Meta Kembangkan AI Kelola Akun Medsos Orang yang Sudah Meninggal

-

Tidak ada video disisipkan.

BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Pernahkah Anda membayangkan tetap bisa berinteraksi dengan orang tercinta di media sosial meskipun mereka telah tiada? Meta, raksasa teknologi di balik Facebook dan Instagram, baru saja mematenkan sebuah inovasi yang membuat bulu kuduk berdiri sekaligus memicu perdebatan etika yang sengit: teknologi AI yang mampu menghidupkan kembali “jiwa digital” seseorang.

Melalui paten terbarunya, Meta mengembangkan sistem berbasis Kecerdasan Buatan (AI) yang memungkinkan akun media sosial tetap aktif, mengunggah konten, hingga membalas komentar secara otomatis setelah pemilik aslinya meninggal dunia.

Bagaimana Cara Kerja AI “Penghuni” Akun Ini?

Inovasi ini tidak sekadar bot biasa. Meta memanfaatkan teknologi Large Language Model (LLM) atau model bahasa besar yang sangat canggih. Mesin virtual ini akan bertindak sebagai “pengisap data” yang mempelajari seluruh rekam jejak digital pengguna semasa hidupnya.

Data-data yang dianalisis meliputi:

  • Riwayat Unggahan: Mempelajari topik apa yang sering dibahas.
  • Gaya Bahasa: Meniru pilihan kata, slang, hingga penggunaan emoji yang khas.
  • Pola Komentar: Menganalisis bagaimana pengguna bereaksi terhadap konten tertentu.
  • Interaksi Sosial: Memahami hubungan pengguna dengan teman atau pengikutnya.

Hasilnya? Sebuah asisten virtual yang mampu memalsukan kehadiran manusia dengan tingkat kemiripan yang luar biasa. Akun tersebut tidak lagi menjadi “kuburan digital” yang statis, melainkan entitas aktif yang bisa berinteraksi seolah-olah sang pemilik masih bernapas di balik layar.

Baca Juga:

Meta Minta Penjadwalan Ulang Bahas PP Tunas dengan Komdigi

Meta PHK Ratusan Karyawan, Fokus Perkuat Investasi AI

Motif Bisnis di Balik “Kematian Digital”

Mengapa Meta tertarik mengembangkan teknologi ini? Jawabannya klasik: Engagement (keterlibatan pengguna).

Dalam industri media sosial, trafik adalah segalanya. Akun milik tokoh publik atau pengguna dengan pengikut besar memiliki nilai komersial yang tinggi. Dengan menjaga akun tersebut tetap “hidup” dan interaktif, Meta memastikan arus data dan perhatian pengguna di profil tersebut tidak pernah mati.

Selain untuk orang meninggal, teknologi ini kabarnya juga disiapkan bagi pengguna yang sedang vakum atau mengambil istirahat panjang dari media sosial (digital detox), agar algoritma mereka tetap terjaga.

Tren Grief Tech dan Ancaman Trauma Psikologis

Langkah Meta ini mempertegas tren industri baru yang disebut sebagai Grief Tech atau teknologi kedukaan. Meskipun tujuannya terdengar mulia—yakni membantu mengobati kerinduan—banyak pihak justru merasa khawatir.

Laporan dari Business Insider menyoroti bahwa simulasi digital orang mati dapat membawa dampak psikologis negatif bagi keluarga yang ditinggalkan. Bukannya membantu proses mengikhlaskan, kehadiran AI yang meniru mendiang justru bisa menimbulkan trauma berkepanjangan dan rasa “dihantui” oleh bayang-bayang masa lalu.

Ada pula risiko etika yang besar. Algoritma AI tetaplah mesin yang tidak memiliki empati. Ada kekhawatiran bahwa AI tersebut bisa melontarkan komentar yang tidak pantas atau tidak sensitif di saat keluarga sedang berduka, yang justru memicu konflik emosional baru.

Masih Sebatas Konsep: Haruskah Kita Panik?

Meski paten ini telah resmi terdaftar, manajemen Meta menegaskan bahwa teknologi ini masih berstatus konsep dasar. Di dunia teknologi, mematenkan ide gila adalah hal lumrah untuk mengamankan hak intelektual, meski produknya belum tentu akan dirilis ke publik dalam waktu dekat.

Namun, pengamat mengingatkan adanya kekosongan hukum terkait privasi data post-mortem (pasca-kematian). Saat ini, undang-undang perlindungan data pribadi di banyak negara umumnya hanya melindungi subjek yang masih hidup. Hal ini memberikan celah bagi perusahaan teknologi untuk mengeksploitasi data orang yang telah meninggal demi keuntungan bisnis.

Kesimpulan: Pentingnya Wasiat Digital

Munculnya paten Meta ini menjadi pengingat bagi kita semua tentang pentingnya kesadaran privasi digital. Di masa depan, mungkin kita tidak hanya perlu menyiapkan warisan harta, tetapi juga “Wasiat Digital”.

Apakah Anda ingin akun Anda dikelola oleh AI setelah tiada, atau lebih memilih untuk menghapusnya selamanya? Keputusan tersebut kini menjadi krusial di tengah ambisi teknologi yang kian mengaburkan batas antara dunia nyata dan rekayasa perangkat lunak.

Baca berita lainnya di Google News dan Whatsapp Channel
Berita Terkait
Berita Terkini
WhatsApp Image 2026-07-15 at 19.50
Ketua DPRD Kota Bekasi Jadi Narasumber Kajian Lemhannas RI, Soroti Pentingnya Aspirasi Generasi Muda dalam Politik
WhatsApp Image 2026-07-15 at 15.48
DPRD Kota Bekasi Soroti TPP PPPK 2025, Desak Kejelasan Janji Kenaikan Tunjangan
WhatsApp Image 2026-07-13 at 15.24
Banggar DPRD Kota Bekasi Bahas Tindak Lanjut LHP BPK dan Raperda Pertanggungjawaban APBD 2025
WhatsApp Image 2026-07-13 at 15.03
NPCI Kota Bekasi Jajaki Sinergi dengan DPRD, Matangkan Persiapan Menuju PEPARPROV VII Jabar 2026
bank bjb ORI030
bank bjb Hadirkan ORI030, Pilihan untuk Membangun Masa Depan Lebih Sejahtera
Berita Lainnya

1

Prediksi Skor Hamburger SV vs Bayer Leverkusen Bundesliga 2025/2026, Duel Krusial di Volksparkstadion

2

Tips Mengobati Luka Melepuh Akibat Gigitan Tomcat, Jangan Digaruk!

3

Brace Cristiano Ronaldo Warnai Kemenangan Al Nassr atas Al Gharafa di Liga Champions Asia

4

Ribuan Atlet Jawa Barat Ikut Pengukuhan Pelatda PON XXI/2024

5

Titi DJ & Thomas Djorghi Rilis Duet Bertemu 5000 Detik
Headline
IMG-20260718-WA0005
Ketua DPRD Kota Bekasi Hadiri Raker dan Halal Bihalal Sahabat MUI, Dorong Dakwah Kolaboratif untuk Kota yang Harmonis
Lamine Yamal
Spanyol Lanjutkan Dominasi atas Prancis, Tiga Kemenangan Beruntun Antar La Furia Roja ke Final Piala Dunia 2026
Spanyol
Prediksi Skor Spanyol vs Belgia: La Roja Andalkan Tembok Kokoh, The Red Devils Siap Beri Kejutan
WhatsApp Image 2026-07-09 at 18.58
Farhan: Pendapatan Daerah Kota Bandung 2025 Capai Rp3,79 Triliun