahil melihat level permainannya. Jika terjadi, ia akan semakin mendekati rival utamanya, Iga Swiatek, dalam daftar petenis aktif dengan gelar Grand Slam terbanyak.
Sabalenka akan memulai perjalanannya di musim 2026 pada Australian Open, yang akan bergulir mulai 18 Januari.
(Budis)