BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Keputusan Lewis Hamilton meninggalkan Mercedes untuk bergabung dengan Ferrari justru berubah menjadi kisah kurang beruntung dalam perjalanan kariernya di Formula 1. Alih-alih menikmati fase baru yang gemilang bersama tim paling ikonik di ajang balap jet darat, Hamilton malah menjalani musim yang penuh kesulitan dan hasil mengecewakan.
Musim pertama Hamilton bersama Ferrari menjadi salah satu periode terberat sepanjang kariernya. Tujuh kali juara dunia itu gagal meraih satu pun podium, sebuah pencapaian negatif yang belum pernah dialaminya sejak debut di Formula 1. Mobil Ferrari yang tampil tidak konsisten membuat Hamilton kerap kesulitan bersaing di barisan depan, bahkan ketika ekspektasi publik begitu tinggi terhadap duet “pembalap tersukses dan tim tersukses” dalam sejarah F1.
Situasi ini membuat kepindahan Hamilton ke Ferrari mulai dipandang sebagai langkah yang kurang beruntung. Mantan ahli strategi Formula 1, Bernie Collins, menilai bahwa secara timing, Hamilton justru berada di posisi yang lebih aman jika tetap bertahan bersama Mercedes, terutama menjelang perubahan regulasi besar pada musim 2026.
“Jika fokusnya benar-benar untuk 2026, bertahan di Mercedes kemungkinan akan menjadi pilihan yang lebih baik,” ujar Collins kepada Sky F1, dikutip Selasa (30/12/2025).
Baca Juga:
Koleksi 103 Kemenangan, Lewis Hamilton Ukir Sejarah Baru Formula 1
Perubahan regulasi 2026 akan memaksa seluruh tim memulai dari nol, dengan konsep mobil dan unit daya yang sepenuhnya baru. Namun, rumor di paddock menyebutkan Mercedes memiliki keunggulan signifikan dalam pengembangan mesin generasi terbaru. Fakta ini semakin memperkuat anggapan bahwa Hamilton mungkin kurang beruntung memilih Ferrari pada momen transisi krusial ini.
Collins menambahkan bahwa dalam setiap proses negosiasi tim, gambaran masa depan selalu terlihat menjanjikan di atas kertas. Namun realitas di lintasan sering kali berkata sebaliknya.
“Semua tim akan menjual mimpi terbaik mereka. Tapi tidak ada satu pun yang bisa menjamin mobil mana yang akan unggul di masa depan,” jelasnya.
Meski demikian, Collins memahami bahwa keputusan Hamilton tidak sepenuhnya didasarkan pada kalkulasi teknis. Faktor emosional memainkan peran besar. Ferrari merupakan simbol impian masa kecil bagi banyak pembalap, termasuk Hamilton.
“Itu tentang Ferrari merah. Daya tarik yang sulit ditolak. Dia ingin merasakan membalap dengan warna itu,” kata Collins.
Sayangnya, romantisme tersebut sejauh ini belum berbuah manis. Alih-alih membuka lembaran emas baru, Hamilton justru terjebak dalam musim penuh tantangan yang membuat keputusannya bergabung dengan Ferrari mulai dianggap sebagai langkah sial dalam fase akhir kariernya.
(Budis)










