BANDUNG, SUAR MAHSISWA AWARDS — Ditengah hiruk-pikuk Kota Cimahi yang semakin padat dan modern, Kampung Adat Cireundeu berdiri teguh menjaga tradisi, spiritualitas, dan keharmonisan dengan alam. Terletak di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, kampung ini menjadi salah satu komunitas adat di Jawa Barat yang berhasil mempertahankan nilai-nilai leluhur secara utuh hingga hari ini.
Cireundeu telah ada sejak abad ke-16 hingga ke-17, menjadikannya salah satu komunitas adat tertua di wilayah Priangan. Nama “Cireundeu” berasal dari pohon reundeu yang dahulu banyak tumbuh di daerah ini. Namun lebih dari itu, nama ini juga berakar dari filosofi hidup masyarakatnya, yaitu “sareundeu saigel sabobot sapihane” sebuah pepatah Sunda yang berarti gotong royong, keselarasan langkah, dan kebersamaan dalam beban. Falsafah ini masih hidup dan dijalankan dalam kehidupan sehari-hari warga, mulai dari kegiatan adat, pertanian, hingga dalam pelestarian alam.
Salah satu kekayaan paling berharga dari Kampung Adat Cireundeu adalah sistem pengelolaan hutan tradisional yang mencerminkan kearifan ekologis masyarakat adat. Mereka membagi kawasan hutan menjadi tiga jenis, masing-masing memiliki fungsi, nilai, dan aturan tersendiri:
Hutan Baladah (Hutan Produktif) : Merupakan hutan yang digunakan untuk keperluan pertanian dan kehidupan sehari-hari. Hasil dari hutan ini boleh dimanfaatkan oleh masyarakat, seperti kayu, buah, atau daun, namun tetap dengan prinsip keseimbangan alam.
Hutan Tutupan : Dikenal sebagai benteng alam atau zona penyangga, hutan ini berfungsi sebagai wilayah pembatas dan perlindungan ekosistem. Pemanfaatan di hutan ini dibatasi dan harus dengan izin adat.
Hutan Larangan (Gentong Bumi) : Ini adalah hutan yang paling disakralkan. Tidak boleh dirusak, ditebang, apalagi dibuka. Hutan ini dianggap sebagai penjaga spiritual dan keseimbangan bumi, tempat tinggal energi leluhur, serta menjadi simbol kesucian.
Praktik ini menunjukkan bahwa masyarakat Cireundeu sudah memiliki sistem konservasi berbasis adat jauh sebelum istilah “pelestarian lingkungan” dikenal secara formal dalam dunia akademik atau kebijakan negara.
Dalam kehidupan adat, masyarakat Cireundeu juga masih menjalankan tradisi sajen sebagai bentuk komunikasi simbolik dengan leluhur dan alam. Sajen bukanlah benda mistis, melainkan sarana untuk menyampaikan niat baik, harapan, serta rasa syukur atas kehidupan yang harmonis.
Dalam perspektif masyarakat Kampung Adat Cireundeu, sajen bukan sekadar benda ritual, melainkan media komunikasi yang sarat makna. Menariknya, secara filosofis, kata “sajen” singkatan dari kata Sastra Jendra, yang jika di artikan “tulisan alam” atau pengetahuan luhur yang diturunkan semesta kepada manusia.
Makna ini menjadikan sajen bukan sekadar bentuk persembahan kepada leluhur atau alam, tetapi juga simbol pengetahuan dan kesadaran. Setiap elemen dalam sajen menyampaikan pesan tertentu:
Bunga dalam sajen melambangkan keindahan dan keharuman hati manusia. Filosofinya adalah “Ketika mekar, bunga dipuji; ketika layu, bunga ditinggalkan.” Ini adalah kritik sosial bahwa manusia tidak seharusnya mencintai sesamanya hanya saat mereka dalam keadaan baik. Nilai luhur yang diajarkan adalah kesetiaan, empati, dan tidak bersikap oportunis.
Kendi berisi air adalah simbol kehidupan dan kesucian niat. Penutup dari hacua (sejenis kain atau daun) di atas kendi menyimbolkan perjuangan dan pengorbanan. Air itu sendiri adalah lambang keikhlasan dan keberlangsungan hidup, namun untuk menjaganya tetap bersih dan utuh, diperlukan perjuangan, seperti halnya menjaga nilai hidup dan keyakinan.
Daun hanjuang dalam sajen adalah ajakan untuk berjuang bersama. Tanaman hanjuang tumbuh lurus dan kokoh, sehingga mewakili keteguhan hati dan kekuatan komunitas. Dalam konteks ini, hanjuang adalah simbol solidaritas dan keteguhan melestarikan budaya serta nilai-nilai leluhur.
Sebagai sastra jendra, sajen adalah bentuk ekspresi spiritual yang tidak diucapkan dengan kata-kata, tetapi ditulis oleh tangan manusia melalui simbol-simbol alam. Dalam tradisi ini, manusia belajar membaca pesan alam dan semesta melalui ritual yang diwariskan secara turun-temurun.
Salah satu praktik yang unik di Cireundeu adalah doa bersama setiap malam Senin dan Kamis yang dilakukan di goah, yakni ruangan tanpa alas lantai (langsung tanah). Tradisi ini menjadi pengingat bahwa manusia berasal dari tanah, dan suatu hari akan kembali padanya. Ini mencerminkan kesadaran ekologis dan spiritualitas mendalam dalam kehidupan masyarakat.
Keteladanan dan pelibatan langsung. Anak-anak diajak untuk memahami nilai-nilai adat melalui keterlibatan dalam ritual, pembuatan sajen, dan kerja sama sosial. Ini menjadi mekanisme pendidikan budaya non-formal yang terbukti efektif dalam menjaga jati diri masyarakat adat di tengah tekanan globalisasi.
Kampung Adat Cireundeu bukan hanya saksi sejarah, tetapi juga aktor aktif pelestari budaya dan lingkungan. Dengan sistem sosial yang adil, spiritualitas yang hidup, serta kepedulian ekologis yang tinggi, kampung ini menjadi cermin dari masa lalu yang masih relevan untuk masa depan.
Cireundeu bukan sekadar kampung adat ia adalah naskah hidup tentang bagaimana manusia bisa hidup berdampingan dengan alam dan leluhur, tanpa kehilangan arah dan nilai.
Penulis:
Reva Aulia Azzahra