BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Tren smartphone berlayar besar yang mendominasi pasar global mulai mendapat penantang dari segmen yang lebih niche. Eco Mine One Pro, ponsel berukuran mini dengan desain kotak dan kamera putar, hadir sebagai alternatif bagi pengguna yang menginginkan perangkat ringkas dengan pendekatan berbeda.
Perangkat ini menarik perhatian setelah sebelumnya diperkenalkan melalui skema crowdfunding dan pre-order terbatas. Eco Mine One Pro diposisikan bukan sebagai ponsel arus utama, melainkan produk eksperimental yang menonjolkan desain dan konsep penggunaan unik.
“Ini smartphone kecil, kotak, bentuk kameranya juga unik dan memang dibuat untuk pasar yang sangat spesifik,” ujar Diar dalam ulasan di kanal YouTube DHIARCOM.
Desain Mini dan Kamera Putar
Eco Mine One Pro mengusung dimensi 86 x 72 x 8,9 mm dengan bobot 132 gram. Ukuran ini jauh lebih kecil dibandingkan mayoritas ponsel modern. Bodi berbahan metal dengan sudut tegas membuatnya tampil menyerupai perangkat elektronik retro, bukan smartphone konvensional.
Keunikan utama terletak pada modul kamera tunggal 50 megapiksel yang dapat diputar. Kamera belakang ini berfungsi ganda sebagai kamera depan dengan mekanisme flip manual, sehingga perangkat tidak dibekali kamera selfie terpisah.
“Ini sebenarnya seperti ponsel flip dalam kondisi tertutup, tapi tanpa mekanisme lipat,” kata Diar.
Layar yang digunakan berukuran 4,02 inci AMOLED dengan refresh rate 90 Hz dan resolusi 1240 x 1080 piksel. Meski tajam, ukuran layar yang kecil menjadi konsekuensi langsung dari konsep desain yang diusung.
Baca Juga:
iPhone Fold: Desain Mengotak, Layar Lebar, dan Taruhan Apple di Dunia Ponsel Lipat
Spesifikasi dan Performa
Eco Mine One Pro menjalankan Android 15 dan ditenagai chipset MediaTek MT8781V/CA dengan GPU Mali-G57 MC2. Perangkat ini hadir dengan RAM 8 GB dan penyimpanan internal 256 GB.
Hasil pengujian performa menunjukkan skor AnTuTu di kisaran 430 ribu poin. Dalam pengujian gaming, perangkat mampu menjalankan gim seperti Delta Force dan Mobile Legends, namun dengan kompromi pada kenyamanan kontrol akibat ukuran layar yang terbatas.
“Main game bisa, tapi tombolnya kecil dan sering ketutup jempol,” ujar Diar.
Dari sisi suhu, perangkat relatif stabil dengan suhu maksimal sekitar 39 derajat Celsius saat digunakan bermain gim selama 15 menit.
Baterai dan Penggunaan Harian
Eco Mine One Pro dibekali baterai 2.200 mAh. Dalam pengujian pemakaian, konsumsi daya tercatat sekitar 7–8 persen untuk menonton video selama 30 menit, dan hingga 13 persen untuk bermain gim dengan durasi yang sama.
Meski efisiensi daya tergolong wajar, kapasitas baterai dinilai kurang ideal untuk penggunaan intensif seharian, terutama jika digunakan sebagai perangkat utama.
Dua Antarmuka, Pengalaman Berbeda
Selain antarmuka Android standar, Eco Mine One Pro menawarkan antarmuka alternatif khas Eco yang dapat diaktifkan melalui tombol fisik khusus. Antarmuka ini menyederhanakan tampilan dengan ikon besar dan pintasan cepat ke fungsi utama seperti telepon, pesan, kamera, dan aplikasi AI.
“Konsepnya menarik, tapi tetap terasa sebagai gimmick tambahan,” kata Diar.
Aplikasi populer seperti YouTube, Instagram, dan TikTok dapat berjalan normal, meski tampilan konten harus menyesuaikan rasio layar yang tidak lazim.
Harga dan Segmentasi Pasar
Eco Mine One Pro dipasarkan dengan harga sekitar 2.999 yuan di pasar Tiongkok, atau setara Rp6 jutaan jika dikonversi ke rupiah. Harga ini dinilai tinggi untuk spesifikasi yang ditawarkan.
“Kalau di harga Rp2 jutaan mungkin masih masuk akal. Tapi di harga sekarang, ini lebih ke ponsel koleksi atau pemuas rasa penasaran,” ujar Diar.
Bukan untuk Semua Orang
Secara keseluruhan, Eco Mine One Pro tidak dirancang untuk menjadi smartphone harian bagi mayoritas pengguna. Ukuran layar yang sangat kecil, keterbatasan kamera, dan performa menengah membuatnya lebih cocok sebagai perangkat sekunder atau produk koleksi.
Eco Mine One Pro menegaskan bahwa di tengah dominasi smartphone besar dan seragam, masih ada ruang bagi produsen untuk bereksperimen. Namun, keberhasilannya akan sangat bergantung pada ekspektasi pengguna—apakah mencari fungsi, atau sekadar keunikan.
(Magang UIN Sunan Gunung Djati/Fathir Fahrezi Fardiansyah)

