BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Kota Bandung kembali menjadi sorotan dunia panjat tebing. Menjelang perayaan Hari Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia, EIGER Independence Sport Climbing Competition (EISCC) ke-17 resmi digelar di EIGER Adventure Flagship Store, Jalan Sumatra, Kota Bandung.
Kompetisi bergengsi ini diikuti lebih dari 200 atlet panjat tebing dari berbagai daerah di Indonesia. Tak hanya atlet nasional, sejumlah nama yang telah mengukir prestasi di tingkat dunia juga turut ambil bagian.
Salah satu yang paling dinantikan adalah Putra Tri Ramadani atau yang akrab disapa Srondeng. Atlet Indonesia tersebut tengah berada dalam momentum terbaik setelah mencetak sejarah pada Juni 2026 dengan meraih medali emas nomor lead di World Climbing Series di Praha, Republik Ceko.
Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa atlet panjat tebing Indonesia mampu bersaing di level dunia, khususnya pada nomor lead yang menuntut kombinasi daya tahan, teknik, konsentrasi, dan kemampuan memecahkan masalah di jalur yang panjang dan kompleks.
Dalam ajang tersebut, Srondeng bahkan mampu mengungguli sejumlah atlet papan atas dunia, seperti Alberto Gines Lopez yang berada di peringkat pertama dunia, Neo Suzuki peringkat keempat dunia, serta Sorato Anraku peringkat kelima dunia.
Kini, penampilan Srondeng bisa kembali disaksikan langsung oleh masyarakat Indonesia melalui EISCC ke-17. Ia akan bersaing di kategori lead bersama sejumlah atlet nasional dan internasional lainnya.
Deretan nama yang turut tampil antara lain Alma Ariella yang menjadi salah satu rising star kategori lead putri, Sukma Lintang yang menempati peringkat ke-18 World Cup Wujiang 2025, Raji’ah Sallsabillah peringkat keempat Olimpiade Paris 2024, Rahmad Adi juara IFSC World Cup Chamonix 2023, serta Raharjati Nursamsa yang merupakan juara World Cup Jakarta 2023 dan Kraków 2025.
Ketua Pelaksana EISCC 2026, Nara Witaraga, mengatakan kompetisi tahun ini tidak hanya diperuntukkan bagi atlet profesional. EISCC juga membuka ruang bagi masyarakat umum dan komunitas panjat tebing untuk ikut merasakan atmosfer kompetisi.
“ Ada kategori Speed Rookie untuk mahasiswa pencinta alam, Spray Challenge untuk peserta non-atlet, serta Fun Boulder dengan beragam doorprize menarik bagi audiens yang hadir,” ujar Nara.
Menurutnya, antusiasme peserta menunjukkan bahwa olahraga panjat tebing semakin berkembang dan menjadi bagian dari tren olahraga di tengah masyarakat.
Hal itu terlihat dari kehadiran peserta nonprofesional yang datang dari berbagai daerah. Komunitas, klub, hingga sekolah panjat tebing turut mengirimkan tim untuk ambil bagian dalam kompetisi.
“EISCC tahun ini, para atlet nonprofesional pun datang dari lokasi yang jauh. Komunitas panjat, klub panjat, bahkan sekolah-sekolah panjat dari banyak daerah mendaftarkan timnya sebagai kategori non-atlet. Semoga terselenggaranya EISCC tahun ini memberikan ruang yang baik dan positif bagi ekosistem panjat tebing Indonesia,” katanya.
EISCC dan Sejarah Panjang Panjat Tebing Indonesia
Perjalanan EISCC tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan panjat tebing di Indonesia. Salah satu pendiri Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) sekaligus EIGER Adventure Technical Advisor, Mamay S. Salim, mengungkapkan bahwa tonggak penting perjalanan tersebut berawal dari Ekspedisi Gunung Eiger pada 1986.
Ekspedisi yang digagas Harry Suliztiarto, yang juga merupakan salah satu pendiri FPTI, berhasil mencapai puncak Gunung Eiger. Peristiwa tersebut kemudian menjadi salah satu titik penting dalam perkembangan panjat tebing modern di Indonesia.
Dua tahun berselang, tepatnya 21 April 1988, berdiri Federasi Panjat Tebing dan Gunung Indonesia (FPTGI), yang kemudian berganti nama menjadi Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) pada 1990.
Ekspedisi Eiger 1986 juga turut menginspirasi Ronny Lukito untuk mendirikan EIGER Adventure pada 1989. Sejak awal, EIGER berfokus pada pengembangan perlengkapan untuk berbagai aktivitas luar ruang.
Perjalanan tersebut berlanjut pada 1992 ketika EIGER membuka toko pertamanya di Jalan Cihampelas, Bandung. Toko tersebut dilengkapi papan panjat modern yang menjadi salah satu sarana latihan bagi para atlet.
Pada 2001, EIGER kemudian membangun papan panjat modern pertama di Indonesia menggunakan material resin berstandar internasional. Pada tahun yang sama, lahirlah EIGER Independence Sport Climbing Competition atau EISCC.
“Sejak itu, EIGER dan panjat tebing Indonesia tumbuh bersama. Dari 2001 hingga edisi ke-17 pada 2026, EISCC rutin digelar setiap 17 Agustus. Kompetisi ini telah melahirkan banyak atlet berprestasi dunia yang kini mewakili Indonesia di kancah internasional,” kata Mamay.
Jejak panjang tersebut terus berlanjut hingga generasi atlet Indonesia saat ini. Dari ekspedisi Eiger 1986, lahirnya FPTI dan EIGER Adventure, hingga para atlet yang kini mengibarkan Merah Putih di podium dunia.
Salah satunya adalah Veddriq Leonardo yang mencatat sejarah sebagai peraih medali emas pertama Indonesia dari cabang panjat tebing di Olimpiade Paris 2024.
Merayakan Kemerdekaan Lewat Panjat Tebing
Memasuki edisi ke-17, EISCC tidak hanya hadir sebagai ajang kompetisi, tetapi juga menjadi bagian dari perayaan semangat kemerdekaan, sportivitas, dan prestasi olahraga Indonesia.
Masyarakat dapat menyaksikan langsung aksi para atlet nasional maupun juara dunia yang berlaga di Bandung. Menariknya, acara ini terbuka untuk umum dan dapat disaksikan secara gratis.
Kehadiran EISCC ke-17 sekaligus menjadi momentum untuk mempertemukan atlet profesional, komunitas, generasi muda, dan masyarakat dalam satu semangat: memajukan olahraga panjat tebing Indonesia sekaligus merayakan kemerdekaan dengan cara yang berbeda.
Dari Bandung, semangat Merah Putih kembali dipanjatkan—menuju prestasi yang lebih tinggi di panggung dunia.











