JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID – Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menyebut peringatan Hari Perempuan Internasional yang jatuh setiap 8 Maret harus menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kesetaraan antara perempuan dan laki-laki di berbagai sektor kehidupan.
Lestari menegaskan bahwa kepedulian terhadap keadilan bagi perempuan harus didukung langkah nyata dari berbagai pihak, baik pemerintah, masyarakat, maupun dunia usaha. Menurutnya, tanpa dukungan kebijakan yang berdampak secara struktural, upaya mewujudkan kesetaraan perempuan akan sulit tercapai secara menyeluruh.
“Kepedulian terhadap keadilan dan kesetaraan perempuan tidak bisa sepenuhnya terwujud bila tidak didukung semua pihak dan kebijakan yang berdampak secara struktural di masyarakat,” kata Lestari, Minggu (8/3/2026).
Ia menambahkan bahwa peringatan Hari Perempuan Internasional juga harus dimaknai sebagai pengingat bahwa perjuangan kesetaraan gender masih menghadapi berbagai tantangan nyata. Karena itu, seluruh elemen bangsa perlu terus memperkuat komitmen untuk menciptakan ruang yang lebih adil bagi perempuan, baik dalam kehidupan sosial, ekonomi, maupun politik.
Refleksi atas Tantangan yang Masih Dihadapi Perempuan
Lestari menilai peringatan Hari Perempuan Internasional tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga ruang refleksi atas berbagai persoalan yang masih dihadapi perempuan di Indonesia. Tantangan tersebut mencakup kesenjangan ekonomi, keterwakilan perempuan dalam pengambilan keputusan, hingga perlindungan terhadap kekerasan berbasis gender.
Ia menyoroti sejumlah data yang menunjukkan bahwa kesetaraan gender masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi bangsa Indonesia. Salah satunya tercermin dalam laporan World Economic Forum melalui Global Gender Gap Report 2025, yang mencatat skor kesenjangan gender Indonesia sebesar 0,692 dan menempatkan Indonesia pada peringkat ke-97 dari 148 negara.
Selain itu, data Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) 2024 menunjukkan bahwa satu dari empat perempuan berusia 15–64 tahun di Indonesia pernah mengalami kekerasan fisik atau seksual sepanjang hidupnya. Fakta tersebut, menurut Lestari, menjadi pengingat bahwa perlindungan terhadap perempuan masih perlu diperkuat secara sistematis.
Baca Juga:
Lirik The Girl That I Used to Be, Lagu Raisa di Hari Perempuan Internasional
Kolaborasi Semua Pihak Diperlukan
Tema peringatan Hari Perempuan Internasional tahun ini, “Give to Gain”, mengandung pesan tentang pentingnya kolaborasi, empati, dan investasi sosial dalam membangun kesetaraan gender. Nilai tersebut dinilai sejalan dengan semangat solidaritas dan kepedulian sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
Lestari menekankan bahwa perjuangan mewujudkan kesetaraan gender tidak dapat hanya mengandalkan kebijakan pemerintah semata. Partisipasi aktif masyarakat, dunia pendidikan, organisasi sosial, serta sektor swasta dinilai sangat penting dalam membangun lingkungan yang mendukung pemberdayaan perempuan.
Ia juga menilai momentum peringatan Hari Perempuan Internasional yang bertepatan dengan bulan Ramadhan tahun ini memiliki makna khusus. Nilai-nilai empati, keadilan, dan kepedulian yang terkandung dalam bulan suci tersebut diharapkan dapat memperkuat semangat kolektif untuk memperjuangkan hak-hak perempuan.
Momentum Refleksi Bersama
Lebih jauh, Lestari berharap peringatan Hari Perempuan Internasional dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran kolektif masyarakat mengenai pentingnya menciptakan kesempatan yang setara bagi perempuan.
Menurutnya, kesetaraan gender merupakan bagian dari upaya mewujudkan pembangunan yang inklusif dan berkeadilan. Dengan memberikan kesempatan yang sama bagi perempuan untuk berpartisipasi dalam berbagai bidang, kualitas pembangunan nasional juga akan semakin kuat.
(Magang UIN Sunan Gunung Djati Bandung/Khusnul Yulida)



