Idul Fitri 1447 H Diprediksi Tak Serempak, Kemenag Tunggu Sidang Isbat

Kartu Ucapan Hari Raya Idul Fitri
(freepik)
-

Tidak ada video disisipkan.

JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID – Kementerian Agama menyatakan posisi hilal pada akhir Ramadan 1447 Hijriah secara perhitungan astronomi belum sepenuhnya memenuhi kriteria visibilitas hilal yang ditetapkan oleh negara anggota MABIMS yang terdiri dari Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Direktur Urusan Agama Islam Kementerian Agama Republik Indonesia Arsad Hidayat menjelaskan berdasarkan perhitungan hisab, ketinggian hilal pada akhir Ramadan berada di kisaran 0 hingga 3 derajat dengan posisi tertinggi berada di wilayah Aceh.

“Kalau berdasarkan hitungan hisab, ketinggian hilal sekitar 0 sampai 3 derajat dan yang tertinggi berada di wilayah Aceh. Kemudian untuk elongasi sekitar 4 sampai 6 derajat,” kata Arsad dalam konferensi pers di Jakarta, Senin.

Menurutnya, dalam standar yang digunakan oleh MABIMS, ketinggian hilal minimal harus mencapai 3 derajat dengan elongasi minimal 6,4 derajat. Dari sisi ketinggian, beberapa wilayah berpotensi memenuhi syarat, namun dari aspek elongasi masih belum mencapai batas minimal yang ditentukan dalam kriteria imkan rukyat.

Baca Juga:

Antisipasi Lonjakan Mobilitas Lebaran 2026, Kemenhub Siapkan Skema Terpadu

Kondisi tersebut membuka kemungkinan perbedaan penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah atau Idul Fitri 2026 antara pemerintah dan Muhammadiyah, sebagaimana yang terjadi pada penentuan awal Ramadan tahun ini.

Arsad menegaskan kepastian penetapan hari raya tetap menunggu hasil sidang isbat yang akan digelar pemerintah.

“Keputusan akhir tetap menunggu hasil sidang isbat yang akan dilaksanakan pada 19 Maret 2026,” ujarnya.

Sementara itu, Peneliti Pusat Riset Antariksa di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaluddin memperkirakan perbedaan penetapan 1 Syawal antara pemerintah dan Muhammadiyah kemungkinan besar terjadi.

Muhammadiyah sebelumnya telah menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada 20 Maret 2026 berdasarkan metode Kalender Hijriah Global Tunggal.

Sementara itu, berdasarkan metode hisab rukyat yang digunakan pemerintah dengan acuan kriteria MABIMS, posisi hilal pada saat Magrib 19 Maret 2026 di kawasan Asia Tenggara diperkirakan belum memenuhi syarat visibilitas.

Dengan kondisi tersebut, pemerintah berpotensi menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah pada 21 Maret 2026.

Baca berita lainnya di Google News dan Whatsapp Channel
Berita Terkait
Berita Terkini
image_870x_6a677bc509689
Daftar Lengkap Pemain Timnas Indonesia vs Vietnam di Piala AFF 2026
bank-bjb-pra-event-merbabu-trail-run-v2
Menabung di bank bjb Dapatkan Tiket Lari Merbabu Trail Run 2026
WhatsApp Image 2026-08-03 at 11.13
Menempatkan Kasus PT BDS dalam Perspektif Hukum dan Tata Kelola Pemerintahan
bank bjb dan pemkot bogor
bank bjb dan Pemkot Bogor Berkolaborasi Demi Wujudkan Perencanaan Pensiun yang Lebih Sejahtera
5 Rekomendasi Les Ngaji Online Anak dengan Jadwal Fleksibel
5 Rekomendasi Les Ngaji Online Anak dengan Jadwal Fleksibel
Berita Lainnya

1

2

Persib Dapat Suntikan Tenaga 'Baru' Jelang Hadapi Lion City Sailors

3

Tips Mengobati Luka Melepuh Akibat Gigitan Tomcat, Jangan Digaruk!

4

Viral Penembakan Kucing! Ini Hukum Bunuh Kucing Dalam Islam

5

Mursyid Asal Surabaya Dukung Gus Farkhan Evendi Jadi Utusan Presiden
Headline
WhatsApp Image 2026-08-02 at 20.20
Diterpa Badai Fitnah, Bupati Bandung KDS Tetap Tenang dan Fokus Bekerja
image_870x_6a677bc509689
Mitchell Baker Kokoh di Puncak Top Skor Piala AFF 2026
bank-bjb-earning-call-2q-2026-v3-4
bank bjb Cetak Laba Tumbuh 58,8%, Aset Tembus Rp228,2 Triliun
IMG-20260727-WA0003
Gilang Dorong Puskesmas di Jakasampurna, Akses Layanan Kesehatan Jadi Prioritas