BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Dua mahasiswa Teknik Bioenergi dan Kemurgi Institut Teknologi Bandung (ITB), Arsyad Arif Novitrian dan Indah Patricia Suwandoro, menghadirkan inovasi energi alternatif ramah lingkungan melalui pengembangan bio-briket berbahan limbah organik. Inovasi ini memanfaatkan daun kering dan serabut kelapa yang melimpah di lingkungan sekitar kampus sebagai sumber energi terbarukan.
Bio-briket tersebut dirancang agar efisien, minim asap, dan sepenuhnya biodegradable. Keunggulan utamanya terletak pada formulasi bahan baku yang mengombinasikan dua karakter berbeda. Daun kering berfungsi sebagai pemantik alami karena mudah menyala, sementara serabut kelapa yang kaya lignin memberikan daya bakar lebih lama dan stabil.
“Kami menggabungkan daun kering yang cepat terbakar dengan serabut kelapa yang memiliki struktur arang kuat, sehingga briket menjadi lebih efisien,” ujar Arsyad, dikutip dari laman resmi ITB, Senin (19/1/2026).
Sebagai perekat, tim menggunakan pati tapioka alami, sehingga seluruh komponen bio-briket tetap ramah lingkungan. Daun kering dikumpulkan dari area Kampus ITB Jatinangor, sedangkan serabut kelapa berasal dari limbah rumah tangga.
Proses pembuatan bio-briket ini tergolong sederhana dan mudah direplikasi. Limbah organik terlebih dahulu dikeringkan, kemudian melalui proses karbonisasi menggunakan kaleng tertutup hingga menjadi arang. Arang tersebut dihaluskan, dicampur perekat tapioka, dicetak secara manual, lalu dijemur kembali selama dua hingga tiga hari di bawah sinar matahari.
Baca Juga:
Mahasiswa Unram Raih Juara Nasional Inovasi Digital Budaya Kementerian Kebudayaan
Bio-briket karya mahasiswa ITB ini memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya mudah dinyalakan, memiliki durasi bakar lebih lama, serta menghasilkan asap dan bau yang jauh lebih rendah dibandingkan pembakaran limbah organik secara langsung. Selain itu, abu sisa pembakaran masih dapat dimanfaatkan sebagai pupuk, sehingga tidak menimbulkan residu berbahaya.
Inovasi ini dipamerkan dalam ajang “ALICE: Abyanara’s Legendary Imagination, Creativity, and Enchantment”, pameran karya mahasiswa Teknik Bioenergi dan Kemurgi angkatan 2024. Pameran tersebut menjadi ruang aktualisasi penerapan ilmu keteknikan dalam menjawab persoalan energi dan lingkungan.
Dari sisi ekonomi, bio-briket ini dinilai memiliki prospek menjanjikan. Jika diproduksi secara massal, biaya produksi diperkirakan berkisar Rp500–1.000 per briket, dengan harga jual Rp1.500–2.000 per unit. “Usaha ini berpotensi menguntungkan sekaligus membantu pengelolaan limbah organik,” ungkap tim pengembang.
Meski demikian, tantangan masih dihadapi, terutama dalam menstandardisasi komposisi bahan baku dan proses pengeringan yang pada tahap awal belum konsisten. Ke depan, tim berencana melakukan uji nilai kalor dan emisi secara kuantitatif di laboratorium, menetapkan standar harga, serta menggandeng bank sampah dan UMKM lokal untuk membangun model ekonomi sirkular berbasis energi terbarukan.










