Gelar Pahlawan Nasional Soeharto Ditentang, PDIP: Seharusnya Atas Kehendak Bangsa!

pdip soeharto pahlawan nasional
(MPR)
-

Tidak ada video disisipkan.

JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Ketua DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Andreas Hugo Pareira, menyatakan bahwa Presiden ke-2 tak layak menyandang gelar Pahlawan Nasional mengingat rekam jejaknya yang hitam.

Ia menambahkan, pemerintah kurang bijak dalam memberikan penganugerahan itu meskipun banyak pihak telah menyampaikan kritik dan penolakan.

Sehingga, menurut Andreas, sikap pemerintah yang tetap memberikan gelar kepada pemimpin era Orde Baru menunjukkan bahwa aspirasi publik seolah tidak didengarkan.

“Padahal tidak sedikit rakyat Indonesia menolak pemberian gelar pahlawan nasional bagi Soeharto. Tapi pemerintah seperti tulis dan mengabaikan,” kata Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI itu dalam keterangannya, Selasa (11/11/2025).

Ia menilai, bahwa seharusnya pemerintah melibatkan masyarakat sipil, akademisi, dan sejarawan dalam proses seleksi tokoh penerima gelar pahlawan nasional. Dengan begitu, keputusan yang diambil memiliki legitimasi sosial yang kuat dan diterima oleh publik luas.

BACA JUGA:

Soeharto Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional, Keluarga Cendana Bersyukur

Dulu Dibungkam, Marsinah Aktivis Buruh kini Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional

“Setiap nama yang diangkat harus melalui verifikasi dokumenter, telaah akademik, serta uji publik agar penghargaan ini benar-benar mencerminkan kehendak kolektif bangsa,” ujarnya.

Ia menegaskan, apabila tahapan verifikasi dan uji publik diabaikan, keputusan memberikan gelar pahlawan nasional kepada Soeharto akan tampak elitis dan simbolik semata.

“Jangan sampai pemberian gelar pahlawan nasional hanya demi kepentingan politik atau kelompok tertentu karena akan mencederai rasa keadilan bagi rakyat,” ucap Andreas.

Lebih lanjut, Andreas berpendapat bahwa pahlawan nasional di era modern seharusnya mencerminkan semangat perlawanan terhadap masalah bangsa, seperti kemiskinan, korupsi, dan ketimpangan sosial. Ia mempertanyakan apakah nilai-nilai tersebut tercermin dalam kepemimpinan Soeharto selama berkuasa.

“Jadi pahlawan nasional bukan hanya soal masa perjuangan kemerdekaan, tapi juga simbol moral bangsa,” tegasnya.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto resmi menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada Soeharto dalam upacara di Istana Negara, Senin (10/11/2025). Keputusan tersebut tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 116/TK/Tahun 2025 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.

Selain Soeharto, terdapat sembilan tokoh lain yang turut dianugerahi gelar serupa, yakni Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Sarwo Edhie Wibowo, Marsinah, Mochtar Kusumaatmadja, Rahmah El Yunusiyyah, Muhammad Kholil, Muhammad Salahuddin, Tuan Rondahaim Saragih, dan Zainal Abidin Syah.

Namun, keputusan tersebut justru menimbulkan gelombang kritik dari berbagai kalangan, termasuk lembaga internasional dan organisasi masyarakat sipil.

Salah satu pihak yang menyatakan penolakannya adalah Amnesty International Indonesia. Lembaga ini menilai Soeharto tidak layak mendapatkan gelar pahlawan nasional karena keterlibatannya dalam pelanggaran HAM berat di masa Orde Baru.

Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, menilai bahwa Soeharto merupakan figur sentral dalam praktik kekerasan negara selama pemerintahannya.

“Rezim Soeharto memiliki andil dalam kasus kejahatan kemanusiaan termasuk pembantaian massal 1965–1966 hingga penembakan misterius 1982–1985, di samping kasus-kasus lainnya,” ungkap Usman.

Ia menilai, hingga kini, pemerintah tidak pernah menuntut pertanggungjawaban terhadap pelaku utama atas pelanggaran HAM masa lalu, termasuk Soeharto sendiri.

“Hingga saat ini, tak satu pun pelaku utama, termasuk Soeharto, pernah dimintai pertanggungjawaban,” katanya dalam keterangan tertulis, Senin (10/11/2025).

Usman menegaskan bahwa negara seharusnya menuntaskan kasus-kasus pelanggaran HAM di era Orde Baru, bukan malah memberikan penghargaan kepada pihak yang diduga terlibat.

“Tolak segala bentuk manipulasi sejarah dan glorifikasi pelaku pelanggaran HAM, baik melalui kebijakan kebudayaan, pendidikan, maupun narasi resmi negara,” tegasnya.

Gelombang kritik terhadap keputusan pemerintah untuk memberikan gelar pahlawan nasional kepada Soeharto menunjukkan bahwa isu ini tidak sekadar soal penghargaan simbolik, melainkan juga berkaitan dengan ingatan sejarah dan keadilan sosial.

Para pengkritik, termasuk dari kalangan politisi, akademisi, hingga aktivis HAM, menegaskan bahwa rekonsiliasi sejarah tidak bisa dibangun dengan melupakan luka masa lalu.

Pemerintah pun diharapkan lebih berhati-hati dalam menentukan tokoh yang akan dijadikan simbol nasional agar penghargaan tertinggi negara ini tetap memiliki nilai moral dan integritas sejarah yang kuat.

(Saepul)

Baca berita lainnya di Google News dan Whatsapp Channel
Berita Terkait
Berita Terkini
WhatsApp Image 2025-05-27 at 13.34
Persib Kembali Dongkrak Ranking Indonesia di Asia
BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Persib Bandung kembali memberikan kontribusi penting bagi sepak bola...
nobar persib vs persija
Bus Persib U-18 Diserang di Batang, Persija: Rivalitas Bukan Alasan untuk Kekerasan
BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Rivalitas Persib Bandung dan Persija Jakarta kembali menjadi sorotan setelah...
arteta
Arteta Bertahan hingga 2030, Arsenal Siapkan Era Baru Setelah Akhiri Puasa Gelar
LONDON, TEROPONGMEDIA.ID – Arsenal menunjukkan keseriusan membangun era kejayaan baru bersama Mikel Arteta....
Jorge Martin
Marc Marquez Pangkas Jarak, Terpaut Dua Poin dari Jorge Martin
MOTEGI, TEROPONGMEDIA.ID – Persaingan perebutan gelar juara dunia MotoGP 2026 semakin panas setelah Marc...
IMG-20260930-WA0004
PLN UP3 Majalaya Intensifkan Pemeliharaan Jaringan Listrik, Jaga Keandalan Pasokan bagi Pelanggan
BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Majalaya...
Berita Lainnya

1

Cegah Zoonosis, Pemkot Bandung Gelar Vaksinasi Hingga Sterilisasi Hewan Gratis di Kelurahan Ciumbuleuit
Cegah Zoonosis, Pemkot Bandung Gelar Vaksinasi Hingga Sterilisasi Hewan Peliharaan Gratis di Kelurahan Ciumbuleuit
BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian...

2

Prediksi Skor Bodo/Glimt vs Inter UCL 2025/2026
Prediksi Skor Sporting vs Bodo/Glimt Liga Champions 2025/2026, Misi Comeback Lions di Liga Champions
BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Pertandingan leg kedua babak 16 besar UEFA Champions League akan mempertemukan...

3

mengobati gigitan tomcat-1
Tips Mengobati Luka Melepuh Akibat Gigitan Tomcat, Jangan Digaruk!
BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Gigitan tomcat dapat menyebabkan kulit melepuh dan reaksi alergi pada...

4

Woodyland Eatery Bandung
Woodyland Eatery Kafe Baru di Bandung Mengusung Tema Magical Forest Rest!
BANDUNG,TEROPONGMEDIA.ID — Woodyland Eatery merupakan salah satu kafe baru yang ada di Bandung....

5

Wisata Studio Gamplong
Studio Alam Gamplong, Destinasi Perfilman Favorit di Sleman
BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Studio Alam Gamplong atau banyak yang mengenalnya dengan sebutan Studio...
Headline
Dorong Tata Kelola dan Kepastian Hukum, bank bjb Perkuat Kolaborasi dengan Kejati Banten
bank bjb Perkuat Kolaborasi dengan Kejati Banten Demi Peningkatan Tata Kelola dan Kepastian Hukum
BANTEN, TEROPONGMEDIA.ID – bank bjb memperkuat sinergi dengan Kejaksaan Tinggi Banten melalui Penandatanganan...
Ferry Paulus
Isu Panas Hak Persib Dipinjamkan LIB, Persija Layangkan Somasi
JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID – Persija Jakarta mengambil langkah hukum dengan melayangkan somasi kepada...
IMG-20260926-WA0015
Tunjukan Kartu Anggota di Rakorda PSI Kota Bandung, Jokowi: Sudah Setahun
BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Presiden Indonesia ketujuh Joko Widodo memamerkan kartu anggota Partai Solidaritas...
Hoaks Pemadaman Internet Tiga Hari Beredar, Masyarakat Diimbau Tak Panik
Hoaks Pemadaman Internet Tiga Hari Beredar, Masyarakat Diimbau Tak Panik
BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Informasi mengenai rencana pemadaman internet nasional selama tiga...