BANDUNG,TEROPONGMEDIA.ID —–Sebanyak 1.000 peneliti terkemuka dari seluruh Indonesia berkumpul di Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) ITB Bandung, untuk mengikuti Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri (KSTI) 2025 yang berlangsung selama tiga hari, mulai Kamis (7/8/2025) hingga Sabtu (9/8/2025).
Acara prestisius ini juga dihadiri oleh 350 rektor dari perguruan tinggi negeri dan swasta yang menjadikannya forum strategis terbesar untuk memperkuat sinergi antara dunia riset, pendidikan tinggi, dan industri nasional.
Presiden Republik Indonesia ke-8, Prabowo Subianto, hadir langsung untuk membuka acara. Turut mendampingi sejumlah tokoh penting kabinet, termasuk Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Rachmat Pambudy.
Konvensi ini menghadirkan dua penerima Nobel Fisika dunia, yakni Konstantin Novoselov dan Brian Schmidt, sebagai pembicara kunci yang diharapkan dapat menginspirasi generasi ilmuwan Indonesia.
Baca Juga:
Tempuh 45 Menit ke Bandung, Prabowo Pilih Kereta Cepat Whoosh Bersama Masyarakat
Sambutan Meriah Warga Warnai Kedatangan Prabowo di Kota Bandung
“Kami mengundang 1.000 peneliti dengan H-index di atas 15 serta 350 rektor dari seluruh Indonesia. Tujuannya adalah untuk menciptakan ruang kolaborasi dan memperkuat arah riset nasional,” kata Menteri Brian Yuliarto.
Brian menekankan pentingnya mendorong mimpi besar di kalangan peneliti muda, termasuk mahasiswa pascasarjana yang juga turut diundang dalam konvensi dengan total peserta mencapai 2.000 orang.
“Nobel bukan sekadar hadiah, tapi bentuk kontribusi tertinggi bagi kemanusiaan. Melalui forum ini, kita ingin mendorong peneliti Indonesia untuk berpikir global dan berdampak besar,” ucapnya.
Tak hanya sekadar forum ilmiah, KSTI 2025 menjadi ajang penting untuk membahas kebijakan strategis nasional di bidang riset dan teknologi. Para menteri yang hadir dijadwalkan menyampaikan paparan terkait arah pembangunan inovasi, hilirisasi industri, dan transformasi ekonomi Indonesia.
Brian menegaskan kunci kemajuan Indonesia terletak pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama dalam menggeser orientasi ekonomi dari ekstraktif menjadi berbasis inovasi.
“Tanpa sains dan teknologi, kita tidak bisa mencapai pemerataan dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” tegasnya.
Konvensi ini menjadi langkah konkret pemerintah dalam memperkuat ekosistem riset dan inovasi nasional, sekaligus menegaskan komitmen Indonesia dalam menjadikan ilmu pengetahuan sebagai fondasi pembangunan bangsa ke depan. (Kyy/_Usk)
