Gaduh Soal Tayangan Pesantren di Televisi, Ini Profil Lirboyo Kediri

Profil Lirboyo Kediri
Ponpes Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. (Dok. Lirboyo.net)
-

Tidak ada video disisipkan.

BANDUNG, TEROPONGMEDIA. ID — Baru-baru ini publik digemparkan oleh tayangan televisi yang menyinggung tradisi pesantren. Di ruang digital yang gaduh, berbagai reaksi pun bermunculan mulai dari kecaman, klarifikasi, hingga permintaan maaf.

Kasus tayangan yang menyinggung kalangan pesantren beberapa menjadi pengingat keras bagi dunia media. Dalam etika jurnalistik, ada kaidah yang kerap dilupakan yaitu memahami konteks budaya sama pentingnya dengan menyajikan fakta.

Pesantren bukan sekadar objek berita; ia adalah ekosistem nilai. Setiap gerak santri, tradisi sowan, atau kebiasaan berebut air bekas minum kiai, semuanya memiliki makna spiritual yang tidak bisa diterjemahkan dengan logika linier semata.

Pondok Pesantren Lirboyo di Kediri berdiri tegak sebagai simbol keilmuan, kesederhanaan, dan keteguhan moral.

Bukan Sekedar Pesantren

Lirboyo bukan sekadar pesantren tua, tapi saksi sejarah perjuangan bangsa. Didirikan tahun 1910 oleh KH Abdul Karim, pesantren ini lahir di tengah kondisi sosial yang keras. Kala itu, Kediri masih dikenal rawan kejahatan, dan masyarakatnya haus akan penerang rohani. Dari desa kecil itulah, Lirboyo tumbuh menjadi mercusuar ilmu dan akhlak.

Sejarah mencatat, para santri Lirboyo tak hanya duduk di depan kitab, tetapi juga turun ke medan juang saat republik ini baru berdiri. Mereka ikut melucuti tentara Jepang dan melawan pasukan Sekutu di Surabaya dalam semangat Resolusi Jihad yang dikumandangkan KH Hasyim Asy’ari.

Ratusan santri berangkat dari pesantren membawa semangat jihad mempertahankan kemerdekaan. Tidak satu pun dari mereka yang kembali sebagai pengkhianat bangsa. Semuanya kembali dengan kepala tegak, membawa kisah tentang iman yang berani.

Tradisi Perjuangan jadi Fondasi

Tradisi perjuangan itu menjadi fondasi yang terus diwariskan. Dalam setiap langkah santri, ada pesan yang bergaung dari masa lalu, yakni belajar bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi meneguhkan makna pengabdian.

Dalam perjalanannya, Lirboyo bukan hanya menjaga tradisi, tetapi juga beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan jati diri. Sejak 1925, pesantren ini telah menerapkan sistem kelas formal melalui Madrasah Hidayatul Mubtadiin, seratus tahun sebelum banyak pesantren lain mengikuti langkah serupa.

Namun, modernisasi di Lirboyo tidak berarti meninggalkan metode lama. Tradisi sorogan dan bandongan tetap dijaga sebagai jembatan spiritual antara santri dan guru.

Kini, puluhan ribu santri menimba ilmu di kompleks Lirboyo yang luas, dengan fasilitas lengkap mulai dari laboratorium bahasa hingga rumah sakit umum. Tapi ruhnya tetap sama, yakni keikhlasan, kesederhanaan, dan ta’dzim kepada guru.

Baca Juga:

Cak Imin Sebut Ada Orang Tua Santri Bersyukur Anaknya Tewas saat Salat

Purbaya Siap Renovasi Ponpes Al Khoziny, Asal Proposal Masuk Akal

Profil Pesantren Lirboyo Kediri

Dilansir lirboyo.net, Pondok Pesantren Lirboyo Kediri didirikan pada tahun 1910 Masehi oleh KH. Abdul Karim, seorang ulama asal Magelang, Jawa Tengah. Sejak awal berdirinya, pesantren ini fokus pada pendidikan agama Islam dengan sistem pembelajaran salafiyyah, yaitu menekankan pada pendalaman kitab kuning, ilmu fiqih, tauhid, hingga tasawuf.

Setelah KH. Abdul Karim wafat, pengelolaan pesantren Lirboyo diteruskan oleh kedua menantunya, yaitu KH. Marzuqi Dahlan dan KH. Mahrus Aly. Keduanya dikenal sebagai visioner dalam mengembangkan sistem pendidikan di pesantren ini.

Saat ini, Ponpes Lirboyo sudah memiliki 17 unit pesantren di bawah naungannya. Beberapa diantaranya, yaitu HM Mahrusiyyah, Salafy Terpadu Ar-Risalah, Darussalam, Darussa’adah, Al-Baqoroh, HM Lirboyo, HM Antara, dan Haji Ya’qub. Memasuki generasi ketiga, pesantren ini terus mengalami perkembangan, baik dari sisi pendidikan maupun sarana dan prasarana.

Mengutip laman NU Online, sejarah Ponpes Lirboyo Kediri juga tak lepas dari perjuangan para santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Saat kabar kemerdekaan disampaikan oleh Mayor Mahfud, kepada KH. Mahrus Aly, para santri langsung menggelar pertemuan di Masjid Pondok Lirboyo.

Pertemuan itu menghasilkan keputusan penting, yaitu melakukan pelucutan senjata terhadap tentara Jepang. Sekitar 440 santri ikut dalam penyergapan malam hari di Markas Kompitai Dai Nippon yang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari pesantren. Aksi tersebut dipimpin oleh KH. Mahrus Aly, Abdul Rakhim Pratalikrama, dan Mayor Mahfud. Bangunan markas Jepang tersebut kini menjadi Markas Brigif 16 Kodam V Brawijaya.

(usamah kustiawan)

Baca berita lainnya di Google News dan Whatsapp Channel
Berita Terkait
Berita Terkini
IMG-20260815-WA0004
Jumat Berkah PLN UP3 Majalaya, Hadirkan Semangat Berbagi di Momentum HUT ke-81 RI
WhatsApp Image 2026-08-15 at 11.52
KPU Kota Bandung Ajak Pemilih Pemula SMK Al-Hadi Jadi Pemilih Cerdas Lewat Pilketos
SAVE_20260815_081923
Memahami Aturan Pajak UMKM Terbaru: Tarif Tetap 0,5%, Berlaku Selamanya untuk Orang Pribadi
Gambar_stadion_segiri
Borneo FC Dapat Kepercayaan AFC, Samarinda Jadi Panggung Kompetisi Asia
WhatsApp Image 2026-08-14 at 12.30
Tangis Siswa Pecah di SD Kademangan, KKN UIN Bandung 203 Sorot Budaya Ejek di Kelas
Berita Lainnya

1

2

Siapa Thomas Matthew Crooks Penembak Donald Trump? Terdaftar Pemilih Partai Republik

3

Prediksi Skor Sporting vs Bodo/Glimt Liga Champions 2025/2026, Misi Comeback Lions di Liga Champions

4

Woodyland Eatery Kafe Baru di Bandung Mengusung Tema Magical Forest Rest!

5

Cegah Zoonosis, Pemkot Bandung Gelar Vaksinasi Hingga Sterilisasi Hewan Peliharaan Gratis di Kelurahan Ciumbuleuit
Headline
WhatsApp Image 2026-08-15 at 17.09
Pesta Rakyat Meriahkan Pembukaan Alun-alun Bandung pada 17 Agustus
WhatsApp Image 2026-08-14 at 15.03
Semangat Kemerdekaan Jadi Energi Kota Bandung Hadapi Berbagai Tantangan
siaran-pers-bersama-bank-bjb-x-persib-3-2
Kembali Berkolaborasi, bank bjb dan PERSIB Satukan Semangat Juara
WhatsApp Image 2026-08-13 at 17.36
Bandung Dorong Transformasi dari Smart City Menuju Data-Driven City