80 Tahun BNI, Beri Dampak Nyata Penanganan Stunting di Pangalengan

-

Tidak ada video disisipkan.

BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Pagi itu, di sebuah posyandu sederhana di Desa Sukamanah, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, sejumlah ibu muda tampak mengantre bersama anak-anak mereka. Di tangan para kader kesehatan, paket makanan tambahan dibagikan satu per satu. Bagi sebagian orang, bantuan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun bagi keluarga yang sedang berjuang memastikan anak-anak mereka tumbuh sehat, bantuan itu menghadirkan harapan besar.

Di balik program tersebut, hadir komitmen PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI yang tahun ini genap berusia 80 tahun. Delapan dekade perjalanan BNI bukan hanya tentang pertumbuhan bisnis dan layanan perbankan, tetapi juga tentang bagaimana sebuah institusi keuangan nasional terus berupaya memberikan dampak nyata bagi masyarakat Indonesia.

Tema “80 Tahun BNI: Bangkit, Bertumbuh, dan Berdampak bagi Indonesia” bukan sekadar slogan perayaan ulang tahun. Tema tersebut tercermin dalam berbagai program sosial yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat, salah satunya melalui Program Desa Sehat Bebas Stunting di Kecamatan Pangalengan.

Delapan Dekade Menemani Perjalanan Bangsa

Sejak berdiri pada 5 Juli 1946, BNI lahir bersamaan dengan semangat perjuangan bangsa yang baru merdeka. Sebagai bank pertama milik negara, BNI menjadi bagian penting dalam membangun fondasi ekonomi Indonesia.

Selama 80 tahun, BNI melewati berbagai fase sejarah bangsa, mulai dari masa perjuangan kemerdekaan, pembangunan nasional, krisis ekonomi, hingga transformasi digital. Dalam setiap periode tersebut, BNI terus beradaptasi dan berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat.

Namun pertumbuhan BNI tidak hanya diukur dari besarnya aset, jaringan layanan, maupun inovasi digital yang dihadirkan. Lebih dari itu, keberhasilan BNI juga tercermin dari kontribusinya dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Melawan Stunting, Menjaga Masa Depan Bangsa

Komitmen tersebut terlihat nyata melalui Program Desa Sehat Bebas Stunting yang dilaksanakan di empat desa di Kecamatan Pangalengan, yakni Sukamanah, Banjarsari, Wanasuka, dan Margamukti.

Program yang merupakan bagian dari BNI Berbagi itu dijalankan bekerja sama dengan Pemerintah Kecamatan Pangalengan dan Puskesmas Sukamanah. Fokusnya jelas: membantu menurunkan angka stunting sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

Bagi BNI, stunting bukan sekadar persoalan kesehatan. Stunting adalah tantangan besar yang menentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.

Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo, menegaskan bahwa program tersebut merupakan bentuk kontribusi perusahaan dalam mendukung agenda pembangunan manusia Indonesia.

“Program Desa Sehat Bebas Stunting ini merupakan wujud kontribusi BNI dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, khususnya kelompok yang rentan mengalami masalah gizi. Program ini menjadi bagian dari komitmen BNI untuk hadir memberikan manfaat yang nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat,” ujarnya.

Melalui program ini, BNI memberikan Paket Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Pemulihan kepada 65 anak berisiko stunting selama 52 hari berturut-turut. Tidak hanya itu, sebanyak 12 ibu hamil dengan kondisi Kekurangan Energi Kronis (KEK) juga menerima paket nutrisi selama 60 hari.

Perhatian BNI bahkan menjangkau kelompok remaja putri. Sebanyak 50 remaja mendapatkan bantuan nutrisi dan tablet tambah darah sebagai langkah pencegahan stunting sejak dini.

Program berlangsung selama tiga bulan dengan pendampingan dan pemantauan berkala untuk memastikan bantuan yang diberikan benar-benar memberikan manfaat bagi penerima.

Hadir di Tengah Kebutuhan Masyarakat

Kabupaten Bandung dipilih sebagai lokasi program karena masih menghadapi tantangan serius dalam penanganan stunting. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting di Kabupaten Bandung mencapai 24,1 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata Provinsi Jawa Barat.

Angka tersebut bukan sekadar statistik. Di baliknya terdapat ribuan anak yang membutuhkan perhatian bersama agar dapat tumbuh sehat dan berkembang secara optimal.

Karena itu, BNI tidak hanya memberikan bantuan nutrisi. Program Desa Sehat Bebas Stunting juga mencakup edukasi kesehatan keluarga, penguatan peran posyandu, hingga peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pemenuhan gizi sejak masa kehamilan.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa penyelesaian masalah stunting membutuhkan langkah yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.

Dampak yang Lebih Besar dari Sekadar Bantuan

Dalam perjalanan 80 tahunnya, BNI memahami bahwa keberhasilan pembangunan tidak bisa dilakukan sendirian. Kolaborasi menjadi kunci.

Program Desa Sehat Bebas Stunting dirancang dengan melibatkan pemerintah daerah, tenaga kesehatan, kader posyandu, serta masyarakat setempat. Sinergi inilah yang menjadi fondasi keberhasilan berbagai program sosial yang dijalankan BNI.

Menurut Okki Rushartomo, kerja sama berbagai pihak menjadi faktor penting dalam menciptakan generasi yang sehat dan berkualitas.

“Sinergi antara dunia usaha, pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat menjadi kunci penting dalam menciptakan generasi yang sehat dan berkualitas. Berlandaskan semangat melayani sepenuh hati, BNI akan terus memperluas kontribusinya dalam mendukung pencegahan stunting dan peningkatan kualitas kesehatan masyarakat sebagai bagian dari investasi jangka panjang untuk menyiapkan generasi penerus bangsa yang unggul,” katanya.

Dari Pangalengan untuk Indonesia

Kisah di Pangalengan menjadi gambaran bagaimana BNI memaknai usia 80 tahun. Bukan hanya tentang pencapaian perusahaan, melainkan tentang manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.

Ketika seorang ibu memperoleh pengetahuan baru mengenai gizi keluarga, ketika seorang remaja putri memahami pentingnya kesehatan reproduksi, atau ketika seorang anak mendapatkan kesempatan tumbuh lebih sehat, di situlah makna sesungguhnya dari dampak yang ingin dihadirkan BNI.

Delapan puluh tahun lalu, BNI lahir untuk mendukung kedaulatan ekonomi bangsa. Hari ini, semangat yang sama terus hidup melalui berbagai program yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.

Di usia ke-80 tahun, BNI tidak hanya bangkit menghadapi perubahan zaman dan bertumbuh sebagai institusi keuangan modern, tetapi juga terus memastikan bahwa pertumbuhan tersebut membawa dampak positif bagi Indonesia.

Karena pada akhirnya, keberhasilan sebuah perusahaan tidak hanya diukur dari angka-angka dalam laporan keuangan, melainkan dari seberapa besar manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat yang dilayaninya.

Baca berita lainnya di Google News dan Whatsapp Channel
Berita Terkait
Berita Terkini
Dieng Caldera Race 2026 Berlangsung Sukses, Ribuan Pelari Taklukkan Dataran Tinggi Dieng Bersama bank bjb
Dieng Caldera Race 2026 Berlangsung Sukses, Ribuan Pelari Taklukkan Dataran Tinggi Dieng Bersama bank bjb
PKJB 2026
Pekan Kerajinan Jawa Barat 2026 Digelar 26-28 Juni 2026
ABY04346
Mau Lihat Produk Kerajinan Jabar Paling Keren? Yuk Datang ke Pekan Kerajinan Jawa Barat 2026
Jabar Raih Penghargaan Wisata Ramah Muslim Berstandar Internasional
Jabar Raih Penghargaan Wisata Ramah Muslim Berstandar Internasional
Diskominfo Jabar
Diskominfo Jabar dan PWI Jabar Gelar Uji Kompetensi Wartawan di Bandung dan Majalengka
Berita Lainnya

1

Sosok Fitri Assiddikki di Balik Kasus Korupsi Heri Gunawan

2

Tips Mengobati Luka Melepuh Akibat Gigitan Tomcat, Jangan Digaruk!

3

AC Milan Bawa Pulang Kemenangan Setelah Taklukan Como 2-1

4

5

Woodyland Eatery Kafe Baru di Bandung Mengusung Tema Magical Forest Rest!
Headline
WhatsApp Image 2026-06-23 at 06.47
Pendaftaran SPMB Kota Bandung Jenjang SD dan SMP Tahap 2 Tahun 2026 Dibuka
KDS Pastikan Korban Penyekapan dapat Penanganan Optimal dan Dukungan Pemkab Bandung
KDS Pastikan Korban Penyekapan dapat Penanganan Optimal dan Dukungan Pemkab Bandung
Farhan Sampaikan Jawaban atas Pandangan Umum Fraksi terhadap 3 Raperda
Farhan Sampaikan Jawaban atas Pandangan Umum Fraksi terhadap 3 Raperda
KDM Minta Sekolah Swasta Buka Akses Siswa Tak Mampu yang Belum Diterima di Sekolah Negeri
KDM Minta Sekolah Swasta Buka Akses Siswa Tak Mampu yang Belum Diterima di Sekolah Negeri