JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Panitia penyelenggara Olimpiade Musim Dingin Milan-Cortina 2026 memastikan tidak ada sanksi bagi atlet seluncur cepat asal Belanda, Jutta Leerdam. Keputusan ini menutup polemik terkait momen viral ketika ia membuka bagian atas kostumnya usai memastikan medali emas nomor 1.000 meter putri.
Keputusan tersebut diumumkan pada Jumat (20/2/2026) waktu setempat. Komite Olimpiade Internasional melalui pernyataan resminya menegaskan bahwa tindakan Leerdam tidak melanggar regulasi pemasaran maupun etika kompetisi.
Penjelasan Resmi IOC
Direktur Pemasaran Komite Olimpiade Internasional, Anne-Sophie Voumard, menjelaskan bahwa membuka ritsleting kostum setelah lomba merupakan praktik umum dalam cabang speed skating. Kostum balap yang sangat ketat membuat atlet perlu segera melonggarkannya setelah finis.
Menurutnya, tidak ada unsur promosi terselubung dalam tindakan tersebut. IOC menilai momen itu murni respons emosional setelah lomba dan bukan strategi komersial.
Leerdam sebelumnya memecahkan rekor Olimpiade pada 9 Februari 2026. Dalam suasana haru, ia membuka bagian atas kostumnya yang kemudian memperlihatkan bra olahraga bermerek.
Potongan gambar tersebut menyebar cepat di berbagai platform digital dan memicu perdebatan publik.
Dampak Komersial yang Melejit
Sejumlah analis melihat kontroversi ini justru menguntungkan Leerdam secara finansial. Profesor Rob Wilson, pakar keuangan olahraga, memperkirakan potensi pendapatan tahunan sang atlet dapat menembus 10 hingga 14 juta dolar AS jika momentum popularitas ini dimanfaatkan secara konsisten.
Dengan jutaan pengikut media sosial dan citra yang kuat di ranah digital, Leerdam berada dalam posisi ideal untuk menarik sponsor global. Di era ekonomi perhatian, viralitas kerap berbanding lurus dengan nilai komersial.
Kritik dari Dalam Negeri
Di Belanda, respons publik tidak sepenuhnya positif. Mantan pesepak bola Johan Derksen melontarkan kritik keras dan menyebut Leerdam sebagai “diva”.
Sorotan juga mengarah pada keputusannya bepergian dengan jet pribadi serta tidak menghadiri upacara pembukaan.
Hubungannya dengan YouTuber Amerika Jake Paul ikut menjadi bahan diskusi. Sebagian pihak menilai gaya hidup glamor tersebut tidak sejalan dengan citra kolektivitas tim nasional.
Baca Juga:
Kerap Diremehkan, Jake Paul Tantang Bos UFC Taruhan 2 Juta Dolar!
Respons Tegas Sang Atlet
Leerdam tidak tinggal diam. Ia mengunggah foto dirinya menangis dengan riasan yang luntur, menggambarkan tekanan emosional yang dialaminya sepanjang turnamen.
Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa feminitas dan kekuatan tidak saling bertentangan.
Baginya, riasan dan ekspresi diri adalah bagian dari kepercayaan diri di arena. Ia menolak anggapan bahwa atlet perempuan harus membatasi penampilan demi memenuhi ekspektasi publik.
Kontroversi ini pada akhirnya memperlihatkan dinamika baru dalam olahraga modern: batas antara performa, identitas personal, dan nilai komersial semakin tipis. IOC telah menutup perkara secara administratif. Namun perdebatan tentang standar ganda dan ekspektasi terhadap atlet perempuan kemungkinan masih akan berlanjut.
(Dist)


