BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Fenomena teori benang merah ramai dibicarakan di media sosial X, TikTok, Instagram. Awalnya, pengguna TikTok (@/risyadanson) menjelaskan apa itu teori benang merah. Unggahan tersebut menarik perhatian netizen. Uniknya, pengguna lain turut membagikan kisahnya di kolom komentar.
“Aku dan suamiku, ketemu di sebuah komunitas, ketemu tpi asing, kenal tapi tak saling kenal dekat, 2 th gak ketemu gak contac, setahunnya ketemu lgi dia lamar, langsung nikah.” (@/ummamuslimwear).
Teori benang merah berasal dari budaya Tiongkok legenda dewa bulan Yue Lao yang mengikatkan benang merah diantara dua orang yang ditakdirkan berjodoh. Benang ini berarti takdir yang tidak akan pernah terputus walau kusut oleh jarak dan waktu. Teori ini menyebar ke seluruh Asia Timur dan menjadi simbol romantisme. Di tengah ketidakpastian hidup, teori ini memberikan rasa keyakinan bahwa setiap pertemuan punya alasan.
Baca Juga:
Seunghan, Eks Member RIIZE Debut Akting di Sinetron Indonesia Setelah Tinggalkan K-Pop
Alasan mengapa Generasi Z mempercayai teori benang merah:
- Hopeless Romantic
Seseorang yang menganggap hubungan percintaan mereka baik-baik saja padahal faktanya tidak. Biasanya mereka akan berhalusinasi dengan imajinasinya sendiri. Orang yang hopeless romantic sering merasa kecewa dengan ekspektasinya yang mereka buat sendiri yang dampaknya menghabiskan energi secara fisik dan mental. - Pengaruh Media Sosial
Algoritma media sosial sangat berpengaruh sebagai “penarik benang” yang secara tidak sadar menghubungkan orang dengan konten-konten tertentu seperti cuplikan video pasangan konten kreator, drama korea, novel romantis. Hal tersebut memperkuat narasi teori benang merah dengan kisah cinta yang seolah-olah indah sehingga menciptakan ilusi yang bermakna. - Coping Mechanism
Keyakinan pada takdir atau hubungan yang telah digariskan sering digunakan sebagai cara untuk mengatasi kecemasan emosional, terutama yang berkaitan dengan hubungan, kehilangan, dan kegagalan. Teori benang merah membantu mengurangi kecemasan, stress dan optimisme karena orang percaya bahwa selama benang itu ada, mereka tidak akan sendirian.
Teori benang merah bukan hanya mencerminkan fenomena yang romantis, tetapi mencerminkan kondisi psikologis Generasi Z dalam menghadapi ketidakpastian hidup. Percaya pada takdir boleh, namun tetap ingat menyadari bahwa setiap pilihan hidup dan hubungan membutuhkan kesadaran serta tanggung jawab.
(Magang UNPAD/Rifa)











