KUNINGAN, SUAR MAHASISWA AWARDS — Dalam suatu adegan yang ikonik dalam film The Intern (2015), Jules Ostin, seorang CEO perempuan yang tampaknya memiliki segalanya—karier cemerlang, keluarga harmonis, serta perusahaan rintisan yang berkembang pesat—terlihat menangis sendirian di dalam mobil.
Bukan karena ia gagal atau kehilangan uang, melainkan karena lelah. Sangat lelah. Jadwal rapat yang padat, tanggung jawab sebagai istri dan ibu, serta tekanan sebagai pemimpin bisnis menjadikan kencan secara emosional.
Adegan itu bukan sekadar drama fiksi. Itu adalah potret nyata dari kehidupan banyak orang hari ini—mereka yang terus bergerak tanpa jeda, menjalani hidup dengan mode otomatis, dan merasa bersalah saat berhenti. Ada banyak “Jules” di sekitar kita: perempuan tangguh, laki-laki pendiam, pelajar ambisius, hingga pekerja muda yang setiap hari mencoba bertahan di antara ekspektasi, tanggung jawab, dan pencarian jati diri.
Kita Hidup di Era yang Terlalu Sibuk untuk Merasakan
Hari-hari kita memenuhi tuntutan. Di era digital ini, waktu seolah menjadi komoditas yang harus dimaksimalkan. Bangun pagi bukan lagi soal menyambut hari, melainkan berlomba menjadi yang paling “sibuk” dan “produktif”. Kata-kata seperti hustle culture , self-improvement , dan multitasking terdengar glamor, tapi sering kali menutupi realita yang jauh lebih sunyi: kita lelah, tapi merasa tak punya hak untuk mengeluh.
Generasi milenial dan Gen Z disebut sebagai generasi paling terhubung secara digital, tetapi ironisnya, juga generasi paling kesepian dan mudah dilanda burnout. Tekanan dari media sosial, persaingan karier, hingga beban menjadi “versi terbaik diri” menciptakan kondisi mental yang rapuh. Di balik unggahan produktif dan gaya hidup aktif, ada banyak orang yang sebenarnya hanya ingin tidur nyenyak tanpa rasa bersalah.
Fiksi yang Terlalu Dekat dengan Fakta
Fenomena ini juga tergambar jelas dalam novel Eleanor Oliphant is Completely Fine karya Gail Honeyman. Eleanor adalah potret perempuan mandiri dan terlihat “baik-baik saja”. Namun, dibalik rutinitas kantor dan kehidupannya yang teratur, tersembunyi trauma dan kesepian yang di dalam. Eleanor hidup dalam pola yang kaku bukan karena disiplin, tapi sebagai cara bertahan. Ia membungkam perasaannya demi tetap terlihat “fungsional”.
Realita seperti itu didukung data. Menurut survei Gallup Global Emotions Report 2023, 44% pekerja di seluruh dunia mengalami stres setiap hari. Di Indonesia sendiri, laporan Kemenkes tahun 2022 menyebutkan bahwa 30,5% pekerja muda mengalami kelelahan emosional kronik (motional exhaustion ) yang berdampak langsung pada produktivitas dan kesehatan mental mereka.
Revolusi Kecil Bernama Jeda
Berbagai negara kini mulai sadar bahwa solusi atas kelelahan bukan sekadar kata-kata motivasi. Islandia, Jepang, dan beberapa wilayah di Eropa telah menguji sistem kerja 4 hari dalam seminggu. Hasilnya mengejutkan: pekerja tidak hanya lebih bahagia, tetapi juga menunjukkan peningkatan produktivitas dan kepuasan kerja.
Namun, kita harus menunggu perubahan kebijakan besar untuk mulai menciptakan keseimbangan. Revolusi bisa dimulai dari diri sendiri. Dari hal kecil:
1. Atur ulang ritme tubuh : tidur cukup adalah produktivitas yang paling sering diabaikan.
2. Matikan notifikasi di malam hari : kamu tidak harus selalu tersedia.
3. Buatlah prioritas, bukan sekedar daftar tugas : mengerjakan yang penting, bukan yang paling terlihat.
4. Ambil cuti tanpa rasa puas : istirahat adalah hak, bukan kemewahan.
5. Katakan tidak : kamu tidak harus selalu menjelaskan alasan untuk menolak sesuatu.
Karena Hidup Bukan Kompetisi Tanpa Garis Akhir.
Jika kamu mulai merasa lelah tanpa sebab, kehilangan minat pada hal-hal yang dulu kamu cintai, atau mudah ketinggalan karena hal sepele—mungkin itu sinyal. Bukan kelemahan, tapi alarm tubuh dan jiwa yang butuh dirawat.
Keseimbangan kehidupan kerja bukan mitos, tapi hak yang harus diperjuangkan. Ini bukan tentang menjadi pemalas atau kurang ambisius. Ini tentang menjaga agar kita tetap utuh, tidak hanya berfungsi sebagai mesin penghasil keluaran. Hidup bukan tentang seberapa banyak yang kita kerjakan, tapi seberapa sadar kita menjalani tiap detiknya.
Jadi, sebelum tubuhmu berhenti karena kelelahan yang tak teratasi, beranilah untuk memberi ruang. Ambil napas. Ambil jeda. Karena kamu layak hidup yang seimbang, bukan sekadar bertahan dari satu tenggat waktu ke tenggat waktu berikutnya.
Penulis:
Listina Tunggal Dewi adalah mahasiswa aktif di Universitas Indonesia Membangun. Ia percaya bahwa keseimbangan kehidupan kerja bukanlah kemewahan kaum idealis, melainkan kebutuhan dasar manusia di era digital. Melalui tulisannya, ia berusaha mengingatkan bahwa merawat diri bukan egois, tapi bentuk keberanian yang paling manusiawi.