Ketika Iman Jadi Konten: Agama di Tengah Kapitalisme Digital

-

Tidak ada video disisipkan.

Bagaimana media sosial mengubah cara kita beriman, berdakwah, dan memahami kesalehan di era algoritma

Penulis : Asmarandani Heryadi Putri M.Sos, CPR .

Mahasiswa Doctoral Prodi Studi Agama-Agama Konsentrasi Agama dan Media, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

Fenomena komodifikasi agama di media sosial menunjukkan pergeseran dari nilai spiritual menuju logika pasar digital. Artikel ini membahas bagaimana dakwah, konten keagamaan, dan gaya hidup religius kini terjalin dalam kapitalisme digital  sekaligus mengajak kita menumbuhkan etika komunikasi spiritual di dunia maya.

Hari ini, agama tak hanya hidup di tempat ibadah, tapi juga di layar ponsel kita. Dari ceramah singkat di TikTok, doa di YouTube, hingga kutipan ayat di Instagram  semua menjadi bagian dari kehidupan spiritual digital. Teknologi telah mengubah cara kita beriman dan berbicara tentang Tuhan.

Namun di balik kemudahan itu, muncul dilema baru: apakah agama yang tampil di media sosial masih menyentuh kedalaman iman, atau justru menjadi bagian dari industri konten digital? Di sinilah muncul istilah komodifikasi agama, yaitu ketika ajaran dan simbol religius dikemas seperti produk untuk menarik perhatian publik.

Fenomena ustaz selebgram atau influencer hijrah menjadi contoh nyata. Dakwah kini tampil dengan gaya visual modern, durasi singkat, dan editing dinamis. Tujuannya mulia menyebarkan kebaikan  tapi ketika popularitas menjadi ukuran dakwah, muncul pertanyaan: apakah kesuksesan spiritual kini diukur dari jumlah followers?

Menurut Marshall McLuhan, “medium is the message”  bentuk media memengaruhi isi pesan. Agama yang hadir lewat video dan citra visual tak lagi murni pengalaman batin, melainkan bagian dari budaya tontonan. Kita tak hanya mendengar pesan iman, tapi juga “melihat” dan “menilai” tampilannya.

Dalam kapitalisme digital, perhatian adalah mata uang. Setiap klik dan like bernilai ekonomi. Karena itu, konten agama pun bersaing dengan hiburan dan politik untuk memperebutkan ruang di algoritma. Spiritualitas pun beradaptasi: harus menarik, singkat, dan viral agar tetap eksis di linimasa.

Meski begitu, media digital bukan sepenuhnya negatif. Ia membuka ruang baru bagi ekspresi iman yang lebih terbuka dan partisipatif. Kini siapa pun bisa berdakwah, berdiskusi lintas iman, dan menemukan komunitas spiritual tanpa batas geografis. Media sosial menjadi arena baru bagi kesadaran religius yang lebih demokratis.

Namun, kebebasan digital juga membawa risiko banalitas spiritual. Kesalehan kadang tampil sebagai citra  gaya hidup religius yang lebih visual daripada reflektif. Kita mudah terjebak dalam “kesalehan performatif,” di mana iman diukur dari tampilan, bukan pemaknaan.

Di sinilah pentingnya etika komunikasi. Filsuf Emmanuel Levinas mengingatkan bahwa iman sejati lahir dari tanggung jawab terhadap sesama. Dakwah di media sosial seharusnya tidak sekadar mengajar, tetapi juga menghadirkan empati, kasih, dan kejujuran  bukan sekadar konten yang viral.

Sebagai pengguna media, kita perlu menjadi umat yang kritis. Tidak semua yang tampak religius adalah kebenaran spiritual. Kita harus bisa membedakan antara konten yang mendidik dan yang hanya menjual citra. Dengan begitu, kita menjaga agar iman tidak tergantung pada algoritma.

Akhirnya, fenomena komodifikasi agama bukan tanda kemunduran iman, melainkan panggilan untuk lebih sadar. Teknologi bukan musuh spiritualitas  ia hanya alat. Jika digunakan dengan niat yang tulus dan etika yang baik, dunia digital justru bisa menjadi ruang baru perjumpaan manusia dengan Tuhan.

Baca berita lainnya di Google News dan Whatsapp Channel
Berita Terkait
Berita Terkini
IMG-20260815-WA0004
Jumat Berkah PLN UP3 Majalaya, Hadirkan Semangat Berbagi di Momentum HUT ke-81 RI
WhatsApp Image 2026-08-15 at 11.52
KPU Kota Bandung Ajak Pemilih Pemula SMK Al-Hadi Jadi Pemilih Cerdas Lewat Pilketos
SAVE_20260815_081923
Memahami Aturan Pajak UMKM Terbaru: Tarif Tetap 0,5%, Berlaku Selamanya untuk Orang Pribadi
Gambar_stadion_segiri
Borneo FC Dapat Kepercayaan AFC, Samarinda Jadi Panggung Kompetisi Asia
WhatsApp Image 2026-08-14 at 12.30
Tangis Siswa Pecah di SD Kademangan, KKN UIN Bandung 203 Sorot Budaya Ejek di Kelas
Berita Lainnya

1

Tips Mengobati Luka Melepuh Akibat Gigitan Tomcat, Jangan Digaruk!

2

6 Daftar Wisata, Dulu Favorit Sekarang Ditinggal Pengunjung

3

Cegah Zoonosis, Pemkot Bandung Gelar Vaksinasi Hingga Sterilisasi Hewan Peliharaan Gratis di Kelurahan Ciumbuleuit

4

Siapa Thomas Matthew Crooks Penembak Donald Trump? Terdaftar Pemilih Partai Republik

5

Headline
WhatsApp Image 2026-08-15 at 17.09
Pesta Rakyat Meriahkan Pembukaan Alun-alun Bandung pada 17 Agustus
WhatsApp Image 2026-08-14 at 15.03
Semangat Kemerdekaan Jadi Energi Kota Bandung Hadapi Berbagai Tantangan
siaran-pers-bersama-bank-bjb-x-persib-3-2
Kembali Berkolaborasi, bank bjb dan PERSIB Satukan Semangat Juara
WhatsApp Image 2026-08-13 at 17.36
Bandung Dorong Transformasi dari Smart City Menuju Data-Driven City