Benarkah Akun Anonim dan Second Account Merupakan Simbol Kemunafikan?

akun anonim
Ilustrasi (Pixabay)
-

Tidak ada video disisipkan.

BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Seiring dengan mudahnya akses sosial media menjadikan banyak anak muda yang memilih untuk memiliki akun tambahan selain akun utama mereka, yang biasa disebut second account maupun akun anonim.

Namun, sangat disayangkan akun-akun yang tak jelas nama pemiliknya ini banyak disalahgunakan untuk tujuan-tujuan negatif.

Lalu muncul sebuah pertanyaan, apakah benar akun anonim atau second account ini merupakan simbol kemunafikan?

Podcast Close the Door di kanal YouTube Deddy Corbuzier, yang diunggah pada Kamis (09/01/2025), menghadirkan Boris Bokir dan Habib Jafar sebagai bintang tamu.

Dalam perbincangan itu, Habib Jafar banyak menyinggung soal agama yang berperan penting untuk aspek kesehatan mental.

“Karena 32 juta angka kasus gangguan mental anak muda di Indonesia dan agama harusnya memberikan peran penting di sana,” tegas Habib Jafar.

Selain itu, ia pun mengungkapkan isu hari ini yang sering kali memunculkan kerusuhan dan keributan di dunia maya, yakni kehadiran second account atau akun anonim.

Dampak dari munculnya akun-akun tak jelas identitas pemiliknya itu, kata Habib, dapat menghancurkan mental dan rasa percaya diri seseorang.

“Akun anonim dan second account, coba berapa banyak keributan, kehancuran kepercayaan diri, dan keterpurukan mental yang disebabkan oleh akun-akun seperti itu,” ujar Habib Jafar.

Habib Jafar pun mengungkapkan keinginannya agar semua perspektif agama menegaskan bahwa second account itu adalah simbol kemunafikan.

“Lu diberi identitas sebagai manusia yang dibanggakan oleh Tuhan, kemudian lu malah memilih untuk menyembunyikannya dan menjadi orang lain. Itu kan kemunafikan,” tuturnya.

BACA JUGA: Ini Cara Hapus Permanen Akun Ask.fm di iPhone, Android dan Web

Second Account di Kalangan Gen Z

Perbedaan second account dengan akun utama terletak pada penggunaannya. Biasanya second account ini sifatnya lebih privat sedangkan akun utama lebih formal dan terbuka untuk diikuti oleh akun siapa pun.

Beberapa orang memilih penggunaan kedua akun ini sebagai batasan dalam menjaga identitasnya di media sosial.

Kebanyakan Gen Z memilih second account sebagai tempat untuk mereka bebas mengekspresikan diri.

Mereka akan merasa lebih nyaman dan leluasa saat membagikan konten maupun momen karena merasa tidak banyaknya pandangan ataupun penilaian dari orang lain.

Second account juga dapat membantu penggunanya untuk dapat terbuka dengan bebasnya mengungkapkan rasa senang, sedih, khawatir, gelisah, tanpa takut mendapatkan hate speech .

Hal tersebut mampu menjaga keseimbangan emosional juga mengurangi tekanan dalam memenuhi ekspetasi publik.

 

(Magang UIN SGD/Lia Reliya Berliana-Aak)

Baca berita lainnya di Google News dan Whatsapp Channel
Berita Terkait
Berita Terkini
IMG-20260815-WA0004
Jumat Berkah PLN UP3 Majalaya, Hadirkan Semangat Berbagi di Momentum HUT ke-81 RI
WhatsApp Image 2026-08-15 at 11.52
KPU Kota Bandung Ajak Pemilih Pemula SMK Al-Hadi Jadi Pemilih Cerdas Lewat Pilketos
SAVE_20260815_081923
Memahami Aturan Pajak UMKM Terbaru: Tarif Tetap 0,5%, Berlaku Selamanya untuk Orang Pribadi
Gambar_stadion_segiri
Borneo FC Dapat Kepercayaan AFC, Samarinda Jadi Panggung Kompetisi Asia
WhatsApp Image 2026-08-14 at 12.30
Tangis Siswa Pecah di SD Kademangan, KKN UIN Bandung 203 Sorot Budaya Ejek di Kelas
Berita Lainnya

1

6 Daftar Wisata, Dulu Favorit Sekarang Ditinggal Pengunjung

2

3

Tips Mengobati Luka Melepuh Akibat Gigitan Tomcat, Jangan Digaruk!

4

Profil Lengkap Budi Arie Menteri Komunikasi dan Informatika

5

Meski Matic, ini Catatan Berkesan BBM Kijang Kapsul LGX
Headline
WhatsApp Image 2026-08-15 at 17.09
Pesta Rakyat Meriahkan Pembukaan Alun-alun Bandung pada 17 Agustus
WhatsApp Image 2026-08-14 at 15.03
Semangat Kemerdekaan Jadi Energi Kota Bandung Hadapi Berbagai Tantangan
siaran-pers-bersama-bank-bjb-x-persib-3-2
Kembali Berkolaborasi, bank bjb dan PERSIB Satukan Semangat Juara
WhatsApp Image 2026-08-13 at 17.36
Bandung Dorong Transformasi dari Smart City Menuju Data-Driven City