Simbolisme Pupuh Magatru Sunda dan Megatruh Jawa Ternyata Beda: Simak Kedalaman Maknanya

Pupuh Magatru dan Megatruh (Seniman NU)
(Seniman NU)
-

Tidak ada video disisipkan.

BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Banyak yang mengira pupuh Magatru dari Sunda dan Megatruh dari Jawa adalah dua versi dari satu jenis pupuh yang sama. Padahal, meski namanya mirip, keduanya memiliki asal-usul, fungsi, dan nilai simbolik yang cukup berbeda.

Sekilas memang keduanya sama-sama digunakan untuk menyampaikan nilai moral atau spiritual, bahkan kerap dikaitkan dengan suasana duka atau perenungan. Namun jika ditelusuri lebih jauh, keduanya menyimpan sejarah dan makna yang berbeda dari sisi budaya Sunda dan Jawa.

Pupuh Magatru Sunda dikenal sebagai pupuh yang mencerminkan keteguhan hati dalam menegakkan kebenaran, serta keberanian dalam menegur ketidakadilan. Berdasarkan penelitian Hakim & Setiadi (2021), pupuh ini memuat pesan toleransi dan semangat religiusitas yang kuat.

Magatru sering dipakai dalam wawacan atau cerita lisan Sunda untuk menyuarakan kritik sosial atau pesan moral kepada pembacanya, terutama dalam konteks hubungan antarmanusia dan etika hidup. Salah satu karya penting yang memuat pupuh ini adalah Wawacan Siti Permana karya M.K. Mangoendikaria yang memperlihatkan pergolakan batin seorang perempuan melawan ketidakadilan sosial.

Sementara itu, pupuh Megatruh dalam budaya Jawa berasal dari tembang macapat, dan kerap digunakan dalam konteks renungan menjelang kematian atau kehidupan setelah dunia fana. Nama “megatruh” sendiri berasal dari kata “megat” (berpisah) dan “ruh” (jiwa), yang secara harfiah berarti “berpisahnya ruh dari raga.”

Dalam berbagai karya macapat, seperti Serat Sajarah Urun Wijining Karaton yang dibahas oleh Purnawikaraningaji (2023), Megatruh digunakan untuk menyampaikan nilai spiritualitas, ketundukan pada takdir, dan kesiapan untuk menghadapi kematian secara tenang.

Meski keduanya punya muatan religius, ada perbedaan mendasar dalam cara mereka menyampaikan pesan. Pupuh Magatru Sunda lebih bersifat tegas dan kadang konfrontatif terhadap ketidakadilan, sementara Megatruh Jawa lebih halus, melankolis, dan introspektif. Perbedaan ini juga mencerminkan karakter budaya Sunda yang dikenal egaliter dan ekspresif dalam bentuk kesenian lisan, serta budaya Jawa yang mengedepankan rasa, kerendahan hati, dan ketenangan batin.

Dari segi metrum, keduanya pun berbeda. Berdasarkan analisis pupuh Sunda klasik, Magatru memiliki guru wilangan dan guru lagu: 12u, 8i, 8u, 8i, 8o. Sedangkan Megatruh Jawa disusun dengan metrum 12u, 8i, 8u, 8i, 8i. Kedekatan ini sering membuat orang tertukar, padahal perbedaan satu huruf vokal di akhir bisa memengaruhi nuansa lantunan pupuh tersebut secara signifikan.

Menariknya, para peneliti melihat bahwa kesamaan nama dan metrum bukan semata kebetulan, melainkan kemungkinan besar hasil dari interaksi panjang antarbudaya di Nusantara, terutama pada masa kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha dan Islam yang membuka jalur pertukaran budaya antara Tanah Sunda dan Tanah Jawa.

BACA JUGA

Berani dan Pedas, Pupuh Durma Ternyata Punya Fungsi Kritik Sosial

Jarang Dibahas, Pupuh Gambuh Sunda Ternyata Punya Makna Ajaran Hidup Mendalam

Hingga kini, baik pupuh Magatru maupun Megatruh masih diajarkan di beberapa sekolah berbasis budaya atau dalam komunitas seni tradisi. Namun seperti banyak warisan lisan lainnya, keduanya menghadapi tantangan besar: generasi muda makin jarang akrab dengan pupuh, apalagi memahami kedalaman maknanya.

Maka tak salah apabila Pupuh Magatru dan Megatruh ini tidak hanya dilihat sebagai bagian dari sastra lisan, tetapi juga sebagai cermin perbedaan karakter kesukuan di Pulau Jawa. Satu menegur dengan tegas, satu mengajak merenung dalam hening.

(Aak)

Baca berita lainnya di Google News dan Whatsapp Channel
Berita Terkait
Berita Terkini
IMG-20260724-WA0004
PLN UP3 Majalaya Dukung Gerakan Jum'at ASRI, Perkuat Semangat Gotong Royong Jelang HUT ke-81 RI
bank bjb Imbau Nasabah Untuk Tetap Waspadai Modus Penipuan Digital, Pastikan Berkomunikasi Melalui Kanal Resmi
bank bjb Imbau Nasabah Untuk Tetap Waspadai Modus Penipuan Digital, Pastikan Berkomunikasi Melalui Kanal Resmi
WhatsApp Image 2026-07-22 at 11.48
Swiss-Belresort Dago Heritage Bandung Hadirkan HANA Japanese Pop Up Kitchen, Pengalaman Bersantap Omakase Eksklusif
IMG-20260721-WA0006
DPRD Kota Bekasi Minta Dinkes Perketat Pengawasan Puskesmas Usai Dua Kasus Pelayanan Kesehatan
IMG-20260721-WA0003
PLN UP3 Majalaya Perkuat Keandalan Listrik Jelang Piala Presiden 2026, Wujud Komitmen Melayani Negeri pada HUT ke-81 RI
Berita Lainnya

1

Tips Mengobati Luka Melepuh Akibat Gigitan Tomcat, Jangan Digaruk!

2

3

Woodyland Eatery Kafe Baru di Bandung Mengusung Tema Magical Forest Rest!

4

Meski Matic, ini Catatan Berkesan BBM Kijang Kapsul LGX

5

Titi DJ & Thomas Djorghi Rilis Duet Bertemu 5000 Detik
Headline
IMG-20260724-WA0010
Ketua DPRD Bekasi Ingatkan WTP Bukan Akhir, Pengawasan Internal Harus Diperkuat
IMG-20260724-WA0009
Topananda: Bekasi Butuh Program Pemuda yang Berkelanjutan, Bukan Sekadar Seremonial
IMG-20260723-WA0002
DPRD Kota Bekasi Percepat Pembahasan Raperda Pencegahan Penyimpangan Seksual
IMG-20260723-WA0001
Abdul Muin Serap Aspirasi Warga, Banjir hingga Kesempatan Kerja Jadi Perhatian