BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Udara pegunungan terasa lebih dingin ketika kendaraan mulai menanjak di kaki Gunung Ungaran. Pepohonan rapat, kabut tipis, dan hamparan hijau yang memanjakan mata menjadi pertanda bahwa hiruk-pikuk kota perlahan tertinggal. Di sanalah Desa Wisata Lerep, sebuah desa yang menawarkan ketenangan, kehangatan warga, serta pengalaman wisata yang tak sekadar untuk dinikmati, tetapi juga dipelajari dan dirasakan.
Begitu tiba, suasana desa langsung menyambut dengan ritme yang berbeda. Tidak ada klakson kendaraan atau deru mesin yang memekakkan telinga. Yang terdengar justru suara ayam berkokok, gemericik air, dan tawa warga yang bertegur sapa. Lerep seolah mengajak setiap tamu untuk melambat, menyesuaikan langkah dengan denyut kehidupan desa yang tenang dan bersahaja.
Desa ini terletak di Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, sekitar 45 menit perjalanan dari pusat Kota Semarang. Meski aksesnya mudah dan jalannya sudah baik, Lerep tetap terasa seperti dunia kecil yang terpisah dari rutinitas perkotaan. Udara sejuk khas pegunungan dan lanskap hijau membuat siapa pun betah berlama-lama.
Desa yang Mengajak Wisatawan Ikut Hidup Bersama Warga
Di Lerep, wisata tidak hanya tentang melihat, tetapi juga tentang ikut terlibat. Konsep Edu-Ecotourism yang dikembangkan desa ini membuka ruang bagi wisatawan untuk merasakan langsung kehidupan pedesaan. Anak-anak hingga orang dewasa bisa turun ke sawah, belajar menanam padi, memberi makan ternak, atau menyaksikan proses pengolahan susu sapi dan kopi dari tangan warga sendiri.
Aktivitas ini terasa sederhana, namun justru di situlah letak pesonanya. Banyak wisatawan mengaku pengalaman tersebut menjadi momen langka, menyentuh tanah, merasakan lumpur di kaki, dan memahami betapa alam menjadi penopang utama kehidupan masyarakat desa.
Konsep wisata edukatif ini tak lepas dari peran aktif warga dan generasi muda Lerep. Sejak pengelolaan desa wisata dialihkan ke BUMDes pada 2017, kolaborasi antara pemuda dan pengelola desa kian terasa. Ide-ide kreatif bermunculan, mulai dari paket wisata tematik hingga pengembangan atraksi berbasis budaya dan alam.
Baca Juga:
Eksotisme Desa Wisata Sawarna, Surga Tersembunyi di Pesisir Selatan Banten
Menyusuri Pesona Alam dan Tradisi
Salah satu titik favorit wisatawan adalah Embung Sebligo, waduk kecil yang terletak di tengah lanskap perbukitan. Di sini, pengunjung bisa menikmati udara sejuk sambil menaiki perahu bebek, bersantai di tepi embung, atau sekadar duduk menikmati pemandangan. Tak sedikit wisatawan yang datang hanya untuk mengabadikan senja yang jatuh perlahan di balik perbukitan.
Tak jauh dari sana, Curug Indrokilo mengalir jernih di tengah rimbunnya pepohonan. Gemuruh air terjun berpadu dengan aroma tanah basah menciptakan suasana yang menenangkan. Banyak pengunjung memilih duduk diam di sekitarnya, membiarkan pikiran beristirahat sejenak dari rutinitas.
Desa Lerep juga dikenal lewat paket wisata budaya seperti “Pulang ke Rumah Nenek”, yang membawa wisatawan menyelami suasana desa tempo dulu. Dari belajar bertani, membuat kerajinan bambu, membatik, hingga memasak makanan tradisional, semua dilakukan bersama warga. Hangatnya interaksi itulah yang sering membuat wisatawan merasa bukan sekadar tamu, melainkan bagian dari keluarga desa.
Rasa, Cerita, dan Kehangatan Desa
Jika berkunjung di waktu tertentu, wisatawan bisa menjumpai Pasar Kuliner Tempo Doeloe. Aroma masakan tradisional menyeruak dari setiap sudut, disajikan dengan bungkus daun dan anyaman bambu. Di sela mencicipi jajanan, pengunjung disuguhi atraksi seni dan tradisi lokal yang membuat suasana pasar terasa hidup dan penuh cerita.
Di Lerep, setiap sudut menyimpan kisah. Dari sawah yang digarap bersama, embung yang menjadi ruang berkumpul, hingga dapur warga tempat cerita-cerita sederhana mengalir tanpa disadari. Desa ini bukan hanya menawarkan destinasi, tetapi menghadirkan pengalaman tentang hidup yang lebih dekat dengan alam, tradisi yang dijaga dengan sepenuh hati, dan keramahan yang tulus.
Desa Wisata Lerep mengajarkan bahwa liburan tak selalu tentang kemewahan. Terkadang, yang paling berkesan justru datang dari kesederhanaan: udara segar, senyum warga, dan pengalaman hidup yang dirasakan dengan perlahan.
(Budis)







