JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, meletus pada Rabu (4/3/2026) pagi. Masyarakat diminta tidak beraktivitas dalam radius 4 kilometer dari pusat erupsi.
Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengatakan erupsi terjadi pukul 08.39 Wita dengan tinggi kolom abu teramati sekitar 800 meter di atas puncak atau kurang lebih 2.384 meter di atas permukaan laut.
Badan Geologi mengonfirmasi kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas sedang dan condong ke arah utara serta timur laut.
Status Masih Waspada
Secara instrumental, aktivitas vulkanik tersebut terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 11 mm dan durasi sekitar 47 detik. Data tersebut menunjukkan adanya pelepasan energi, meski belum mengindikasikan peningkatan status.
Saat ini, Gunung Lewotobi Laki-laki masih berada pada Status Level II (Waspada).
Status ini berarti terdapat peningkatan aktivitas vulkanik di atas normal, namun belum pada tahap siaga atau awas.
Badan Geologi merekomendasikan masyarakat sekitar gunung, termasuk pengunjung atau wisatawan, untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 4 kilometer dari pusat erupsi.
Imbauan untuk Warga dan Pemerintah Daerah
Masyarakat diminta tetap tenang dan mengikuti arahan pemerintah daerah serta tidak mudah mempercayai informasi yang tidak jelas sumbernya.
Pemerintah daerah juga diimbau aktif menyampaikan perkembangan resmi kepada warga guna mencegah kepanikan.
Selain itu, warga diminta mewaspadai potensi banjir lahar hujan di sungai-sungai yang berhulu di puncak gunung jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi.
Wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan antara lain Dulipali, Padang Pasir, Nobo, Nurabelen, Klatanlo, Hokeng Jaya, Boru, dan Nawakote.
Baca Juga:
Keji! Pasutri Bogor Tewas Dibunuh Kemudian Dibuang di Padalarang
Tiga Korban Tewas dalam Kebakaran Ruko di Karimun, Dua di Antaranya Anak-anak
Antisipasi Dampak Abu Vulkanik
Bagi masyarakat yang terdampak hujan abu, Badan Geologi mengimbau penggunaan masker atau penutup hidung dan mulut guna menghindari gangguan pernapasan akibat abu vulkanik.
Sementara itu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus berkoordinasi dengan BPBD Nusa Tenggara Timur dan pemangku kepentingan setempat untuk memantau perkembangan aktivitas gunung.
Pemerintah memastikan pemantauan dilakukan secara intensif dan informasi resmi akan diperbarui sesuai dinamika aktivitas vulkanik yang terjadi.
(Dist)











