DENPASAR, TEROPONGMEDIA.ID – Curah hujan tinggi yang mengguyur Kota Denpasar dan sekitarnya sejak Kamis (8/1) pagi menyebabkan banjir di sejumlah titik wilayah ibu kota Provinsi Bali. Genangan air terjadi akibat hujan deras yang berlangsung berjam-jam hingga siang hari.
Berdasarkan Laporan BPBD Kota Denpasar, sejumlah ruas jalan utama terendam banjir. Salah satu titik terparah berada di Jalan Bumiayu, Sanur, Kecamatan Denpasar Selatan. Selain Sanur, wilayah lain yang terdampak meliputi Renon, Sumerta Kelod, Dauh Puri Kauh, Dauh Puri Klod, Serangan, hingga Panjer.
Kepala Unit Pengendalian Darurat Pusat Pengendalian Operasi (KAUPD Pusdalops) BPBD Kota Denpasar, Made Antara, mengungkapkan genangan air terjadi di Renon, tepatnya di Jalan Raya Puputan, Jalan Tantular, Jalan Tukad Bilok, dan Jalan Tukad Balian. Di wilayah Sumerta Kelod, banjir menggenangi Jalan Merdeka dan Jalan Juanda Karta Wijaya.
Sementara itu, genangan juga dilaporkan di Jalan Pulau Misol, Dauh Puri Kauh, serta Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Pulau Buton di Dauh Puri Klod. Wilayah Serangan dan Panjer turut terdampak, khususnya di Jalan Tukad Irawati dan Jalan Tukad Pancoran.
Di Jalan Tukad Irawati, Panjer, air bahkan masuk ke dalam rumah warga karena posisi bangunan lebih rendah dibandingkan badan jalan. Kondisi serupa juga terjadi di kawasan Sanur yang dikenal sebagai daerah langganan banjir.
Menurut warga Sanur sekaligus anggota tim teknis BPBD Provinsi Bali, Made Adnyana, kawasan tersebut merupakan daerah resapan air yang dulunya berupa sawah, sehingga memiliki kontur tanah rendah.
“Sanur memang paling parah. Ini daerah resapan, dulu sawah. Kalau hujan deras bersamaan dengan air laut pasang, airnya lama surut,” jelasnya.
Selain permukiman warga, sektor pariwisata turut terdampak. Sejumlah usaha akomodasi di kawasan Sanur mengalami kendala operasional akibat genangan air yang menghambat mobilitas.
Baca Juga:
Bali Tetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Banjir
Salah satu staf hotel di Sanur, Santi, mengungkapkan kendaraan tidak bisa masuk ke area penginapan saat banjir terjadi. Akibatnya, barang harus dipindahkan secara manual.
“Mobil enggak bisa masuk, jadi barang diangkat manual. Ada yang pakai sepeda gayung, ada juga yang harus gotong royong. Risiko konsleting listrik juga ada, terutama dari lampu taman,” ujarnya.
Meski demikian, ia menyebut banjir kali ini relatif lebih cepat surut. “Sekarang satu sampai tiga jam sudah surut, paling setengah hari. Dulu bisa sampai dua setengah hari, damkar bolak-balik,” tambahnya. Namun, keluhan dari tamu hotel, khususnya wisatawan asing, tetap tak terhindarkan.
Berdasarkan pantauan hingga pukul 11.20 WITA, Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kota Denpasar bersama Pemadam Kebakaran telah diterjunkan ke lokasi terdampak. Langkah cepat yang dilakukan yakni penyedotan air dan pembuangan ke area Pantai Karang.
Penyedotan dilakukan setelah hujan reda dan air laut surut guna mencegah genangan kembali mengalir ke kawasan cekungan atau wilayah dengan elevasi rendah.