Gerabah Sitiwinangun Cirebon: Warisan Budaya Tanah Liat yang Menari di Ujung Jari

Gerabah Sitiwinangun Cirebon - Dok Pemkab Cirebon
Perajin Gerabah Sitiwinangun Kabupaten Cirebon (Dok Pemkab Cirebon)
-

Tidak ada video disisipkan.

CIREBON, TEROPONGMEDIA.ID — Di tangan para pengrajin gerabah di Desa Sitiwinangun, Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, gumpalan tanah liat berubah menjadi mahakarya yang telah mengalirkan nafas budaya selama enam abad.

Gerabah Sitiwinangun, kerajinan tradisional khas Cirebon ini, bukan sekadar wadah rumah tangga melainkan saksi bisu perjalanan sejarah yang bermula sejak abad ke-15.

Desa yang dahulu bernama Padukuhan Kebagusan ini menyandang identitas barunya berkat Syekh Dinureja, ulama penyebar Islam yang mengajarkan seni mengolah tanah liat sambil menanamkan nilai-nilai spiritual.

Kini, setiap putaran hand wheel – teknik memutar gerabah dengan tangan – masih menyimpan kesabaran dan ketelitian warisan sang guru.

Kekuatan gerabah mereka terletak pada ritme jemari. Di bengkel-bengkel sederhana, tanah liat dipelintir, ditarik, dan diukir menjadi bentuk-bentuk fungsional: gentong penyimpan air, kendi penyegar haus, hingga teko dengan motif ulur bunga yang khas.

Setiap guratan bukan hanya hiasan, melainkan simbol persaudaraan yang diwariskan turun-temurun.

BACA JUGA

Sejarah Gerabah Kerajinan Tangan Sejak 10Ribu Tahun Saat Revolusi Neolitik

Bupati Cirebon Tanggapi Wacana Cirebon Bakal Jadi Daerah Istimewa: Harus Dikaji

Keunikan gerabah Sitiwangun Kabupaten Cirebon ini terpancar dari desain minimalis namun kokoh, di mana bentuk mengikuti fungsi tanpa mengabaikan estetika.

Motif-motif tradisionalnya bercerita tentang harmoni alam dan kehidupan agraris masyarakat Cirebon. Tak heran jika gerabah ini menjadi duta budaya yang memperkenalkan kekayaan lokal hingga ke pelosok Nusantara.

Bagi warga Sitiwinangun, gerabah adalah denyut nadi ekonomi sekaligus kebanggaan identitas. Setiap gentong yang mengering di terik matahari, setiap kendi yang dibakar dalam perapian, adalah fragmen hidup yang terus menghidupi keluarga dan melestarikan warisan leluhur – sebuah tarian abadi antara tanah, api, dan ketekunan manusia.

(Aak)

Baca berita lainnya di Google News dan Whatsapp Channel
Berita Terkait
Berita Terkini
IMG-20260815-WA0004
Jumat Berkah PLN UP3 Majalaya, Hadirkan Semangat Berbagi di Momentum HUT ke-81 RI
WhatsApp Image 2026-08-15 at 11.52
KPU Kota Bandung Ajak Pemilih Pemula SMK Al-Hadi Jadi Pemilih Cerdas Lewat Pilketos
SAVE_20260815_081923
Memahami Aturan Pajak UMKM Terbaru: Tarif Tetap 0,5%, Berlaku Selamanya untuk Orang Pribadi
Gambar_stadion_segiri
Borneo FC Dapat Kepercayaan AFC, Samarinda Jadi Panggung Kompetisi Asia
WhatsApp Image 2026-08-14 at 12.30
Tangis Siswa Pecah di SD Kademangan, KKN UIN Bandung 203 Sorot Budaya Ejek di Kelas
Berita Lainnya

1

6 Daftar Wisata, Dulu Favorit Sekarang Ditinggal Pengunjung

2

Tips Mengobati Luka Melepuh Akibat Gigitan Tomcat, Jangan Digaruk!

3

Meski Matic, ini Catatan Berkesan BBM Kijang Kapsul LGX

4

Mursyid Asal Surabaya Dukung Gus Farkhan Evendi Jadi Utusan Presiden

5

Siapa Thomas Matthew Crooks Penembak Donald Trump? Terdaftar Pemilih Partai Republik
Headline
WhatsApp Image 2026-08-15 at 17.09
Pesta Rakyat Meriahkan Pembukaan Alun-alun Bandung pada 17 Agustus
WhatsApp Image 2026-08-14 at 15.03
Semangat Kemerdekaan Jadi Energi Kota Bandung Hadapi Berbagai Tantangan
siaran-pers-bersama-bank-bjb-x-persib-3-2
Kembali Berkolaborasi, bank bjb dan PERSIB Satukan Semangat Juara
WhatsApp Image 2026-08-13 at 17.36
Bandung Dorong Transformasi dari Smart City Menuju Data-Driven City