BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Penanganan diabetes tipe 2 tidak lagi cukup hanya berfokus pada pengendalian kadar gula darah. Ancaman penyakit jantung dan pembuluh darah yang mengintai para penyandang diabetes kini menjadi perhatian utama kalangan medis, terutama melalui pengelolaan kolesterol jahat atau Low Density Lipoprotein Cholesterol (LDL-C) secara lebih optimal.
Komitmen tersebut menjadi sorotan dalam simposium ilmiah bertajuk “Comprehensive Lipid Management in Patients with Type 2 Diabetes” yang diselenggarakan Daewoong Pharmaceutical Indonesia pada Sabtu (27/6/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari Pertemuan Ilmiah Tahunan Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PIT PERKENI) 2026 yang berlangsung selama 26–28 Juni di Hotel Aryaduta Bandung.
Sekitar 500 tenaga medis dari seluruh Indonesia, mulai dari dokter spesialis endokrinologi, dokter penyakit dalam, residen hingga peneliti, mengikuti konferensi tersebut untuk membahas perkembangan terbaru dalam penanganan diabetes dan komplikasinya.
Dalam simposium tersebut, Daewoong menekankan bahwa pengelolaan lipid, khususnya penurunan kadar LDL-C, merupakan langkah penting dalam menurunkan risiko penyakit kardiovaskular pada pasien diabetes tipe 2.
Risiko Penyakit Jantung Masih Sangat Tinggi
Dislipidemia atau gangguan kadar lemak dalam darah merupakan kondisi yang sangat sering ditemukan pada pasien diabetes tipe 2. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya risiko serangan jantung maupun stroke.
Data World Heart Federation menunjukkan penyakit kardiovaskular menyebabkan sekitar 765.660 kematian di Indonesia sepanjang 2021, menjadikannya salah satu penyebab kematian terbesar di Tanah Air.
Sementara itu, studi registry multisenter yang dipublikasikan dalam Indonesian Journal of Cardiology tahun 2025 mengungkapkan bahwa pencapaian target kolesterol pada pasien berisiko tinggi masih jauh dari ideal. Hanya 4,9 persen pasien yang berhasil mencapai target LDL-C di bawah 55 mg/dL, sedangkan 21,2 persen berhasil mencapai target di bawah 70 mg/dL.
Temuan tersebut menunjukkan masih besarnya tantangan dalam pengendalian faktor risiko penyakit jantung pada pasien diabetes di Indonesia.
Mayoritas Pasien Diabetes Mengalami Dislipidemia
Penelitian lain yang dipublikasikan dalam Current Internal Medicine Research and Practice Surabaya Journal tahun 2025 semakin memperkuat fakta tersebut.
Dari 100 pasien diabetes tipe 2 yang diteliti, sebanyak 74 persen diketahui mengalami dislipidemia. Bahkan pada kelompok pasien yang juga menderita penyakit jantung koroner, angka dislipidemia meningkat menjadi 85 persen.
Data ini memperlihatkan bahwa pengelolaan diabetes harus dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya mengontrol gula darah tetapi juga memperhatikan profil lemak darah.
Pendekatan Terapi Semakin Presisi
Dalam praktik klinis, tidak semua pasien dengan kadar LDL-C yang sama memiliki tingkat risiko penyakit jantung yang identik.
Resistensi insulin yang terjadi pada diabetes tipe 2 dapat menghasilkan partikel LDL berukuran kecil dan padat (small dense LDL) yang lebih mudah menembus dinding pembuluh darah dan mempercepat pembentukan plak.
Karena itu, panduan internasional terbaru mulai mengedepankan pendekatan yang lebih presisi.
Panduan ACC/AHA 2026 merekomendasikan pemeriksaan kolesterol non-HDL dan Apolipoprotein B (ApoB) sebagai indikator tambahan dalam menilai risiko kardiovaskular residual pada pasien diabetes tipe 2 maupun penderita cardiovascular-kidney-metabolic (CKM) syndrome.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu membantu dokter menentukan strategi terapi yang lebih tepat sesuai profil risiko masing-masing pasien.
Terapi Kombinasi Dinilai Lebih Efektif
Pada simposium tersebut, Daewoong juga memperkenalkan terapi kombinasi ezetimibe/rosuvastatin sebagai salah satu pilihan terapi bagi pasien yang belum berhasil mencapai target LDL-C melalui penggunaan satu jenis obat saja.
Kombinasi ini bekerja melalui dua mekanisme sekaligus, yakni menghambat pembentukan kolesterol di hati sekaligus mengurangi penyerapan kolesterol di usus.
Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo, Sp.PD-KEMD, FINASIM, FACE dari Eka Hospital BSD dan SS Diabetic Care menjelaskan bahwa pasien diabetes tipe 2 di Indonesia umumnya memiliki berbagai faktor risiko penyakit kardiovaskular.
“Dalam praktik klinis di Indonesia, pasien diabetes tipe 2 sering kali memiliki berbagai faktor risiko kardiovaskular, sehingga penurunan LDL-C menjadi salah satu prioritas terapi yang penting,” ujarnya.
Menurutnya, strategi pengobatan perlu dioptimalkan berdasarkan tingkat risiko masing-masing pasien agar target LDL-C dapat dicapai lebih cepat.
Hal ini juga sejalan dengan rekomendasi terbaru ESC/EAS 2025 Focused Update maupun ACC/AHA Guideline 2026 yang mendorong terapi penurun lipid berbasis bukti dilakukan lebih dini dan lebih intensif.
Semakin cepat kadar LDL-C diturunkan dan dipertahankan dalam jangka panjang, semakin besar peluang menurunkan risiko penyakit jantung sepanjang hidup pasien.
Kolaborasi Indonesia-Korea Perkuat Pengembangan Terapi
Sebagai pembicara internasional, Prof. Da Hea Seo dari Division of Endocrinology, Inha University Hospital, Korea Selatan, menekankan pentingnya pendekatan komprehensif dalam menangani dislipidemia pada pasien diabetes tipe 2.
Menurutnya, terapi kombinasi yang menargetkan sintesis sekaligus penyerapan kolesterol dapat menjadi solusi bagi pasien yang belum mencapai target terapi menggunakan monoterapi.
Sementara itu, CEO Daewoong Pharmaceutical, Seong-soo Park, mengatakan selama dua dekade terakhir perusahaan telah membangun hubungan yang erat dengan komunitas medis Indonesia.
Ia menegaskan Daewoong akan terus menghadirkan solusi terapi inovatif bagi pasien penyakit kronis sekaligus memperkuat kualitas layanan kesehatan nasional.
Ke depan, perusahaan juga berencana mendorong penelitian bersama berbasis data klinis pasien Indonesia untuk menghasilkan bukti ilmiah yang lebih relevan bagi populasi Asia.
Selain itu, kerja sama antara tenaga medis Indonesia dan Korea Selatan akan terus diperkuat guna mempercepat transfer pengetahuan, inovasi terapi, dan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat Indonesia.











