Dari Sungai Cijulang, Desa Kertayasa Bangkit Jadi Desa Wisata Andalan Kabupaten Pangandaran

DEsa Kertayasa
(Foto:Jadesta.Kemenpar)
-

Tidak ada video disisipkan.

BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Di ujung selatan Kabupaten Pangandaran, tepatnya di Kecamatan Cijulang, terbentang sebuah desa yang menyimpan pesona alam sekaligus kisah kemandirian warganya. Desa Kertayasa, yang berjarak sekitar 4 kilometer dari pusat kecamatan dan harus ditempuh sekitar tujuh jam perjalanan dari Bandung, perlahan menjelma menjadi salah satu wajah pariwisata unggulan Jawa Barat bagian timur.

Desa ini memiliki luas wilayah mencapai 1.355,610 hektare. Hamparan tanah milik warga mendominasi bentang alam Kertayasa, berpadu dengan tanah desa, tanah pengangonan, area pemakaman, serta sebagian kecil tanah negara. Secara geografis, Kertayasa berbatasan langsung dengan Desa Cijulang di sebelah timur, Desa Cibanten di barat, Desa Margacinta di utara, dan Desa Batukaras di selatan, wilayah yang telah lama dikenal sebagai destinasi wisata pantai.

Pada 2011, Desa Kertayasa dihuni oleh lebih dari empat ribu jiwa. Di balik angka-angka statistik itu, denyut kehidupan warga berjalan selaras dengan alam. Sungai, perbukitan, dan hutan bukan sekadar latar, melainkan sumber penghidupan dan harapan.

Salah satu anugerah terbesar desa ini adalah Cukang Taneuh atau yang lebih dikenal wisatawan sebagai Green Canyon. Nama tersebut mulai populer sejak 1993, ketika seorang wisatawan asal Prancis menyamakan keindahannya dengan Grand Canyon di Amerika Serikat. Namun bagi masyarakat setempat, tempat ini memiliki makna lebih dalam. Cukang Taneuh berarti “Jembatan Tanah”, merujuk pada jembatan alami sepanjang 40 meter dan lebar sekitar 3 meter yang menghubungkan Desa Kertayasa dengan Kecamatan Cimerak.

Di bawah jembatan itulah keajaiban alam tersaji. Tebing batu menjulang, stalaktit dan stalagmit menghiasi terowongan gua, sementara aliran Sungai Cijulang berwarna hijau zamrud mengalir tenang. Untuk mencapainya, pengunjung harus menaiki perahu kecil bermesin ketinting dari Dermaga Ciseureuh. Perjalanan sekitar 30 menit menyusuri sungai menjadi bagian dari pengalaman, sebelum akhirnya tiba di mulut gua yang memukau.

Kedekatannya dengan Pantai Batukaras dan Bandara Nusawiru menjadikan Green Canyon sebagai simpul penting pariwisata kawasan Pangandaran dan sekitarnya. Namun, bagi warga Kertayasa, potensi ini bukan hanya tentang kunjungan wisatawan, melainkan tentang masa depan desa.

Kesadaran itu mulai tumbuh sejak 2009, ketika para pemandu body rafting membentuk sebuah kelompok bernama Guha Bau. Dengan dukungan PNPM Pariwisata, kelompok ini mengelola wisata petualangan arung jeram yang semakin diminati. Pada awalnya, pengelolaan masih dilakukan secara sederhana, bahkan cenderung informal. Administrasi berjalan manual, laporan hanya disampaikan secara lisan.

Titik balik terjadi pada 1 April 2010, yang kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Guha Bau. Sejak saat itu, pencatatan mulai dilakukan lebih tertib, data pengunjung mulai dihimpun, dan kesadaran akan pentingnya kelembagaan semakin menguat. Dari proses itulah lahir cikal bakal Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Kertayasa, diperkuat dengan Peraturan Desa Nomor 3 Tahun 2010 tentang Wisata Alam Body Rafting Guha Bau sebagai upaya melindungi aset dan wilayah desa.

Perjalanan Guha Bau mencapai fase baru pada Februari 2013. Kelompok body rafting ini resmi bertransformasi menjadi BUMDes Guha Bau, ditandai dengan terbitnya Surat Keputusan pengangkatan pengurus bernomor 556/02-Kpts.2013. Transformasi ini bukan sekadar perubahan nama, melainkan lompatan besar menuju pengelolaan yang lebih profesional dan berkelanjutan.

Baca Juga:

Desa Wisata Cangkuang, Permata Tenang di Garut yang Tawarkan Wisata Sejarah dan Tradisi Lokal

BUMDes Guha Bau lahir dari kesadaran kolektif masyarakat desa akan pentingnya mengelola potensi lokal secara mandiri. Desa Kertayasa pun mulai dikenal sebagai desa wisata—sebuah identitas yang tumbuh dari bawah, dari warga yang percaya bahwa alam dan kebersamaan adalah modal utama pembangunan.

Seiring perkembangan waktu, BUMDes Guha Bau terus berbenah. Perubahan dimulai dari perancangan ulang struktur organisasi, penyusunan deskripsi tugas yang jelas, hingga penguatan sistem koordinasi antarunit usaha. Kerja sama dengan pihak ketiga mulai diatur secara formal, berpijak pada prinsip saling menguntungkan dan transparan.

Tak hanya itu, pedoman kerja organisasi melalui revisi AD/ART disiapkan sebagai rujukan bersama. Sistem informasi pun mulai dirancang agar BUMDes hadir sebagai lembaga ekonomi desa yang terbuka dan akuntabel, termasuk melalui pengembangan website dan media sosial sebagai sarana komunikasi dengan publik.

Langkah-langkah strategis lainnya mencakup penyusunan rencana usaha jangka satu hingga tiga tahun, pembenahan sistem administrasi dan pembukuan, hingga proses rekrutmen pengelola yang dilakukan secara musyawarah desa. Semua itu ditutup dengan penyusunan sistem penggajian dan pengupahan yang adil, demi menjaga motivasi dan profesionalisme pengelola.

Bagi warga Kertayasa, pariwisata bukan tujuan akhir, melainkan pintu masuk. Harapannya sederhana namun besar: ketika sektor pariwisata tumbuh, sektor-sektor lain akan ikut bergerak. Ekonomi desa menguat, lapangan kerja terbuka, dan kesejahteraan masyarakat perlahan meningkat.

Dari aliran Sungai Cijulang yang tenang hingga semangat warga yang terus menyala, Desa Kertayasa membuktikan bahwa desa bisa berdiri tegak dengan kekuatan sendiri, berangkat dari alam, dikelola oleh masyarakat, dan diarahkan untuk masa depan bersama.

Baca berita lainnya di Google News dan Whatsapp Channel
Berita Terkait
Berita Terkini
IMG-20260815-WA0004
Jumat Berkah PLN UP3 Majalaya, Hadirkan Semangat Berbagi di Momentum HUT ke-81 RI
WhatsApp Image 2026-08-15 at 11.52
KPU Kota Bandung Ajak Pemilih Pemula SMK Al-Hadi Jadi Pemilih Cerdas Lewat Pilketos
SAVE_20260815_081923
Memahami Aturan Pajak UMKM Terbaru: Tarif Tetap 0,5%, Berlaku Selamanya untuk Orang Pribadi
Gambar_stadion_segiri
Borneo FC Dapat Kepercayaan AFC, Samarinda Jadi Panggung Kompetisi Asia
WhatsApp Image 2026-08-14 at 12.30
Tangis Siswa Pecah di SD Kademangan, KKN UIN Bandung 203 Sorot Budaya Ejek di Kelas
Berita Lainnya

1

Tips Mengobati Luka Melepuh Akibat Gigitan Tomcat, Jangan Digaruk!

2

6 Daftar Wisata, Dulu Favorit Sekarang Ditinggal Pengunjung

3

Cegah Zoonosis, Pemkot Bandung Gelar Vaksinasi Hingga Sterilisasi Hewan Peliharaan Gratis di Kelurahan Ciumbuleuit

4

Siapa Thomas Matthew Crooks Penembak Donald Trump? Terdaftar Pemilih Partai Republik

5

Headline
WhatsApp Image 2026-08-15 at 17.09
Pesta Rakyat Meriahkan Pembukaan Alun-alun Bandung pada 17 Agustus
WhatsApp Image 2026-08-14 at 15.03
Semangat Kemerdekaan Jadi Energi Kota Bandung Hadapi Berbagai Tantangan
siaran-pers-bersama-bank-bjb-x-persib-3-2
Kembali Berkolaborasi, bank bjb dan PERSIB Satukan Semangat Juara
WhatsApp Image 2026-08-13 at 17.36
Bandung Dorong Transformasi dari Smart City Menuju Data-Driven City