BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Kemudahan layanan keuangan digital membawa banyak manfaat bagi masyarakat. Namun di balik kemudahan tersebut, ancaman pinjaman online ilegal, judi online, hingga fenomena doom spending juga semakin menghantui generasi muda. Karena itu, literasi keuangan dinilai menjadi bekal penting agar anak muda mampu mengambil keputusan finansial yang bijak.
Komitmen tersebut terus diperkuat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Barat melalui seminar literasi keuangan bertajuk “Pinjol dan Doom Spending” yang digelar bersama Republika dan Universitas Islam Bandung (Unisba). Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unisba itu diikuti ratusan mahasiswa serta pelajar SMA yang antusias berdiskusi mengenai tantangan mengelola keuangan di era digital.
Kepala OJK Provinsi Jawa Barat, Darwisman, menegaskan bahwa generasi muda harus memiliki kemampuan mengelola keuangan sejak dini agar tidak mudah terjebak dalam berbagai risiko keuangan digital.
Menurutnya, pinjaman seharusnya dimanfaatkan untuk kebutuhan yang bersifat produktif, seperti pendidikan atau pengembangan usaha, bukan untuk memenuhi gaya hidup sesaat yang berpotensi menimbulkan masalah keuangan di masa depan.
Darwisman juga mengingatkan masyarakat agar selalu menerapkan prinsip 2L, yakni Legal dan Logis, sebelum menggunakan produk atau layanan keuangan. Legal berarti layanan tersebut telah berizin dan diawasi OJK, sedangkan logis berarti manfaat, keuntungan, maupun risikonya dapat dipahami secara rasional.
Peringatan tersebut bukan tanpa alasan. Berdasarkan data OJK hingga Desember 2025, outstanding pinjaman daring legal di Jawa Barat telah mencapai Rp23,94 triliun dengan lebih dari 7,15 juta rekening. Tingkat wanprestasi 90 hari (TWP90) tercatat sebesar 3,29 persen, yang menunjukkan masih adanya tantangan dalam pengelolaan utang masyarakat, khususnya kalangan muda yang sangat akrab dengan teknologi digital.
Selain persoalan pinjaman online, OJK Jawa Barat juga mengingatkan masyarakat agar semakin waspada terhadap berbagai bentuk kejahatan digital, mulai dari investasi ilegal, love scamming, hingga penipuan yang mengatasnamakan lembaga tertentu melalui telepon maupun pesan singkat.
Rektor Unisba, A. Harits Nu’man, menyambut baik kolaborasi antara OJK dan Republika dalam memperkuat edukasi literasi keuangan di lingkungan kampus. Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya unggul secara akademik, tetapi juga harus mampu mengelola keuangan secara sehat sehingga dapat menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.
“Literasi keuangan yang baik akan membantu mahasiswa membangun masa depan yang lebih berdaya saing sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa,” ujarnya.
Dalam sesi diskusi, OJK juga menegaskan komitmennya bersama Satgas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI) untuk terus memperkuat edukasi sekaligus mendorong masyarakat melaporkan aktivitas keuangan ilegal melalui kanal resmi OJK maupun Indonesia Anti-Scam Centre (IASC).
Seminar turut menghadirkan akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unisba, Sri Fadila, psikolog Ilmi Hatta, serta perwakilan Satgas Anti Rentenir Kota Bandung, Soni Sonjaya. Ketiganya menyoroti pentingnya membangun kesadaran finansial sejak usia muda, memahami faktor psikologis di balik perilaku konsumtif, hingga menghindari praktik pinjaman ilegal dan rentenir yang masih marak terjadi.
Menutup kegiatan, Darwisman kembali menekankan bahwa literasi keuangan bukan sekadar memahami mana layanan yang legal dan ilegal. Lebih dari itu, literasi keuangan merupakan kemampuan membangun kebiasaan mengelola uang secara disiplin, mampu membedakan kebutuhan dengan keinginan, serta menciptakan ketahanan finansial yang kuat.
Dengan bekal tersebut, generasi muda diharapkan mampu menghadapi berbagai tantangan ekonomi di era digital sekaligus menjadi bagian penting dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.











