BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Trash talk sudah menjadi bagian dari seni bela diri campuran (MMA). Namun, ketika para petarung mulai menyerang masa lalu dan kehidupan pribadi lawan, tensi persaingan biasanya meningkat drastis. Itulah yang kini terjadi antara Magomed Ankalaev dan Alex Pereira, dua jagoan kelas berat ringan UFC yang akan kembali berhadapan di UFC 320, 4 Oktober mendatang.
Sejak pertemuan pertama mereka di UFC 313 pada Maret lalu, hubungan Pereira dan Ankalaev memang tidak pernah adem.
Kala itu, Ankalaev sukses merebut sabuk juara dengan kemenangan angka mutlak atas Pereira. Namun, kemenangan itu tidak menutup perdebatan. Justru, hasil tersebut membuat keduanya semakin bertekad membuktikan siapa yang benar-benar layak disebut penguasa kelas berat ringan.
Bagi Pereira, sabuk yang direbut Ankalaev bukanlah milik baru, melainkan “sabuk yang dipinjam”. Ia merasa hakikatnya masih juara sejati.
Sementara bagi Ankalaev, kemenangan itu adalah validasi setelah bertahun-tahun mendaki ranking UFC. Maka tidak heran, rematch ini bukan sekadar perebutan gelar, tapi juga soal harga diri.
Dalam sesi wawancara jelang UFC 320, Pereira melontarkan pernyataan yang cukup pedas soal masa depan rivalnya.
“Kalau Ankalaev kalah, kecil kemungkinan dia bisa mendapat kesempatan title shot lagi,” tegas Pereira, melansir UFC.com, Sabtu (13/9/2025).
Baca Juga:
CEO UFC Dana White Tetap Mendukung Pertarungan Jon Jones vs Stipe Miocic
Ucapan itu jelas ditujukan untuk merusak fokus sang juara. Pereira tahu betul bagaimana rasanya kehilangan sabuk. Kekalahan dari Ankalaev pada Maret lalu membuatnya merasakan posisi sebagai pihak yang mengejar, bukan diburu. Namun justru itu yang membuatnya semakin berbahaya.
Selama tujuh bulan terakhir, Pereira mengaku telah melakukan banyak penyesuaian dalam pola latihannya. Ia menekankan bahwa rematch ini bukan hanya soal merebut kembali gelar, melainkan juga menutup karier juara Ankalaev di UFC.
Tidak butuh waktu lama, Ankalaev membalas serangan verbal itu. Lewat akun media sosialnya, ia menyelipkan sindiran yang langsung mengarah ke masa lalu Pereira sebelum menjadi bintang MMA dunia.
“Kau benar, aku tidak akan punya suara lagi… karena kau akan tertidur dan kembali kerja di bengkel ban,” tulis Ankalaev.
Sindiran itu merujuk pada latar belakang Pereira yang pernah bekerja di bengkel ban di Brasil sebelum meniti karier sebagai kickboxer dan akhirnya masuk UFC.
Dengan menyeret masa lalu lawannya, Ankalaev tidak hanya sekadar bertrash talk, ia mencoba menggoyahkan rasa percaya diri Pereira dengan mengingatkan bahwa lawannya hanyalah orang biasa yang ‘beruntung’ bisa sampai sejauh ini.
Bagi publik, komentar tersebut terdengar keras, bahkan kejam. Namun dalam dunia MMA, psikologis sering kali jadi senjata utama sebelum duel dimulai.
Rematch Pereira vs Ankalaev kali ini punya bobot yang lebih besar dibanding duel pertama mereka. Bagi Ankalaev, kemenangan kedua akan menegaskan legitimasinya sebagai juara sejati dan menutup mulut kritik yang menilai kemenangan di UFC 313 hanya kebetulan.
Sementara itu, bagi Pereira, pertarungan ini adalah misi balas dendam. Kekalahan sebelumnya mencoreng reputasinya sebagai petarung paling eksplosif yang pernah melompat dari kelas menengah ke kelas berat ringan dengan cepat.
Rebut kembali sabuk berarti mengembalikan aura dominasi, sekaligus membuktikan bahwa kariernya bukan sekadar kisah singkat yang berakhir di tangan Ankalaev.
UFC 320 Semakin Ditunggu
Pertarungan ini jelas lebih dari sekadar duel teknik di Octagon. Ini adalah drama personal yang penuh emosi, ejekan, dan gengsi. Komentar Pereira tentang akhir karier Ankalaev, serta sindiran balasan sang juara tentang masa lalu Pereira di bengkel ban, membuat UFC 320 semakin dinanti oleh para penggemar.
(Budis)