BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Dalam khazanah budaya Sunda, nama Sunan Ambu bukan sekadar tokoh mitologi, melainkan simbol yang melekat dalam berbagai aspek kehidupan masyarakatnya.
Heryana (2012) dalam penelitiannya tentang mitologi perempuan Sunda menjelaskan bahwa Sunan Ambu adalah figur penting yang kerap hadir dalam kisah-kisah rakyat klasik, seperti Lutung Kasarung maupun Mundinglaya Dikusumah.
Sosoknya digambarkan sebagai penguasa kahyangan, perempuan agung yang dihormati, serta sosok ibu yang penuh welas asih terhadap manusia dan alam.
Jika dilihat dari etimologinya, kata “Sunan” berasal dari “Susuhunan” yang berarti seseorang yang dimuliakan, sedangkan “Ambu” berarti ibu.
Maka sebutan Sunan Ambu dapat dipahami sebagai “Ibu yang dimuliakan”, atau “Ratu Ibu” yang menjadi lambang pemelihara sekaligus pengayom kehidupan.
Dalam mitologi Sunda, Sunan Ambu sering diposisikan sebagai figur yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan antara dunia manusia dengan dunia gaib.
Ia bukan sekadar tokoh spiritual, tetapi juga representasi dari kekuatan alam yang penuh kasih dan protektif.
Keberadaannya mengajarkan masyarakat Sunda untuk menghormati tanah, air, serta seluruh sumber daya alam yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan.
Tidak mengherankan jika kepercayaan terhadap Sunan Ambu begitu berakar kuat, hingga kemudian namanya dipakai sebagai simbol budaya, seperti halnya Gedung Pertunjukan Sunan Ambu di ISBI Bandung yang menjadi ruang ekspresi seni tradisi dan modern.
Hal ini menunjukkan bahwa warisan mitologi tidak hanya hidup di cerita lisan, tetapi juga dihidupkan kembali dalam bentuk nyata di ranah seni dan budaya kontemporer.
BACA JUGA
KDM Klarifikasi Soal Hormat ke Nyi Roro Kidul: Itu Sunan Ambu
Nyi Roro Kidul: Misteri dan Mitos Sang Penguasa Laut Selatan
Sunan Ambu dan Nyi Roro Kidul?
Belum lama ini, sosok Sunan Ambu bahkan muncul dalam konteks perayaan kenegaraan. Dalam sebuah kirab bendera memperingati HUT ke-80 RI di Bandung, publik sempat salah mengira seorang penari berbusana tradisional sebagai Nyi Roro Kidul.
Namun, Gubernur Jawa Barat saat itu, Dedi Mulyadi (KDM), menegaskan bahwa penari tersebut melambangkan Sunan Ambu, bukan Nyi Roro Kidul yang disebut juga Ratu Pantai Selatan itu.
“Ini tradisi baru di Pemerintah Provinsi Jawa Barat, penyerahan bendera kepada penari cantik yang melambangkan Sunan Ambu. Sunan Ambu itu simbol tanah dalam masyarakat adat Sunda,” ujar KDM melalui akun Instagramnya.
Ia menambahkan bahwa pilihan simbol tanah sejalan dengan tema kemerdekaan tahun itu, di mana tanah dianggap sebagai isu penting karena banyak persoalan terkait tata kelola, alih fungsi lahan, hingga kepemilikan.
Sedangkan Nyi Roro Kidul atau Nyai Rara Kidul merupakan figur mitologi Sunda dan Jawa, yang dipercaya sebagai penguasa spiritual Laut Selatan (Samudra Hindia).
Terdapat sebuah kepercayaan yang luas bahwa dia akan mengambil orang-orang yang menggunakan pakaian berwarna hijau saat berada di kawasan pesisir Laut Selatan.
Ia adalah cerminan kearifan Sunda yang terus hidup, bahkan menjadi bagian dari perayaan modern seperti upacara kenegaraan.
Sosoknya mengingatkan kita bahwa tanah itu sebagai tempat kita berpijak yang harus dimuliakan layaknya ibu yang merawat anaknya.
(Daniel Oktorio Saragih/Magang/Aak)







