Ketimpangan Digital Jadi Sorotan, Hani Rizki Maulida Raih Juara Nasional Lewat Inovasi MLES

Hani Rizki Maulida
Hani Rizki Maulida, mahasiswa Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jember (Foto: dok.Unej).
-

Tidak ada video disisipkan.

BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Di tengah derasnya arus digitalisasi yang menyapu ruang-ruang pendidikan Indonesia, masih ada ribuan pelajar yang harus berjibaku dengan sinyal yang hilang-timbul, gawai yang dipakai bergantian, hingga guru-guru yang minim pelatihan digital. Bagi siswa di kota, pembelajaran daring mungkin sudah menjadi keseharian. Namun bagi mereka yang tinggal di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal), transformasi digital justru sering menghadirkan jurang baru: jurang akses.

Kesenjangan inilah yang berkali-kali disaksikan Hani Rizki Maulida, mahasiswa Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jember, ketika ia mengajar di berbagai daerah terpencil. Di desa-desa pegunungan yang ia datangi, anak-anak tidak terhambat oleh kemauan belajar, melainkan oleh kondisi geografis dan ekonomi yang mengekang.

“Teknologi itu seharusnya menjadi jembatan, bukan penghalang,” ujar Hani, dikutip dari laman Unej, Jumat (5/12/2025).

Pengalaman itulah yang kemudian ia tuangkan dalam sebuah esai berjudul “Digitalisasi Pendidikan: Antara Jembatan Inovasi atau Jurang Ketidakadilan?”. Tidak sekadar mengkritik, esai tersebut menghadirkan solusi konkret yang membuatnya meraih Juara 3 Lomba Esai Nasional Logaritma FMIPA Universitas Udayana pada 25 Oktober 2025.

Baca Juga:

Shredtics, Inovasi Mahasiswa UM: Alat Cacah Plastik Portabel Ramah Lingkungan

Dalam tulisannya, Hani menyoroti bahwa kebijakan digitalisasi pendidikan nasional masih menyisakan celah. Akses internet di daerah 3T yang lemah dan kompetensi digital yang belum merata membuat siswa dan guru tertinggal dua langkah di belakang daerah perkotaan.

Kondisi itu, menurutnya, berpotensi bertentangan dengan semangat SDGs poin 4: pendidikan berkualitas dan merata. Tanpa intervensi yang tepat, digitalisasi hanya akan menguntungkan mereka yang sudah siap.

Untuk menjawab persoalan tersebut, Hani menawarkan konsep Mobile Learning Environment System (MLES), model pembelajaran hybrid semi offline-online yang fleksibel dan dirancang sesuai karakteristik pelosok.

Konsep ini terinspirasi dari praktik pembelajaran Malaysia pada 2020, lalu dimodifikasi sesuai kebutuhan lokal Indonesia. Ada tiga fokus utama dalam MLES:

  1. Konten digital yang tetap bisa diakses tanpa internet stabil
    Siswa dapat mengunduh materi ketika sinyal tersedia, kemudian belajar secara offline.
  2. Pemerataan kompetensi digital
    MLES menekankan peningkatan literasi digital guru dan siswa agar teknologi benar-benar menjadi alat pemerataan.
  3. Desain inklusif berbasis rekomendasi OECD 2023
    Sistem dibuat agar adaptif terhadap berbagai level infrastruktur pendidikan di lapangan.

“Banyak inovasi pendidikan gagal bukan karena idenya jelek, tetapi karena tidak cocok dengan realitas lapangan,” jelas Hani. “MLES mencoba menjembatani itu.”

Hani mengaku gagasannya tidak lahir dalam ruang hampa. Bimbingan dosen, diskusi dengan rekan kampus, dan atmosfer akademik UNEJ yang peka terhadap isu sosial membuatnya terdorong untuk melahirkan solusi berbasis riset dan kebutuhan masyarakat.

Bagi Hani, kemenangannya bukan semata pencapaian individu, tetapi bukti bahwa mahasiswa memiliki posisi strategis dalam membantu negara menemukan terobosan di tengah ketimpangan pendidikan.

Lewat MLES, Hani berharap diskusi mengenai digitalisasi yang inklusif semakin luas. Ia ingin pemerintah maupun pemangku kebijakan mempertimbangkan model ini sebagai bagian dari strategi pemerataan pendidikan.

“Setiap anak Indonesia berhak mendapatkan kesempatan belajar yang sama. Kalau digitalisasi ingin berhasil, ia harus berpihak pada mereka yang paling tertinggal,” tutupnya.

(Budis)

Baca berita lainnya di Google News dan Whatsapp Channel
Berita Terkait
Berita Terkini
IMG-20260815-WA0004
Jumat Berkah PLN UP3 Majalaya, Hadirkan Semangat Berbagi di Momentum HUT ke-81 RI
WhatsApp Image 2026-08-15 at 11.52
KPU Kota Bandung Ajak Pemilih Pemula SMK Al-Hadi Jadi Pemilih Cerdas Lewat Pilketos
SAVE_20260815_081923
Memahami Aturan Pajak UMKM Terbaru: Tarif Tetap 0,5%, Berlaku Selamanya untuk Orang Pribadi
Gambar_stadion_segiri
Borneo FC Dapat Kepercayaan AFC, Samarinda Jadi Panggung Kompetisi Asia
WhatsApp Image 2026-08-14 at 12.30
Tangis Siswa Pecah di SD Kademangan, KKN UIN Bandung 203 Sorot Budaya Ejek di Kelas
Berita Lainnya

1

Tips Mengobati Luka Melepuh Akibat Gigitan Tomcat, Jangan Digaruk!

2

6 Daftar Wisata, Dulu Favorit Sekarang Ditinggal Pengunjung

3

Studio Alam Gamplong, Destinasi Perfilman Favorit di Sleman

4

Siapa Thomas Matthew Crooks Penembak Donald Trump? Terdaftar Pemilih Partai Republik

5

Mursyid Asal Surabaya Dukung Gus Farkhan Evendi Jadi Utusan Presiden
Headline
WhatsApp Image 2026-08-15 at 17.09
Pesta Rakyat Meriahkan Pembukaan Alun-alun Bandung pada 17 Agustus
WhatsApp Image 2026-08-14 at 15.03
Semangat Kemerdekaan Jadi Energi Kota Bandung Hadapi Berbagai Tantangan
siaran-pers-bersama-bank-bjb-x-persib-3-2
Kembali Berkolaborasi, bank bjb dan PERSIB Satukan Semangat Juara
WhatsApp Image 2026-08-13 at 17.36
Bandung Dorong Transformasi dari Smart City Menuju Data-Driven City