BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Dewan Pimpinan Provinsi (DPP) Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Barat periode 2026–2031 resmi dikukuhkan di eL Hotel Bandung pada Jumat (26/6/2026). Dalam kepengurusan periode kedua ini, Ning Wahyu Astutik kembali dipercaya untuk memimpin organisasi para pengusaha tersebut.
Namun, mengawali masa jabatan barunya, Ning Wahyu langsung dihadapkan pada tantangan berat. Sektor padat karya di Jawa Barat saat ini tengah dibayangi oleh ancaman gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Hal ini dipicu oleh ketidakpastian ekonomi global serta merosotnya angka pesanan ekspor, terutama ke pasar Amerika Serikat dan Timur Tengah. Ning mengungkapkan bahwa sudah ada sekitar empat hingga lima perusahaan padat karya yang berkonsultasi dengannya terkait kekhawatiran pengurangan tenaga kerja.
Menanggapi situasi tersebut, Ning menegaskan bahwa prioritas utama Apindo Jabar selama lima tahun ke depan adalah memastikan ketersediaan lapangan kerja tetap terjaga.
“Prioritas saya untuk periode kedua ini adalah memastikan bahwa masih tetap ada lapangan pekerjaan yang terus terbuka di Jawa Barat,” ujar Ning.
Untuk mencapai target tersebut, Apindo Jabar menerapkan dua strategi utama, yaitu aktif menarik investasi baru dan mempertahankan pelaku usaha atau industri yang sudah ada agar tidak hengkang. Selain itu, sebagai opsi menekan PHK, Apindo mendorong kebijakan pengurangan jam kerja alih-alih memberhentikan karyawan.
Ning optimistis Jawa Barat masih memiliki daya tarik kuat bagi para investor karena didukung oleh jumlah tenaga kerja yang melimpah, kawasan industri yang luas, serta kemudahan perizinan dari pemerintah daerah. Ke depan, Apindo berkomitmen untuk memperkuat struktur organisasi di tingkat daerah agar bisa menjadi mitra strategis sekaligus think tank bagi perekonomian pemerintah daerah di Jawa Barat.
Acara pelantikan ini turut dihadiri oleh Ketua Umum DPN Apindo Shinta Widjaja Kamdani, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, serta Executive Chairman B-Universe Enggartiasto Lukita.
Dalam sambutannya, Ketua Umum DPN Apindo Shinta Widjaja Kamdani membenarkan tantangan besar yang dihadapi industri manufaktur akibat gejolak geopolitik global yang memaksa sejumlah perusahaan mengurangi karyawannya. Shinta menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan dunia usaha melalui konsep Indonesia Incorporated.
“Tantangan yang ada tidak hanya untuk menggalang investor baru, tetapi juga bagaimana mempertahankan dan mengembangkan pelaku usaha yang saat ini sudah ada agar bisa terus bertahan,” kata Shinta.
Di sisi lain, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengingatkan pentingnya penguatan infrastruktur, salah satunya dengan mengoptimalkan Pelabuhan Patimban agar kegiatan ekspor industri lokal tercatat langsung di Jawa Barat.
Dedi juga mengimbau perusahaan-perusahaan yang beroperasi di wilayahnya untuk memindahkan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) mereka ke Jawa Barat. Langkah ini dinilai penting agar manfaat fiskal dan bagi hasil pajak dari industri tersebut dapat dirasakan langsung oleh masyarakat dan daerah tempat mereka beroperasi.











