BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Marco Bezzecchi menjadi motor utama kebangkitan Aprilia di MotoGP 2025. Tiga kemenangan Grand Prix, tiga kemenangan Sprint, dan total 15 podium bukan hanya menjadikannya pebalap Aprilia tersukses sepanjang sejarah, tetapi juga membawa pabrikan asal Noale itu benar-benar menantang dominasi Ducati hingga akhir musim. Namun, di tengah pujian yang datang dari berbagai pihak, Bezzecchi justru memilih merendah.
Meski menutup musim sebagai peringkat tiga dunia, hanya kalah dari Marc Marquez dan Alex Marquez , Bezzecchi menilai dirinya hanya layak mendapat nilai 6,5 hingga 7. Bagi banyak pengamat, penilaian itu terasa jomplang dari performa yang ia tampilkan.
“Saya akan memberi nilai enam setengah atau tujuh, karena awal musim kami masih mencari arah,” ujar Bezzecchi saat tampil di ajang 100km of Champions di Ranch Valentino Rossi, dikutip dari MotoGP, Rabu (3/12/20205).
“Kami makin membaik, tetapi musim depan kami harus lebih kuat sejak awal,” ucapnya.
Penilaian rendah itu justru mempertegas karakter Bezzecchi: seorang pembalap yang melihat musim 2025 bukan sebagai puncak karier, tetapi sebagai titik berangkat. Padahal fakta di lintasan berbicara sebaliknya.
Baca Juga:
Marc Marquez Waspadai Kebangkitan Aprilia di MotoGP Catalunya
Perlahan Panas, Akhirnya Paling Konsisten di Paruh Musim Kedua
Bezzecchi baru mendapatkan podium pertamanya pada seri ketujuh di Silverstone, langsung berupa kemenangan. Setelah itu, ia berubah menjadi mesin konsistensi Aprilia.
- Poin terbanyak dari seluruh pebalap di paruh kedua musim
- Melompat dari posisi enam ke posisi tiga klasemen akhir
- Jadi tumpuan Aprilia saat Jorge Martin cedera
- Mengantar Aprilia finis runner-up konstruktor, pencapaian tertinggi dalam sejarah mereka
Dengan performa seperti ini, banyak yang menilai Bezzecchi seharusnya memberi dirinya nilai hampir sempurna.
Rendah Hati, Bezzecchi Justru Puji Tim
Meski berperan penting bagi Aprilia, Bezzecchi menegaskan bahwa kesuksesan yang diraih sepanjang 2025 merupakan hasil kerja kolektif.
“Tim saya pantas mendapat nilai 10 dari 10. Mereka adalah juara sebenarnya,” tegasnya.
Sikap itu kontras dengan sorotan media yang menempatkannya sebagai calon kuat juara dunia MotoGP 2026. Dengan meningkatkan performa sejak awal musim, banyak analis yakin Bezzecchi bisa menjadi ancaman terbesar Ducati musim depan.
Di saat sebagian besar pembalap akan bangga mengamankan 15 podium di musim debut sebagai rider pabrikan, Bezzecchi memilih fokus pada kekurangan. Ia tidak sekadar merayakan pencapaian 2025, tetapi memakainya sebagai tolok ukur untuk meningkatkan diri.
Jika penilaian 6,5 ini adalah hasil terbaiknya, MotoGP 2026 tampaknya harus siap menerima versi Bezzecchi yang jauh lebih mematikan.
(Budis)









