BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Sebagai langkah nyata dalam memberdayakan masyarakat pesisir, tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Pengabdian kepada Masyarakat (Abmas) Departemen Teknik Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menginisiasi program BioTiram di Kelurahan Sukolilo Baru, Surabaya.
Program ini menghadirkan inovasi pengolahan limbah kulit udang menjadi pupuk organik yang bernilai ekonomi dan ramah lingkungan.
Melalui pendekatan edukatif dan praktis, kegiatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan akibat limbah udang yang melimpah di kawasan tersebut.
Divisi Persyaratan Hak Cipta dan Karya Cipta ITS, Nurul Istiqomah, menjelaskan bahwa ide program ini berawal dari banyaknya limbah udang yang tidak termanfaatkan. Bau menyengat dari sisa kulit udang yang menumpuk di beberapa titik pemukiman menjadi salah satu alasan utama lahirnya inovasi ini.
“Hampir setiap gang tercium aroma udang. Dari situ muncul ide untuk mengolah kulit udang menjadi pupuk organik yang bisa digunakan sekaligus dijual oleh masyarakat,” kata Nurul, melansir ITS.
Program bertajuk “BioTiram: Solusi Pengolahan Limbah Kulit Udang Menjadi Pupuk Organik sebagai Peluang Bisnis Jamur Tiram Berkelanjutan di Daerah Pesisir Sukolilo Baru” ini dilaksanakan melalui rangkaian kegiatan sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan kepada warga. Dalam pelaksanaannya, tim bekerja sama dengan beberapa Kelompok Usaha Bersama (KUB) setempat agar masyarakat mampu memproduksi pupuk organik secara mandiri.
Proses pembuatan pupuk dilakukan dengan metode sederhana: kulit udang direbus, dijemur selama dua hingga tiga hari, kemudian ditumbuk hingga halus dan dicampur dengan media jamur tiram. Hasilnya, warga dapat dengan mudah mempraktikkan cara tersebut tanpa memerlukan peralatan khusus.
“Banyak warga tertarik mengembangkan usaha jamur tiram karena prosesnya mudah dan hasilnya menjanjikan,” ujar Nurul.
Program ini mulai menunjukkan dampak positif. Warga kini menyadari bahwa limbah yang selama ini dibuang ternyata memiliki nilai ekonomi. Sebagian di antaranya sudah mencoba menjual hasil olahan pupuk sekaligus menggunakannya untuk mempercepat pertumbuhan jamur tiram.
“Ilmu yang kami bagikan membuka peluang usaha baru bagi masyarakat pesisir,” tambahnya.
Tidak hanya berhenti pada pelatihan, tim KKN ITS juga menyiapkan strategi keberlanjutan melalui pendampingan pemasaran dan pembangunan jejaring mitra. Upaya ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem usaha yang mandiri dan berkelanjutan bagi warga Sukolilo Baru.
“Kami tengah menjajaki kerja sama dengan mitra penyalur agar hasil produksi warga bisa terserap pasar secara konsisten,” jelas Nurul.
Dengan bekal keterampilan baru ini, masyarakat Sukolilo Baru kini memiliki peluang besar untuk meningkatkan kemandirian ekonomi berbasis sumber daya lokal. Tim BioTiram berharap inovasi tersebut dapat diterapkan di wilayah pesisir lainnya di Indonesia.
Baca Juga:
Teh Kelor dan Tepung Jagung Sehat, Inovasi Mahasiswa Itera yang Siap Go Publik
”Memayu Ning Papat” Inovasi Mahasiswa UB Masuk Top 6 Dunia di Kompetisi Pangan Internasional
“Kami ingin inovasi ini menjadi inspirasi bagi masyarakat pesisir lain untuk memanfaatkan potensi alam sekitar sebagai sumber ekonomi berkelanjutan,” pungkas Nurul.
Program BioTiram juga sejalan dengan komitmen ITS dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 5 tentang kesetaraan gender, poin 11 mengenai kota dan permukiman berkelanjutan, serta poin 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.
(Vini Virdiyanti/_Usk)











