BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) di Desa Bangeran, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, tak berhenti saat masa pengabdian mahasiswa berakhir. Salah satu program yang justru mulai menunjukkan dampak jangka panjang adalah pembangunan Rumah Burung Hantu (Rubuha) sebagai solusi alami pengendalian hama tikus di area persawahan.
Lima mahasiswa Teknik Industri UMG kembali ke desa tersebut pada Selasa (17/2/2026) untuk memastikan keberlanjutan program yang telah mereka rintis. Kedatangan mereka bukan sekadar kunjungan simbolik, melainkan bagian dari evaluasi dampak dan penguatan program agar benar-benar berfungsi sebagai solusi permanen bagi petani.
Rubuha yang dibangun berdiri setinggi sekitar tujuh meter di tengah sawah, dengan konstruksi kokoh yang dirancang untuk penggunaan jangka panjang. Tiang bangunan ditanam sedalam satu meter ke dalam tanah dan diperkuat dengan pengecoran beton, sehingga mampu bertahan dari cuaca ekstrem dan angin kencang di area terbuka persawahan. Pemilihan material kayu dan bambu dilakukan agar konstruksi tetap ramah lingkungan dan mudah dirawat oleh warga setempat.
Program ini lahir dari persoalan nyata yang dihadapi petani, yakni serangan hama tikus yang selama ini menggerus hasil panen dan mengancam ketahanan pangan desa. Alih-alih menggunakan racun kimia yang berisiko terhadap lingkungan dan kesehatan, mahasiswa memilih pendekatan ekosistem alami dengan memanfaatkan burung hantu sebagai predator alami tikus.
“Ini bukan sekadar bangunan fisik, tapi sistem pengendalian hama berbasis ekologi. Kalau ekosistemnya terbentuk, maka pengendalian bisa berjalan alami tanpa ketergantungan bahan kimia,” ujar salah satu mahasiswa KKN Muhammad Ilham Febriyanto, dikutip dari laman UMG, JUmat (20/2/2026).
Baca Juga:
Celup Puting Daun Sirih, Inovasi Mahasiswa IPB untuk Peternak Sapi Perah
Bagi warga Desa Bangeran, kehadiran Rubuha membuka perspektif baru tentang pertanian berkelanjutan. Selama ini, pengendalian hama identik dengan pestisida dan racun, namun program ini memperkenalkan pendekatan alami yang lebih aman, murah, dan berkelanjutan.
Pemilik lahan, Rosyid, menyebut program ini sebagai harapan baru bagi petani. Menurutnya, serangan tikus selama ini bukan hanya merugikan secara ekonomi, tetapi juga memicu ketergantungan pada bahan kimia yang mahal dan berisiko.
“Kalau bisa dikendalikan secara alami, tentu lebih baik. Biaya lebih ringan, lingkungan lebih aman, dan hasil panen bisa lebih stabil,” katanya.
Dari sisi akademik, Rubuha menjadi contoh nyata bagaimana ilmu perencanaan, analisis sistem, dan manajemen proyek yang dipelajari mahasiswa dapat diterapkan langsung dalam menyelesaikan persoalan desa. Program ini tidak hanya memberi manfaat bagi masyarakat, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran sosial bagi mahasiswa.
Dosen pembimbing KKN menilai program ini sebagai model pengabdian yang berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan. Menurutnya, Rubuha bisa menjadi embrio sistem pertanian ramah lingkungan berbasis desa yang dapat direplikasi di wilayah lain.
Dengan hadirnya Rubuha, Desa Bangeran tidak hanya mendapatkan solusi pengendalian hama, tetapi juga membangun fondasi baru menuju sistem pertanian yang lebih mandiri, ekologis, dan berkelanjutan. Program ini menjadi bukti bahwa perubahan besar di sektor pertanian bisa dimulai dari inisiatif kecil yang dirancang dengan visi jangka panjang.