BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Kabar kurang menyenangkan datang dari pahlawan olahraga tanah air, Wahyu Surya, atlet angkat berat asal Buleleng Bali ini harus menunda mimpinya untuk tampil di kejuaraan dunia karena persoalan biaya yang tidak sedikit, mencapai $20.000 atau Rp339 juta.
Kabar ini mencuat setelah beberapa unggahan di Instagram miliknya viral. Dalam postingannya, Wahyu terlihat sangat menantikan momen kejuaraan dunia yang akan diikutinya. Terlihat pada pin di salah satu postingan instagramnya pada 16 Agustus 2024 dengan caption “I hope I can make Indonesia proud on the international stage”. Serta di beberapa postingannya terlihat bahwa Wahyu sudah sangat siap dari segi latihan bahkan secara mental.
Tapi ternyata kenyataan berkata lain, mimpi yang ia nantikan itu akhirnya dipatahkan oleh negara sendiri karena ia diminta pengurus Perkumpulan Angkat Berat Seluruh Indonesia (Pabersi) untuk membayar dana jaminan atau biaya yang jumlahnya cukup besar $20.000 atau Rp339 juta sebagai syarat utama berangkat kejuaraan dunia bergengsi di Lithuania. Jelas ini bukan angka yang kecil bagi seorang atlet mandiri.
Menanggapi hal ini, Sekertaris Umum pihak Pabersi menyebutkan bahwa persoalan ini bukan hanya soal biaya, tetapi juga berkaitan dengan rekomendasi dari pengurus pusat. Terdapat empat atlet Indonesia yang memang tidak mendapatkan rekomendasi untuk bertanding di kejuaraan Lithunia.
“Saya sangat kecewa, apakah pernah menyumbang satu rekor dunia dan tiga rekor Asia itu tidak cukup untuk saya tampil lagi di kejuaraan International Powerlifting Federation?,” ujar Wahyu, pada uanggahan video klarifikasinya, Selasa (7/4/2026).
Baca Juga:
Kejurcab Orado Kota Bandung Jadi Panggung Lahirnya Atlet dan Industri Baru Domino
Modus Pelatih Panjat Tebing Diduga Lecehkan Atlet Terungkap, Ini Kata Polisi
Wahyu juga menyampaikan rasa kecewanya di beberapa postingan lain termasuk snapgram yang di unggahnya. Wahyu sendiri menegaskan bahwa dirinya tidak sepenuhnya bergantung pada dana dari Pebersi. Ia mengaku siap menggunakan dana pribadi dan sponsor untuk bisa berangkat, ia hanya meminta surat rekomendasi saja.
“Mimpi saya tertunda, padahal tinggal selangkah lagi,” ujarnya dalam video klarifikasi.
Sontak, pernyataa ini ramai diperbincangkan di Instagram dan media sosial lainnya. Banyak yang menyayangkan kondisi ini, bahkan menyebut bahwa system pembinaan olahraga Indonesia masih belum sepenuhnya berpihak kepada atlet. Ada juga yang mempertanyakan transparansi biaya yang dinilai cukup besar dan membebankan atlet. Dan lagi lagi, mimpi yang sudah dekat itu harus berhenti dulu, bukan karena kalah, tapi karena keadaan.
(Magang Unpas / Putri Diva Cahya Satriani)
