BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Rencana kembalinya Conor McGregor ke oktagon tampaknya tidak akan berjalan semulus yang diharapkan. Di tengah euforia rencana penyelenggaraan UFC di halaman Gedung Putih, bintang asal Irlandia itu justru harus menghadapi ganjalan besar berupa sanksi doping selama 18 bulan.
Sanksi tersebut dijatuhkan setelah McGregor melanggar aturan program anti-doping UFC dan mulai berlaku secara retroaktif sejak September 2024. Artinya, “The Notorious” baru akan bebas bertarung pada 20 Maret 2026, hanya tiga bulan sebelum rencana gelaran akbar UFC di Washington D.C.
Event di Gedung Putih sendiri bukan acara biasa. Diprakarsai langsung oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, ajang tersebut dirancang sebagai bagian dari perayaan 250 tahun berdirinya Amerika Serikat, dan dijadwalkan berlangsung bertepatan dengan hari ulang tahun Trump pada Juni 2026.
Namun, dengan waktu yang begitu mepet antara akhir masa skorsing dan jadwal event, McGregor kini dihadapkan pada tantangan serius, apakah ia sempat mempersiapkan diri untuk comeback monumental itu?
Menanggapi isu tersebut, Presiden sekaligus CEO UFC Dana White akhirnya memberikan klarifikasi saat konferensi pers Dana White’s Contender Series.
“Kami belum membahas satu pun pertarungan untuk White House card. Kami baru akan mulai menyusunnya Februari nanti,” ujar White, dikutip Senin (20/10/2025).
“Apakah McGregor bisa tampil atau tidak, itu urusannya Jeff Novitzky (petinggi UFC yang mengawasi kebijakan anti-doping),” tambahnya.
Baca Juga:
UFC Gedung Putih Bisa Jadi Panggung Comeback Conor McGregor
Pernyataan White itu sekaligus menegaskan bahwa status McGregor masih abu-abu, dan sanksi doping tersebut kini menjadi faktor penentu apakah comeback yang dijanjikan bisa benar-benar terwujud.
Di sisi lain, McGregor tampaknya enggan menyerah. Setelah mengundurkan diri dari pencalonan sebagai Presiden Irlandia, fokusnya kini sepenuhnya tertuju pada dunia MMA. Ia bahkan sudah menyebut nama Michael Chandler sebagai calon lawan dalam duel yang disebut-sebut akan menandai kebangkitannya.
Meski begitu, White menekankan bahwa ajang Gedung Putih bukanlah “panggung satu orang”. Sejumlah bintang lain seperti Jon Jones juga tertarik tampil, namun UFC ingin menjadikan perayaan ini sebagai simbol sejarah, bukan sekadar pertarungan besar.
“White House event adalah momen monumental. Ini tentang sejarah, bukan sekadar satu atlet,” tegas White.
Jika semua berjalan sesuai rencana, dan McGregor lolos dari segala kendala administratif serta fisik, pertarungannya di Gedung Putih bisa menjadi comeback paling ikonik dalam sejarah olahraga dunia.
(Budis)











