Heboh Knetz vs Seablings, Benarkah Korea Selatan Negara Paling Rasis?

Korea Selatan Negara Paling Rasis?
Ilustrasi. (X/adegosiplagi)
-

Tidak ada video disisipkan.

JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Korea Selatan kembali menjadi sorotan publik internasional setelah perdebatan panas di platform X (sebelumnya Twitter) terkait komentar rasial warganet Korea (Knetz) terhadap negara-negara Asia Tenggara.

Konflik ini mempertemukan warganet Asia Tenggara yang menyebut diri mereka “Seablings” dengan komunitas daring Korea Selatan yang dikenal sebagai Knetz. Awalnya, perdebatan hanya terjadi di ruang digital, namun cepat berkembang menjadi diskursus lintas negara.

Isu yang muncul tidak lagi sebatas adu argumen, tetapi melebar ke persoalan budaya, kesenjangan ekonomi, hingga tuduhan rasisme.

Polemik Istilah “Seablings” di Media Sosial

Istilah “Seablings” yang beredar luas menuai kritik dari berbagai pihak. Banyak pengamat menilai penyebutan tersebut mengandung stereotipe yang merendahkan masyarakat Asia Tenggara.

Kontroversi ini memicu kemarahan luas karena dianggap merefleksikan pandangan hierarkis terhadap kawasan Asia Tenggara.

Namun penting dicatat, polemik ini bukan kasus tunggal. Sejumlah laporan internasional menunjukkan isu diskriminasi di Korea Selatan memiliki akar yang lebih panjang dan kompleks.

Komentar Anonim dan Minimnya Regulasi

Perdebatan “Seablings” juga menyoroti kuatnya budaya komentar anonim di ruang digital Korea Selatan.

Organisasi HAM seperti Human Rights Watch dan Amnesty International beberapa kali menyoroti lemahnya instrumen hukum spesifik untuk menangani diskriminasi daring di negara tersebut.

Kombinasi beberapa faktor berikut dinilai mempercepat penyebaran ujaran kebencian:

  • Anonimitas tinggi di platform daring
  • Nasionalisme digital yang kuat
  • Belum adanya undang-undang antidiskriminasi komprehensif
  • Penegakan hukum yang masih terbatas

Apakah Korea Selatan Negara Paling Rasis?

Label “negara paling rasis” bersifat normatif dan kontroversial. Namun sejumlah survei global memberikan gambaran penting.

Data dari World Values Survey menunjukkan tingkat penerimaan masyarakat Korea terhadap tetangga dari ras berbeda relatif lebih rendah dibanding banyak negara maju.

Sementara itu, laporan Organisation for Economic Co-operation and Development menyoroti tantangan besar dalam integrasi imigran dan keluarga multikultural di Korea Selatan.

Data Penting Diskriminasi

Survei Komisi Nasional HAM Korea (2019) mencatat:

  • 68,4% penduduk asing pernah mengalami diskriminasi rasial
  • 59,7% menyebut diskriminasi karena bukan orang Korea
  • 62,3% mengalami diskriminasi terkait kemampuan bahasa

Pada 2024, laporan U.S. News & World Report menempatkan Korea Selatan di peringkat ke-3 terburuk dalam indikator racial equity dari 89 negara yang disurvei.

Baca Juga:

Aktor Jung Eun-woo Meninggal Misterius, Unggahan Terakhir Bikin Heboh

6 Rekomendasi Drama Korea yang Seru Ditonton Saat Bulan Puasa

Akar Historis: Nasionalisme Etnis dan Konsep “Minjok”

Untuk memahami konteksnya, penting melihat konsep minjok — gagasan bahwa bangsa Korea merupakan satu ras homogen.

Narasi ini menguat setelah masa penjajahan Jepang dan Perang Korea sebagai alat pemersatu nasional. Namun dalam era globalisasi, konsep tersebut dinilai dapat memicu eksklusivitas terhadap orang asing.

Berbeda dengan negara multikultural seperti Amerika Serikat atau Kanada, Korea Selatan relatif baru menghadapi realitas masyarakat multietnis dalam skala besar.

Pekerja Migran Asia Tenggara Paling Rentan

Kelompok yang paling sering terdampak adalah pekerja migran dari Asia Tenggara.

Sejak awal 2000-an, pemerintah Korea Selatan menjalankan Employment Permit System (EPS) untuk merekrut tenaga kerja dari:

  • Indonesia
  • Filipina
  • Vietnam
  • Thailand
  • Nepal

Namun berbagai laporan dari Human Rights Watch menyebut adanya:

  • Jam kerja berlebihan
  • Kekerasan verbal dan fisik
  • Pembatasan mobilitas pekerja
  • Stereotipe rasial yang mengakar

Kasus kematian pekerja migran bahkan beberapa kali menjadi sorotan media internasional.

Kritik terhadap Industri Hiburan Korea

Industri hiburan Korea termasuk K-Pop dan Kdrama juga tidak lepas dari kritik global terkait sensitivitas rasial.

Beberapa insiden seperti penggunaan blackface di program televisi memicu kecaman internasional. Meski sejumlah agensi telah meminta maaf, kritik menyebut respons tersebut masih reaktif, belum sistemik.

Hingga kini, Korea Selatan belum memiliki undang-undang antidiskriminasi komprehensif yang melarang diskriminasi rasial di semua sektor.

Menurut Amnesty International, ketiadaan payung hukum kuat membuat korban kesulitan mencari keadilan. Situasi ini berbeda dengan banyak negara Uni Eropa yang telah memiliki regulasi lebih tegas.

Menentukan negara “paling rasis” di dunia membutuhkan kehati-hatian analitis. Rasisme adalah persoalan global.

Namun dalam konteks Korea Selatan, sejumlah faktor memang memperkuat tingginya laporan diskriminasi:

  • Warisan homogenitas etnis (minjok)
  • Nasionalisme yang kuat
  • Posisi rentan pekerja migran
  • Minimnya regulasi antidiskriminasi
  • Budaya komentar anonim

Kasus “Seablings” seharusnya tidak berhenti sebagai sensasi media sosial. Ia membuka ruang refleksi lebih luas tentang tantangan keberagaman di era global.

Transformasi menuju masyarakat yang lebih inklusif menjadi pekerjaan rumah penting—bukan hanya bagi Korea Selatan, tetapi juga komunitas global secara keseluruhan.

(Dist)

Baca berita lainnya di Google News dan Whatsapp Channel
Berita Terkait
Berita Terkini
WhatsApp Image 2025-05-27 at 13.34
Persib Kembali Dongkrak Ranking Indonesia di Asia
BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Persib Bandung kembali memberikan kontribusi penting bagi sepak bola...
nobar persib vs persija
Bus Persib U-18 Diserang di Batang, Persija: Rivalitas Bukan Alasan untuk Kekerasan
BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Rivalitas Persib Bandung dan Persija Jakarta kembali menjadi sorotan setelah...
arteta
Arteta Bertahan hingga 2030, Arsenal Siapkan Era Baru Setelah Akhiri Puasa Gelar
LONDON, TEROPONGMEDIA.ID – Arsenal menunjukkan keseriusan membangun era kejayaan baru bersama Mikel Arteta....
Jorge Martin
Marc Marquez Pangkas Jarak, Terpaut Dua Poin dari Jorge Martin
MOTEGI, TEROPONGMEDIA.ID – Persaingan perebutan gelar juara dunia MotoGP 2026 semakin panas setelah Marc...
IMG-20260930-WA0004
PLN UP3 Majalaya Intensifkan Pemeliharaan Jaringan Listrik, Jaga Keandalan Pasokan bagi Pelanggan
BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Majalaya...
Berita Lainnya

1

AC Milan
AC Milan Bawa Pulang Kemenangan Setelah Taklukan Como 2-1
BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — AC Milan berhasil kalahkan Como dengan skor 2-1 dalam pertandingan...

2

Pria gangguan kejiwaan gantung diri
–=DP[AOJ)(55)—dPD [45]

3

IMG_20240125_130319
Ribuan Atlet Jawa Barat Ikut Pengukuhan Pelatda PON XXI/2024
BANDUNG,TM.ID: Para atlet dari Kontingen Jawa Barat dari berbagai cabang olah raga (Cabor) mengikuti...

4

Wisata Studio Gamplong
Studio Alam Gamplong, Destinasi Perfilman Favorit di Sleman
BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Studio Alam Gamplong atau banyak yang mengenalnya dengan sebutan Studio...

5

Prediksi Skor Bodo/Glimt vs Inter UCL 2025/2026
Prediksi Skor Sporting vs Bodo/Glimt Liga Champions 2025/2026, Misi Comeback Lions di Liga Champions
BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Pertandingan leg kedua babak 16 besar UEFA Champions League akan mempertemukan...
Headline
Dorong Tata Kelola dan Kepastian Hukum, bank bjb Perkuat Kolaborasi dengan Kejati Banten
bank bjb Perkuat Kolaborasi dengan Kejati Banten Demi Peningkatan Tata Kelola dan Kepastian Hukum
BANTEN, TEROPONGMEDIA.ID – bank bjb memperkuat sinergi dengan Kejaksaan Tinggi Banten melalui Penandatanganan...
Ferry Paulus
Isu Panas Hak Persib Dipinjamkan LIB, Persija Layangkan Somasi
JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID – Persija Jakarta mengambil langkah hukum dengan melayangkan somasi kepada...
IMG-20260926-WA0015
Tunjukan Kartu Anggota di Rakorda PSI Kota Bandung, Jokowi: Sudah Setahun
BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Presiden Indonesia ketujuh Joko Widodo memamerkan kartu anggota Partai Solidaritas...
Hoaks Pemadaman Internet Tiga Hari Beredar, Masyarakat Diimbau Tak Panik
Hoaks Pemadaman Internet Tiga Hari Beredar, Masyarakat Diimbau Tak Panik
BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Informasi mengenai rencana pemadaman internet nasional selama tiga...