BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW tahun 2026 menjadi momentum bagi Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Fetty Anggraenidini, untuk mengajak masyarakat memaknai ibadah bukan sekadar rutinitas, melainkan sebagai fondasi karakter.
Dalam pesan religiusnya, legislator dari Fraksi Golkar ini menyoroti bagaimana kedisiplinan dalam salat dapat bertransformasi menjadi etos kerja yang kuat.
Menurut Fetty, esensi dari perjalanan agung Rasulullah bukan hanya tentang mukjizat, tetapi tentang diterimanya perintah salat yang merupakan instrumen utama dalam membentuk kedisiplinan diri.
Salat sebagai Madrasah Kedisiplinan
Bagi Fetty, salat lima waktu yang tepat waktu adalah cerminan dari manajemen waktu yang baik. Jika seorang muslim mampu disiplin terhadap pertemuannya dengan Sang Pencipta, maka seharusnya ia juga disiplin dalam tanggung jawab sosial dan pekerjaannya.
“Isra Mi’raj mengajarkan kita tentang ketepatan dan kepatuhan. Saya mengajak umat Islam, khususnya di Jawa Barat, untuk menjadikan salat sebagai ‘madrasah’ kedisiplinan. Jika di hadapan Tuhan kita bisa tertib, maka dalam melayani masyarakat pun kita harus memiliki integritas yang sama,” ujar Fetty, Senin (16/1/2026).
Transformasi Moral di Era Digital
Di tengah dinamika tahun 2026 yang serba cepat, Fetty menilai nilai-nilai luhur dari peristiwa Isra Mi’raj sangat relevan untuk membentengi moralitas bangsa. Ia menekankan bahwa kualitas sujud seseorang harus berbanding lurus dengan kualitas sosialnya di tengah masyarakat.
Beberapa poin utama yang ditekankan Fetty dalam momentum ini antara lain:
Integritas Diri: Salat yang khusyuk mencegah perbuatan keji dan munkar, yang dalam konteks bernegara berarti menjauhi korupsi dan kezaliman.
Ketahanan Mental: Mengambil inspirasi dari keteguhan Rasulullah saat melintasi berbagai langit untuk mencapai Sidratul Muntaha.
Solidaritas Sosial: Memperkuat ukhuwah islamiyah dan kepedulian terhadap sesama warga yang membutuhkan.
Harapan untuk Jawa Barat
Menutup pesannya, legislator Dapil Kota Bogor ini berharap semangat Isra Mi’raj mampu membawa perubahan positif bagi pembangunan di Jawa Barat. Ia meyakini bahwa pembangunan fisik harus dibarengi dengan pembangunan spiritual agar tercipta masyarakat yang harmonis.
“Mari kita jadikan peringatan ini sebagai titik balik untuk meningkatkan kualitas diri. Disiplin dalam salat, profesional dalam bekerja, dan ikhlas dalam mengabdi. Semoga Jawa Barat selalu diberkahi dengan keberagaman yang rukun dan kemajuan yang berkeadilan,” pungkasnya.