BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Pameran Consumer Electronics Show (CES) 2026 kembali menjadi etalase utama perkembangan teknologi global. Kecerdasan buatan, robotika, dan perangkat gaming masih mendominasi perhatian, namun satu sektor lain terlihat semakin mencuri sorotan: extended reality (XR).
Di lantai pameran CES 2026, kacamata AR, smart glasses, hingga headset VR generasi terbaru tampil nyaris di setiap sudut. Benang merahnya jelas, perangkat dibuat semakin ringan, lebih ringkas, dan diarahkan untuk penggunaan sehari-hari, bukan sekadar hiburan sesaat.
Pengamat teknologi sekaligus konten kreator kanal YouTube Tyriel Wood – VR Tech menilai tren ini sangat terasa.
“Kacamata AR dan kacamata pintar ada di mana-mana di area pameran,” ujar Tyriel Wood dalam video ulasannya, dikutip Rabu (14/1/2026).
Pernyataan tersebut merupakan pengamatan pribadi berdasarkan kunjungannya ke area pameran CES 2026.
Kacamata AR Makin Serius, Layar Semakin Tajam
Salah satu perangkat yang menarik perhatian datang dari nama besar seperti Samsung dan ASUS. Di area pameran, keduanya menampilkan kacamata AR dengan panel micro OLED beresolusi 1200p, refresh rate tinggi, serta dukungan pelacakan layar dalam ruang tiga dimensi.
Tyriel Wood menyebut perangkat tersebut sebagai salah satu yang paling menonjol secara visual.
“Yang benar-benar mencuri perhatian tahun ini adalah kolaborasi antara Samsung dan Asus dengan kacamata Air1 mereka,” ujarnya.
Istilah kolaborasi merujuk pada penamaan dan materi pameran di lokasi, dan hingga kini belum dikonfirmasi secara resmi melalui pernyataan tertulis kedua perusahaan.
Samsung dan ASUS juga belum mengumumkan spesifikasi final, harga resmi, maupun jadwal rilis komersial. Informasi yang beredar masih berasal dari materi presentasi dan penjelasan di booth pameran, yang berpotensi berubah saat produk memasuki tahap produksi massal.
Di segmen lain, XREAL turut memperkenalkan kacamata XR versi terbaru dengan harga yang diklaim lebih terjangkau. Menurut Tyriel Wood, perangkat ini dipatok sekitar 449 dolar AS untuk pasar global.
“Harganya akan mencapai 449 dolar, lebih murah daripada versi One,” katanya.
AI Glasses Semakin Ramai
Selain kacamata AR, kategori AI glasses juga mengalami lonjakan jumlah peserta. Sejumlah produsen memamerkan kacamata pintar yang dibekali kamera, mikrofon, dan asisten berbasis AI. Perangkat ini diklaim mampu memahami konteks visual dan merespons perintah suara secara real-time.
Salah satu produk yang disorot Tyriel Wood adalah Rocket AI Glasses, yang diposisikan sebagai pesaing Ray-Ban Meta.
“Ini adalah kacamata AI yang memungkinkan pengguna untuk berbicara dengan asisten AI sepanjang waktu dan dilengkapi kamera untuk memberikan konteks kepada asisten AI tersebut,” ujarnya.
Klaim tersebut merujuk pada fitur yang dipresentasikan di area pameran dan dapat berbeda pada produk final.
Fitur AI pada kacamata pintar masih sangat bergantung pada perangkat lunak, konektivitas, serta kebijakan privasi masing-masing produsen. Ketersediaan dan performa aktualnya juga berpotensi berbeda di tiap wilayah.
Baca Juga:
Meta Gandeng LG Garap VR Meta Quest Pro, Apple Tak Mau Kalah
Headset VR Menuju Era Lebih Ringan
Di kategori headset VR, tren menuju desain ringan terlihat semakin jelas. Play For Dream, misalnya, memamerkan purwarupa headset dengan bobot yang diklaim hanya sekitar 100 gram.
Tyriel Wood menilai arah desain tersebut sangat menjanjikan.
“Ini terlihat menakjubkan dan sangat kecil, dan sungguh luar biasa melihat arah perkembangan headset VR ini,” katanya.
Namun perlu dicatat, perangkat tersebut masih berupa prototipe dan belum diumumkan sebagai produk komersial final.
Pimax juga membawa seri Dream Air dengan panel micro OLED resolusi tinggi. Menurut Tyriel Wood, pendekatan ini mencerminkan pemahaman baru terhadap kebutuhan pengguna.
“Mereka akhirnya memahami pasar dan fakta bahwa kita tidak ingin lagi wajah kita dilempari batu bata,” ujarnya.
Sementara itu, Meganex memperkenalkan Mark 2, versi lanjutan dari headset VR kabel mereka, lengkap dengan kontroler yang mendukung finger tracking. Aksesori ini disebut dibanderol sekitar 150 dolar AS berdasarkan informasi di area pameran.
Lensa Cair dan Masa Depan Kenyamanan Visual
Di sektor teknologi optik, perusahaan seperti Goertek memamerkan konsep lensa cair (liquid crystal lenses). Teknologi ini memungkinkan fokus lensa berubah secara dinamis dari minus hingga plus dioptri tertentu, mendekati konsep varifocal yang selama ini masih terbatas di laboratorium riset.
Tyriel Wood menyebut teknologi tersebut sebagai salah satu solusi penting bagi kenyamanan VR.
“Ini adalah sesuatu yang sangat kita butuhkan di VR untuk kenyamanan visual,” katanya.
Arah Baru XR, Masih Banyak Tantangan
Sebagian besar perangkat XR di CES 2026 masih berada pada tahap prototipe, konsep, atau versi awal. Spesifikasi, bobot, fitur, hingga harga masih dapat berubah sebelum masuk tahap produksi massal. Tidak semua teknologi yang dipamerkan di CES selalu berujung pada produk yang benar-benar dirilis ke pasar.
Harga yang disebutkan dalam dolar AS juga mengacu pada pasar internasional dan belum tentu mencerminkan harga resmi di Indonesia. Faktor sertifikasi, distribusi, dan kebijakan masing-masing produsen masih akan menentukan ketersediaan di pasar lokal.
Meski demikian, CES 2026 memberikan sinyal kuat bahwa industri XR sedang mencari bentuk baru. Perangkat tidak lagi sekadar besar dan berat untuk hiburan, tetapi diarahkan menjadi alat kerja, komunikasi, navigasi, hingga asisten personal sehari-hari.
Namun jalan menuju adopsi massal masih panjang. Daya tahan baterai, kenyamanan penggunaan jangka panjang, isu privasi, dan ekosistem aplikasi tetap menjadi pekerjaan rumah besar. Bagi konsumen, gelombang prototipe ini adalah pertanda kemajuan, namun keputusan membeli tetap paling aman dilakukan setelah produk final benar-benar hadir di pasaran.
(Magang UIN Sunan Gunung Djati/Fathir Fahrezi Fardiansyah)








