Bandung, Suar Mahasisiwa-Child Prodigy atau kita mengenalnya dengan anak yang memiliki kemampuan yang melampaui batas “anak Ajaib”. Mereka memiliki kemampuan dan bakat yang jauh diatas rata-rata anak seusianya seperti bisa menggubah musik, menulis buku, fasih berbicara beberapa Bahasa, dan bahkan bisa menyelesaikan soal matematika yang sangat rumit sekalipun, saat anak lain baru belajar dasar-dasar pelajaran.
Child prodigy ini menguasai berbagai bidang akademis yang ditandai dengan tingginya IQ yang dimilikinya, selain itu penalaran dan memori nya juga sangat baik, tak heran jika child prodigy ini dijuluki “anak ajaib”.
Fenomena child prodigy ini sangat menarik untuk dibahas karena child prodigy ini bisa dikatakan sebagai anak yang “terlahir jenius”. Namun apakah faktor genentik hanya bisa menjadi penentu child prodigy? Lalu apakah faktor lingkungan dan peran orang tua juga bisa mempengaruhui terbentuknya child prodigy?
Faktor Genetik: Bakat Bawaan
Banyak penelitian menunjukkan bahwa child prodigy memiliki struktur otak dan kapasitas kognitif yang berbeda dibandingkan anak-anak pada umumnya. Mereka dikenal sangat cerdas, punya ingatan yang kuat, dan bisa fokus dalam waktu lama.
Gen dari orang tua, khususnya yang berkaitan dengan kecerdasan dan kapasitas otak, dapat diturunkan kepada anak. Dengan kata lain, baik faktor keturunan maupun perawatan awal kehidupan bekerja bersama membentuk fondasi potensi kecerdasan anak.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia saat ini sedang menekankan pentingnya program 1.000 Hari Pertama Kehidupan, atau yang dikenal sebagai window of opportunity, karena selain faktor keturunan dari orang tua, yang berperan penting fase ini juga dinilai sangat penting dalam proses tumbuh kembang anak, khususnya dalam pembentukan sistem saraf dan fungsi otak, serta imunitas. Rentang waktu ini di hitung sejak masa janin hingga usia dua tahun. Maka nutrisi dan gizi yang diberikan harus benar-benar optimal.
Salah satu Contoh dari child prodigy yaitu adalah Shakira pemenang COC (Class Of champion) by ruang guru, meskipun usianya tidak terbilang anak-anak tetapi Shakira telah tumbuh menjadi sosok yang jenius yang memiliki berbagai prestasi di bidang akademis sejak ia kecil, dilansir dari akun media sosialnya Shakira dan ibunya yang seorang dokter juga menjelaskan bahwa 1000 hari pertama kehidupan sangat penting untuk membentuk child prodigy (anak pintar). beberapa Contoh tokoh yang terlahir jenius seperti:
– Wolfgang Amadeus Mozart, yang mampu menggubah musik pada usia 5 tahun.
– William James Sidis, yang memiliki IQ lebih dari 250, masuk Harvard di usia 11 tahun.
Fakta ini pun memperkuat pernyataan bahwa sebagian anak memang lahir dengan anugerah neurologis/genetik yang langka.
Peran Pola Asuh Orang Tua dan lingkungan
Pola Asuh orang tua juga menjadi bagian yang sangat penting dalam membentuk karakter dan potensi anak karena peran Keluarga adalah tempat paling pertama anak belajar kebiasaan, nilai-nilai, dan cara berkomunikasi. Selain itu lingkungan sekitar juga mempengruhi kecerdasan anak, Sebesar apa pun potensi bawaan seorang anak, tanpa dukungan lingkungan yang tepat, bakat tersebut bisa saja padam dan tidak berkembang secara optimal.
Pola asuh yang baik, Pendidikan yang menunjang dan dukungan secara emosional mempengaruhi perkembangan anak dengan baik. Beberapa faktor yang turut mendukung antara lain:
- Orang tua yang memberikan kebebasan anak untuk bereksplorasi dan tidak membatasi minat dan bakat anak
- Guru yang mampu mengenali potensi anak dan mengarahkannya secara positif.
- Dukungan berupa akses terhadap teknologi, kemampuan literasi, serta bimbingan dari mentor yang tepat.
Anak-anak yang tumbuh dan berkembang dalam keluarga dan lingkungan yang tepat menumbuhkan rasa percaya diri, dan mampu berpikir kritis karena selalu di dukung oleh orang-orang sekitarnya.
Bukan tentang mana yang lebih penting, melainkan bagaimana keduanya bisa saling melengkapi.
Faktor genetik bisa menjadi benih, sedangkan pola asuh orang tua dan lingkungan adalah air dan sinar mataharinya. Faktor-faktor tersebut itu sangat penting untuk pengembangan dan mengasah bakat anak-anak . Banyak anak dengan potensi yang luar biasa gagal berkembang karena tidak diberi perhatian atau akses yang memadai.
Sebaliknya, anak dengan potensi sedang justru bisa tumbuh luar biasa jika dibimbing dengan tepat karena Jenius bukan hanya tentang apa yang kamu bawa sejak lahir, tapi juga tentang bagaimana kamu diasah, dibentuk, dan didorong. Fenomena child prodigy seharusnya tidak membuat kita berpikir bahwa hanya anak-anak dengan “bakat luar biasa” yang berpeluang meraih kesuksesan. Sebaliknya, penting untuk disadari bahwa setiap anak memiliki potensi besar yang bisa berkembang apabila diberikan kesempatan, akses yang memadai, serta pola asuh yang tepat.
Kita memang tidak bisa memilih gen yang diwariskan, tetapi kita bisa menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang mereka secara optimal. Maka, jika gen adalah anugerah, pola asuh adalah kekuatan. Dan saat keduanya bertemu, lahirlah anak-anak hebat yang mampu menginspirasi dunia.
Penulis:
Nina Indriyani