BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Final Piala Afrika (AFCON) di Rabat berubah menjadi malam paling menyakitkan bagi Maroko. Bermain di hadapan publik sendiri, Atlas Lions harus menelan kekalahan pahit 0-1 dari Senegal setelah drama panjang, kontroversi wasit, dan kegagalan penalti Brahim Diaz yang menghancurkan mimpi juara.
Sejak awal laga, Maroko tampil disiplin dan sabar menghadapi permainan keras Senegal. Pertandingan berlangsung ketat dengan tempo tinggi, namun kedua tim kesulitan menciptakan peluang bersih sepanjang 90 menit. Harapan publik Stade Prince Moulay Abdallah baru benar-benar memuncak di masa tambahan waktu.
Momentum emas itu datang ketika wasit Jean Jacques Ndala menunjuk titik penalti untuk Maroko setelah meninjau tayangan VAR pada menit ke-98. Keputusan tersebut membuka peluang besar bagi tuan rumah untuk mengakhiri final tanpa harus melalui babak tambahan.
Namun tekanan di partai puncak berbicara lain. Brahim Diaz, yang tampil impresif sepanjang turnamen dengan torehan lima gol, gagal menunaikan tugasnya. Tendangan panenka sang gelandang Real Madrid justru mengarah tepat ke pelukan Edouard Mendy, seketika membungkam stadion yang sempat bergemuruh.
Baca Juga:
Brahim Diaz, Kembalinya Si Anak Hilang ke Real Madrid
Sebelum penalti itu dieksekusi, laga sempat terhenti lama akibat protes keras dari kubu Senegal. Pelatih Pape Thiaw bahkan menarik sebagian besar pemainnya keluar lapangan, menciptakan jeda panjang yang dinilai ikut memengaruhi ritme dan fokus Maroko saat momen krusial tiba.
Kegagalan penalti tersebut menjadi titik balik yang menyakitkan. Senegal tampil lebih agresif di babak tambahan, sementara Maroko terlihat terpukul secara mental. Pada menit ke-94, Pape Gueye muncul dari lini kedua dan melepaskan tembakan keras yang tak mampu dibendung Yassine Bounou.
Gol itu terasa seperti pukulan telak bagi Atlas Lions. Maroko masih berusaha bangkit dengan meningkatkan intensitas serangan, tetapi waktu dan ketenangan tak lagi berpihak. Peluang demi peluang gagal dikonversi menjadi gol penyeimbang.
Peluit akhir memastikan Senegal mengangkat trofi AFCON untuk kali kedua, sementara Maroko harus menelan kenyataan pahit: gagal juara di kandang sendiri, dalam final yang diwarnai kontroversi, penundaan panjang, dan satu momen penalti yang mengubah segalanya.
Bagi Maroko, malam di Rabat bukan sekadar kekalahan, melainkan luka mendalam yang akan lama dikenang sebagai salah satu final paling tragis dalam sejarah Piala Afrika.











