BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Harapan Ferrari untuk kembali bersaing di papan atas Formula 1 musim 2025 kembali kandas. Di Grand Prix Singapura, Minggu (5/10/2025), tim asal Maranello itu gagal menunjukkan performa kompetitif. Mobil SF-25 bahkan harus menjalani strategi konservatif sejak awal balapan demi menghindari masalah suhu dan konsumsi bahan bakar.
Instruksi “lift and coast” yang diberikan kepada Charles Leclerc membuatnya tidak mampu tampil maksimal di sirkuit jalan raya Marina Bay. Alhasil, peluang Ferrari untuk menembus podium langsung menguap sejak lap-lap awal.
“Kami harus menjalani balapan dengan sangat hati-hati, terutama dalam hal manajemen bahan bakar dan suhu mesin. Itu membuat saya tak bisa mendorong mobil ke batasnya,” ujar Leclerc, melansir RacingNews365, Sabtu (11/10/2025).
Ferrari sempat mencoba memainkan strategi tim. Leclerc beberapa kali diminta memberi jalan bagi rekan setimnya, Lewis Hamilton, agar sang juara dunia tujuh kali bisa menekan Kimi Antonelli (Mercedes) untuk perebutan posisi kelima. Namun upaya itu tak banyak membuahkan hasil.
Meski akhirnya Leclerc berhasil kembali menyalip Hamilton di lap terakhir, hasil akhir tetap mengecewakan, posisi keenam dan ketujuh, jauh dari target podium yang diharapkan tim.
Hasil tersebut membuat Ferrari semakin tertinggal dalam perebutan posisi kedua klasemen konstruktor. Tim Kuda Jingkrak kini berjarak 27 poin dari Mercedes, unggul tipis delapan poin atas Red Bull, sementara McLaren masih kokoh di puncak klasemen.
Baca Juga:
Bos Mercedes Nilai Kans Max Verstappen Rebut Gelar Juara Dunia Formula 1 2025 Masih Ada, Tapi Tipis
Dalam wawancara usai balapan, Leclerc tampak realistis terhadap kondisi tim. Ia menilai performa Ferrari saat ini sudah menggambarkan apa yang akan terjadi hingga akhir musim.
“Saya tidak berpikir akan ada sesuatu yang spesial. Gambaran yang kita lihat akhir pekan ini mungkin akan menjadi cerminan dari sisa musim,” kata pebalap asal Monako itu.
Leclerc juga mengakui betapa beratnya menjaga semangat di tengah performa mobil yang stagnan.
“Setiap kali tidak bertarung untuk posisi terdepan, itu selalu sulit. Setelah musim lalu kami bersaing untuk gelar dunia, tahun ini terasa berat. Kami datang dengan ekspektasi tinggi, lalu menurunkannya, tapi tidak melihat kemajuan apa pun sepanjang tahun, itu tidak mudah,” tambahnya.
Meski frustrasi, Leclerc menegaskan dirinya tak kehilangan motivasi. Justru rasa kecewa itu ia jadikan energi untuk terus mendorong tim agar segera bangkit.
“Memang menguras banyak energi, tapi hal itu tidak membuat saya kehilangan semangat. Sebaliknya, itu membuat saya semakin termotivasi untuk membalikkan keadaan,” tegasnya.
Namun Leclerc juga tak menutupi kekecewaannya terhadap kondisi mobil SF-25 yang kembali gagal tampil kompetitif di lintasan yang menuntut efisiensi tinggi seperti Singapura.
“Balapan seperti ini tidak menyenangkan. Tidak bisa bertarung untuk podium dan harus mengelola begitu banyak masalah membuat situasinya sangat berat,” pungkasnya.
(Budis)










