GARUT, TEROPONGMEDIA.ID — Penyebab insiden keracunan makanan program Makan Begizi Gratis (MBG) di Kadungora, Kabupaten Garut, Jawa Barat, semakin mengarah pada susu bantal, salah satu hidangan menu yang disajikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Kasus dugaan keracunan yang menyebabkan 282 pelajar termasuk staf sekolah dan seorang balita ini terjadi pada Selasa (30/9/2025).
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut secara resmi menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB), sebagaimana disampaikan Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, dalam konferensi pers di Garut pada Rabu (1/10).
Syakur mengungkapkan bahwa sampel makanan dari program MBG telah dikirim untuk uji laboratorium guna memastikan penyebab keracunan.
“Sudah sedang kita cek sampel (makanan), hasilnya akan keluar dalam seminggu,” kata Bupati Syakur, mengutip Antara, Kamis (3/10).
Sementara menunggu hasil pemeriksaan laboratorium, pemerintah daerah telah menghentikan sementara operasi dapur MBG yang terkait kejadian ini.
“Kita minta yang kejadian ini dihentikan dulu,” tegasnya.
Susu Sumber Keracunan?
Bupati mengungkapkan temuan awal berdasarkan keterangan para korban. Banyak anak yang mengalami gejala keracunan MBG Kadungora Garut ini setelah menyantap makanan dan minum susu yang disajikan.
Namun, terdapat pola mencolok: anak yang hanya makan tanpa minum susu tidak mengalami gejala, sementara yang hanya minum susu tanpa makan justru mengalami masalah.
“Dari yang kita tanya di lapangan, ada anak yang makan tapi susunya tidak diminum, ternyata tidak apa-apa. Ada yang tidak makan terus susunya diminum, justru ada masalah. Ini masih dugaan, validnya nanti melalui tes lab,” jelas Syakur.
BACA JUGA
Dapur MBG Garut Ditutup! Kasus Ratusan Siswa Keracunan Diselidiki Polisi
Terjadi Lagi, 45 Siswa SMKN 1 Sine Ngawi Diduga Keracunan MBG
Korban
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, Leli Yuliani, melaporkan jumlah korban terus bertambah hingga mencapai 282 orang. Korban berasal dari empat sekolah: SDN 3 Talagasari, SMPN 1 Kadungora, SMP PGRI, dan SMA Annisa di Kecamatan Kadungora.
“Dari total 282 korban, 193 orang sudah pulang dan menjalani rawat jalan di rumah, 81 orang dirawat di Puskesmas Kadungora, dua orang di Puskesmas Leles, dan enam orang dirujuk ke RSUD dr Slamet Garut,” jelas Leli.
Para korban mengeluhkan gejala serupa berupa pusing, mual, muntah, diare, dan sesak napas setelah menyantap menu MBG yang terdiri dari nasi, daging sapi, kacang edamame, sayur kol, timun, pisang, dan susu kemasan.
Penetapan status KLB dimaksudkan untuk mempercepat dan mengintensifkan penanganan korban, serta mempermudah investigasi epidemiologis untuk mencegah meluasnya kejadian serupa.
(Aak)











