BANDUNG,TM.ID: Majalah Bobo edisi 50 tahun merupakan wujud perayaan dari majalah anak-anak yang berusia 50 tahun pada 14 April 2023. Kisah awalnya bermula dari gagasan dua tokoh hebat, PK Ojong dan Jakob Oetama, yang terinspirasi dari konten khusus anak-anak di Harian Kompas pada tahun 1965. Keduanya memiliki visi untuk menciptakan majalah khusus yang mengedukasi dan menghibur anak-anak Indonesia.
Setelah mengajak Tineke Latumenten dan J Adi Subrata untuk bergabung dalam proyek ini, majalah Bobo versi Indonesia pertama kali terbit pada 14 April 1973. Penerbitan majalah ini menjadi langkah besar dalam memperkaya konten anak-anak di Indonesia dan mencetak sejarah dalam dunia penerbitan majalah anak.
Terjemahan dan Adaptasi dari Bobo Belanda

Saat awal-awal penerbitannya, majalah Bobo Indonesia mengambil konten mayoritas dari majalah Bobo Belanda. Namun, konten tersebut diadaptasi dan diterjemahkan agar sesuai dengan budaya dan bahasa Indonesia. Nama-nama tokoh dalam majalah pun mengalami penyesuaian, seperti Upik yang merupakan adaptasi dari tokoh Boemsi, dan Paman Gembul yang merupakan adaptasi dari Oom Siokop.
Dalam perkembangannya, majalah ini mulai mengembangkan konten-konten orisinal dan rubrik-rubrik menarik yang membawa kesegaran bagi pembacanya. Perubahan ini berhasil menjadikannya sebagai salah satu majalah anak-anak pertama yang menggunakan desain berwarna di Indonesia, memberikan pengalaman membaca yang menarik dan penuh inspirasi bagi para pembaca muda.
Momen dalam Sejarah Majalah Bobo

Majalah Bobo telah menyuguhkan berbagai momen ikonik yang membekas dalam ingatan para pembacanya. Edisi pertama majalah ini menampilkan cerita bergambar “Keluarga Kelinci” yang dicetak berwarna. Selain itu, “Cerita dari Negeri Dongeng” menjadi cerita bergambar hitam-putih yang kemudian juga diubah menjadi berwarna pada pertengahan tahun 1973, melansir Kompas.
Pada tahun 1975, majalah Bobo memperkenalkan rubrik baru yang disebut “Apa Kabar, Bo?” yang berisi surat, puisi, dan gambar kiriman pembaca. Rubrik ini menjadi sangat populer dan memberikan kesempatan bagi pembaca untuk berpartisipasi aktif dalam isi majalah. Tidak hanya itu, komik-komik seperti “Deni Manusia Ikan”, “Juwita”, dan “Si Sirik” juga lahir pada tahun yang sama.
BACA JUGA: 6 Karakter Legendaris Majalah Bobo, Generasi 90-an Pasti Kenal
Perkembangan Majalah Bobo dalam Era Digital

Seiring berjalannya waktu dan pesatnya perkembangan teknologi, majalah Bobo tidak tinggal diam. Mereka terus beradaptasi dan mengikuti tren digital untuk tetap relevan dan dekat dengan pembacanya. Majalah ini mengembangkan sejumlah platform digital dan menyediakan konten melalui podcast Dongeng Pilihan Orangtua.
Selain itu, kolaborasi dengan aplikasi Pickatale menjadi langkah cerdas untuk memberikan lebih banyak bahan bacaan yang edukatif dan menarik bagi anak-anak. Keberadaannya dalam bentuk digital memungkinkan akses yang lebih luas dan memperluas jangkauan pembacanya. Majalah Bobo telah menjadi bagian tak terpisahkan dari masa kecil anak-anak di Indonesia.
Dengan konten-konten berkualitas, inspiratif, dan edukatif, majalah ini berhasil menyentuh hati dan pikiran generasi muda. Ia adalah sumber ilmu dan hiburan yang tidak hanya mengisi waktu senggang, tetapi juga membentuk karakter dan kreativitas anak-anak.
(Kaje/Usamah)