BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Rencana besar pemerintah untuk menghidupkan kembali jalur kereta api Bandung-Ciwidey yang telah lama mati mendapat sorotan serius dari legislator daerah. Proyek ambisius ini, yang tercatat dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD) Jawa Barat 2025-2029 melalui Rencana Proyek/Kegiatan Strategis Provinsi, diperkirakan membutuhkan dana hingga Rp3 triliun selama lima tahun pelaksanaan.
Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi Golkar, Agung Yansusan, menekankan bahwa pelaksanaan proyek yang akan melintasi wilayah Kota Bandung dan Kabupaten Bandung ini harus memperhatikan aspek sosial kemasyarakatan, terutama terkait pengelolaan lahan yang saat ini telah banyak disewakan kepada masyarakat.
Reaktivasi jalur kereta Bandung-Ciwidey memang terus menjadi wacana yang dihidupkan kembali dengan tujuan di antaranya untuk meningkatkan pariwisata dan mengatasi kemacetan. Namun diperkirakan tidak akan mudah karena banyak pemukiman warga di atas bekas rel sehingga timbul kekhawatiran penggusuran.
Proyek yang akan menyerap pendanaan dari berbagai sumber APBN, APBD Provinsi, APBD Kabupaten/Kota, dan Badan Usaha ini menurut Agung harus mengedepankan prinsip musyawarah mufakat dalam setiap tahapannya.
“Saya selaku anggota DPRD Jabar berharap proyek ini mengedepankan musyawarah mufakat dari sisi pengelolaan lahan karena banyak lahan yang disewakan kepada masyarakat,” ujarnya dalam akun @agung.yansusan, dikutip pada Rabu (21/1/2026).
Kekhawatiran legislator ini bukan tanpa alasan. Jalur bekas rel yang telah puluhan tahun tidak beroperasi kini telah dipenuhi pemukiman warga, baik yang bersifat permanen maupun semi permanen. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya penggusuran atau relokasi massal yang dapat merugikan masyarakat.
Dia juga berharap tidak terjadi hal-hal yang di luar harapan masyarakat Kabupaten Bandung saat persiapan lahan proyek tersebut.
Dalam unggahannya, Agung juga membuka ruang partisipasi publik dengan mengajak netizen memberikan pandangan terkait rencana reaktivasi ini. Langkah ini dinilai sebagai upaya untuk menampung aspirasi masyarakat sebelum proyek infrastruktur berskala besar ini benar-benar dijalankan.
“Jadi gimana menurut kamu, apakah optimis atau pesimis akan proyek ini, tulis di kolom komentar,” kata Agung yang juga anggota Komisi II DPRD Jabar ini.
Reaktivasi jalur kereta Bandung-Ciwidey teruang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD) Jabar 2025-2029 melalui Rencana Proyek/Kegiatan Strategis Provinsi.
Proyek ini menjadi salah satu dari sejumlah rencana reaktivasi jalur kereta api nonaktif di Jawa Barat yang digadang-gadang dapat meningkatkan konektivitas transportasi sekaligus mendongkrak sektor pariwisata dan perekonomian wilayah. Namun, tantangan di lapangan, terutama terkait aspek sosial dan pengelolaan lahan, menjadi catatan krusial yang harus diselesaikan sebelum proyek ini dilaksanakan.