Unik! Perbandingan Seni Pertunjukan Wayang Golek dan Potehi

Wayang Golek dan Potehi
Ilustrasi-Perbedaan Wayang Golek dan Potehi (istockphoto)
-

Tidak ada video disisipkan.

BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Indonesia kaya akan seni pertunjukan wayang, dengan Wayang Golek dan Wayang Potehi sebagai dua contoh yang menonjol.

Meskipun berbeda latar belakang budaya, keduanya memiliki daya tarik dan nilai estetika yang tinggi. Berikut perbedaan pementasan dari kedua wayang tersebut yang berhasil Teropong Media rangkum.

Wayang Golek

Wayang Golek terbuat dari kayu yang diukir dan diraut, terdiri dari kepala, tubuh, dan tangan yang dapat dipisahkan dan dihubungkan oleh “gagang” (batang kayu kecil). Kesenian wayang ini biasanya mengenakan pakaian tenun berwarna-warni.

Pementasan Wayang Golek

Dalang duduk di belakang layar, memanipulasi wayang yang ditancapkan pada “gedebog” (batang pisang). Pertunjukan diawali dengan “nyandra” (prolog), kemudian dalang memainkan wayang dengan menggerakkan kepala dan tangan, menggambarkan berbagai aksi seperti berbicara, jatuh, berlari, dan berkelahi.

Musik pengiring menggunakan alat tradisional seperti rebab, gambang, kendang, gong, dan gamelan.

Awalnya hanya dipertunjukkan malam hari, kini juga di siang hari, bahkan di sekolah, kampus, dan televisi. Lakonnya umumnya berasal dari Ramayana dan Mahabharata.

BACA JUGA : Mengenal Tradisi Seni Pertunjukan Wayang di Indonesia

Wayang Potehi

Pembuatan Wayang Potehi terpusat di Gudo, Jombang, khususnya di Klenteng Hong Sang Kiong. Bentuk wayang terinspirasi dari wayang kuno, patung-patung di klenteng, dan lain sebagainya.

Pementasan Wayang Potehi

Wayang Potehi awalnya dipentaskan dalam bahasa Tionghoa (dialek Min Nan), namun setelah dikeluarkannya PP No. 10/1959, menggunakan Bahasa Indonesia.

Pertunjukan sering diadakan di klenteng, untuk ritual dan persembahan kepada dewa-dewi. Durasi pertunjukan bervariasi, dari satu hari hingga tiga bulan, tergantung permintaan. Cerita yang dimainkan dipilih melalui ritual persembahan.

Alat musik yang digunakan antara lain dongko (kendang), twalo (gembreng), siau lo (gembreng kecil), twabak (simbal besar), siau bak (simbal kecil), terompet, seruling, erhu, dan rebab.

Pertunjukan diawali dengan persembahan dan sembahyang, dilanjutkan dengan musik, cerita, dan diakhiri dengan ucapan terima kasih dan penampilan wayang pengantin.

Wayang Golek dan Wayang Potehi, meskipun berbeda asal usul, sama-sama merupakan warisan budaya Indonesia yang berharga. Keduanya menampilkan nilai estetika dan filosofis yang tinggi, serta berperan penting dalam pelestarian budaya dan tradisi di Indonesia.

 

(Hafidah Rismayanti/Aak)

Baca berita lainnya di Google News dan Whatsapp Channel
Berita Terkait
Berita Terkini
IMG-20260815-WA0004
Jumat Berkah PLN UP3 Majalaya, Hadirkan Semangat Berbagi di Momentum HUT ke-81 RI
WhatsApp Image 2026-08-15 at 11.52
KPU Kota Bandung Ajak Pemilih Pemula SMK Al-Hadi Jadi Pemilih Cerdas Lewat Pilketos
SAVE_20260815_081923
Memahami Aturan Pajak UMKM Terbaru: Tarif Tetap 0,5%, Berlaku Selamanya untuk Orang Pribadi
Gambar_stadion_segiri
Borneo FC Dapat Kepercayaan AFC, Samarinda Jadi Panggung Kompetisi Asia
WhatsApp Image 2026-08-14 at 12.30
Tangis Siswa Pecah di SD Kademangan, KKN UIN Bandung 203 Sorot Budaya Ejek di Kelas
Berita Lainnya

1

Tips Mengobati Luka Melepuh Akibat Gigitan Tomcat, Jangan Digaruk!

2

6 Daftar Wisata, Dulu Favorit Sekarang Ditinggal Pengunjung

3

Mursyid Asal Surabaya Dukung Gus Farkhan Evendi Jadi Utusan Presiden

4

Studio Alam Gamplong, Destinasi Perfilman Favorit di Sleman

5

Titi DJ & Thomas Djorghi Rilis Duet Bertemu 5000 Detik
Headline
WhatsApp Image 2026-08-15 at 17.09
Pesta Rakyat Meriahkan Pembukaan Alun-alun Bandung pada 17 Agustus
WhatsApp Image 2026-08-14 at 15.03
Semangat Kemerdekaan Jadi Energi Kota Bandung Hadapi Berbagai Tantangan
siaran-pers-bersama-bank-bjb-x-persib-3-2
Kembali Berkolaborasi, bank bjb dan PERSIB Satukan Semangat Juara
WhatsApp Image 2026-08-13 at 17.36
Bandung Dorong Transformasi dari Smart City Menuju Data-Driven City