BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Sebuah ledakan terjadi di lapangan bermain kota Majdal Shams, Dataran Tinggi Golan pada Sabtu, (27/07/2024). Tempat ini merupakan wilayah Suriah yang telah diambil alih oleh Israel. Peristiwa tragis ini mengakibatkan kematian 12 anak dan remaja dari komunitas minoritas Druze.
Ini merupakan insiden paling mematikan di sekitar perbatasan Israel dengan Lebanon sejak meningkatnya ketegangan antara Israel dan Hizbullah. Pihak Israel mengklaim bahwa serangan tersebut dilakukan oleh kelompok militer Hizbullah menggunakan roket buatan Iran yang diluncurkan dari Lebanon. Namun, Hizbullah menyangkal tuduhan ini.
Dataran Tinggi Golan dan Komunitas Druze
Dataran Tinggi Golan adalah daerah berbatu yang terletak di barat daya Suriah, sekitar 60 km di selatan ibu kota Damaskus. Wilayah ini memanjang hingga ke timur laut Israel dan terkenal dengan tanahnya yang subur serta kebun apel, ceri, dan anggur yang tumbuh subur di tanah vulkaniknya.
Meskipun Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengakui Golan sebagai bagian dari Suriah, Israel mengambil alih wilayah seluas 1.200 km persegi ini selama Perang Timur Tengah tahun 1967. Pada 1981, Israel secara penuh menguasai Dataran Tinggi Golan, dan pemerintahan Presiden AS Donald Trump mengakui kedaulatan Israel atas wilayah tersebut pada tahun 2019.
Namun, penduduk Israel tidak diakui oleh hukum internasional, dan Suriah tetap mengklaim Golan sebagai bagian dari wilayahnya. Di kawasan tersebut, sekitar 25.000 orang Yahudi Israel tinggal di 30 permukiman. Israel menganggap Golan sebagai area strategis untuk pertahanan dan telah menjadikannya lokasi pangkalan militer serta pos penyadapan.
Komunitas Druze adalah kelompok etnis dan agama yang berbahasa Arab, mayoritas tinggal di Lebanon, Israel, Yordania, Suriah, dan Dataran Tinggi Golan. Mereka yang tinggal di Golan pada umumnya berpindah dari Suriah ke Israel sejak tahun 1967 ketika Israel menduduki wilayah tersebut.
Kota Majdal Shams adalah salah satu kota terbesar yang mayoritas penduduknya adalah Druze. Meski Israel menawarkan kewarganegaraan kepada penduduk Golan, banyak yang memilih tetap setia kepada Suriah. Sekitar 20 persen dari 21.000 orang Druze di wilayah tersebut memiliki kewarganegaraan Israel, sementara yang lain memiliki status penduduk tetapi tanpa hak untuk memilih.
Di luar Golan, terdapat 110.000 orang Druze dengan kewarganegaraan Israel penuh, yang merupakan komunitas non-Yahudi terbesar yang bertugas di Pasukan Pertahanan Israel (IDF).
Insiden di Golan
Setelah ledakan di Golan, Israel menuduh Hizbullah sebagai pelaku dengan menggunakan roket buatan Iran. Menurut pejabat keamanan Israel, serangan tersebut sebagai respons terhadap kematian empat pejuang Hizbullah akibat serangan Israel di Lebanon selatan. Namun, Hizbullah membantah keterlibatan mereka dalam serangan ini.
Ada spekulasi bahwa ledakan tersebut disebabkan oleh rudal yang meledak secara tidak sengaja, dan pecahannya mengenai para korban. Para pemimpin Druze di Lebanon, Suriah, dan Israel mengecam tindakan yang berpotensi memecah belah komunitas mereka. Mereka percaya bahwa serangan itu bukan untuk menargetkan penduduk di Golan, melainkan instalasi militer Israel di sekitarnya.
BACA JUGA: Setelah Serangan Israel ke Sekolah PBB di Gaza, Lebanon Luncurkan 150 Roket ke Gunung Meron
Selain itu, paramedis yang terlibat dalam penyelamatan korban menyatakan bahwa mereka tidak menginginkan adanya pembalasan, mengingat banyak di antara mereka yang memiliki keluarga di Lebanon, Suriah, dan Israel.
(Kaje/Budis)